Sudah jadi rahasia umum kalau di negara yang budaya patriaki dan agamanya kuat seperti Indonesia ini masih banyak yang berpemahaman bahwa kesuksesan perempuan adalah ketika ia mampu mengurus suaminya dengan baik sesudah menikah dan mampu memiliki keturunan. Sebaik apapun prestasi atau karirnya, jika perempuan tersebut belum menikah atau setelah menikah tidak bisa memiliki anak maka orang tidak akan segan mengolok-oloknya.

Contoh saja Ira Koesno yang beberapa bulan lalu menjadi moderator debat perdana Calon Gubernur serta Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta. Beberapa hari sesudahnya, media sosial saya tiba-tiba saja penuh dengan kiriman berisi tangkapan layar komentar orang-orang mengenai Ira Koesno yang masih lajang di usia 47 tahun. Padahal kiriman yang dikomentari tersebut membicarakan prestasi yang telah dicapai Ira dalam hidupnya, namun malah ditanggapi dengan makian hanya karena ia masih lajang.

Ada yang menganggapnya sudah berdosa karena tidak menjalankan perintah agama, berkata bahwa seluruh karirnya sia-sia apabila tidak memiliki suami dan bahkan tidak sedikit yang mempertanyakan keperawanannya.

Menyadari pola pikir masyarakat yang masih menilai perempuan demikian, saya menjadi khawatir karena di usia saya yang masih 18 tahun saya merupakan perempuan yang sedang mencoba meniti karir sedini mungkin. Bukan hanya opini masyarakat yang saya takutkan, tapi juga tuntutan keluarga.

Kita sama-sama tahu bagaimana kebanyakan keluarga Indonesia memperlakukan anak-anaknya, akan tiba waktu di mana sang anak dianggap sudah perlu memiliki pasangan hidup dan kemudian dimintai untuk segera menikah. Selain karena ingin memiliki cucu sebagai tanda mereka sudah mencapai tahap hidup yang lebih lanjut, terkhusus orang tua dari pihak perempuan akan merasa bahwa anaknya tidak hanya telah menjalankan perintah agama tapi juga akan terhindar dari cibiran masyarakat.

Beberapa orangtua bahkan melakukan perjodohan. Padahal di balik itu semua, ada perempuan yang harus mengorbankan karirnya untuk menjadi ibu rumah tangga atau mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan saya sangat takut hal tersebut akan terjadi karena masih banyak kontribusi yang ingin saya berikan bagi negara ini.

Meski saya berasal dari keluarga yang pemikirannya cukup terbuka, saya rasa hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa mereka juga akan menuntut saya untuk menikah dan memiliki keturunan suatu hari nanti. Hingga pada suatu saat, saya dengan iseng melontarkan lelucon dengan meniru gaya sebuah iklan produk kecantikan.

“Nikah, atau Doktoral?” saya sengaja menyebut tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada yang ada di iklan karena orang yang melaksanakan program doktoral tentunya tidak dalam usia muda lagi, apalagi perempuan yang semakin mendekati masa menopause.

“Doktoral, lah!” Sahut ibu saya yang saat itu duduk di samping saya. “Kalau lanjut jadi profesor, terus gak nikah-nikah gimana?” tanya saya lagi. “Ya gak apa-apa! Semakin tinggi pendidikan, semakin banyak uang nya hahaha” jawab ibu saya lagi ditambah sedikit guyonan.

Sejak saat itu saya mengetahui bahwa orang tua saya, terutama ibu tidak mewajibkan saya untuk menikah, apalagi memiliki anak. Seorang Ratu tanpa Raja dan Pangeran atau Putri tetaplah Ratu, wanita yang sukses tanpa pendamping hidup tetaplah seorang wanita sukses. Mereka memberikan otoritas hidup sepenuhnya pada saya.

Saya juga sadar, jika saya sibuk maka waktu untuk meladeni cibiran itu tidak akan ada. Memang saya beruntung bisa terlahir di keluarga seperti ini, sedangkan di luar sana masih banyak perempuan yang harus menuruti tuntutan orang tua dan melupakan kesenangan dirinya sendiri.

Menurut saya, jika seorang perempuan bersedia meninggalkan karir untuk menikah atau dijodohi tanpa rasa terpaksa maka hal tersebut tidaklah salah karena memilih untuk menikah juga merupakan hak, yang salah itu adalah ketika sang perempuan harus rela kehilangan hak nya demi memenuhi nafsu masyarakat patriakis yang tidak menyukai perempuan menjadi mandiri dan berdaulat.

Hal tersebut hanya bisa dihentikan dengan melawan. Karena seandainya manusia selalu puas maka sampai sekarang mungkin kita masih tinggal di dalam gua sebab semuanya merasa nyaman dengan keadaan tersebut tapi dengan adanya orang-orang yang merasa tidak puas, perubahan bisa terjadi. Soal dosa? Cukup Tuhan yang menilai karena dosa adalah milik pribadi, bukan milik bersama.