Di minggu-minggu awal puasa ini dunia maya di Indonesia dikejutkan dengan adanya penggalangan dana oleh sejumlah netizen untuk seorang ibu paruh bayu bernama Saeni. Saya pun ketika membaca secara tak sengaja berpikir kalau ibu ini mungkin mengalami suatu penyakit atau musibah, sehingga netizen pun berbondong-bondong memberikan bantuan.

Atau, pikiran gila saya tiba-tiba muncul (saya sering menyebut diri sendiri dosen gila karena sering mengeluarkan spekulasi-spekulasi atau pandangan-pandangan gila di kelas tentang politik atau hubungan internasional) bahwa ibu ini sedang bersiap “nyalon” jadi kepala daerah atau “nyaleg” (walaupun masih kepagian karena 2019 masih 3 tahun lagi). Karena itulah beliau meminta netizen untuk menggalang dana untuknya.

Dana yang terkumpul lumayan besar, sampai tulisan gila ini ditulis, sudah hampir 200 juta. Akan tetapi, saya tak yakin karena saat melihat sosok sang ibu di layar kaca ternyata ibu ini saya rasa masih punya hati nurani untuk tidak mau masuk dunia politik.

Alhasil, ternyata memang saya gila. Tidak mungkin ibu sebaik ini tergoda untuk berpolitik. Ibu Saeni ini ternyata memang memiliki wajah yang sangat polos. Beliau malah mengaku tidak pernah sekolah, sehingga tidak bisa baca. Nah, karena tidak bisa baca itulah akhirnya ibu ini menjadi trending topic dunia. Dunia dalam berita paling tidak.

Mengapa ibu ini bisa jadi trending topic karena tidak bisa baca? Padahal, kalau mau jujur banyak politisi yang tidak bisa baca. Ternyata berbeda, ibu Saeni memang benar-benar tidak bisa baca, sedangkan para politisi yang sering juga mewarnai trending topic di Indonesia itu tidak bisa baca hati rakyat, sehingga kebijakan yang ditelurkan pun sering salah oper. Akibatnya, gol bunuh diri!

Kembali ke ibu Saeni, beliau yang tidak bisa baca tentunya tidak paham edaran atau selebaran yang disosialisasikan, termasuk ditempel di tempat umum, oleh Pemkot Serang. Apa isinya? Selebaran dan edaran tersebut intinya mengatakan kalau selama bulan puasa, para pedagang makanan atau minuman yang biasa berjualan di seluruh kota Serang tidak diizinkan menjajakan barang jualannya.

Apa hubungannya dengan ibu Saeni? Ibu yang saya salah artikan sebagai calon kepala daerah atau caleg ini, ternyata berprofesi sebagai penjual makanan di warteg miliknya di Kota Serang.

Bicara warung tegal, tempat ini sangat berjasa bagi saya pribadi. Saya bisa menjadi dosen (sekalipun gila tadi ya) adalah berkat warteg. Selama jadi mahasiswa S1, S2, karyawan kantoran sebentar, sampai jadi dosen, hobi saya adalah makan di warteg.

Ada alasan fenomenal di balik itu, yaitu makan di warteg terkenal dengan teori balance of power, yang di kelas sering saya bahas sebagai salah satu konsep dalam hubungan internasional. Lalu, apa hubungannya materi kelas dengan warteg? Ada pastinya.

Pikiran gila saya muncul lagi, selama hidup saya yang hampir 32 tahun ini ternyata power (kekuatan) finansial saya jarang mengalami surplus. Akibatnya, untuk menyeimbangkan (balance) neraca keuangan dompet saya, maka saya harus makan di warteg yang semua orang tahu, pastilah murah meriah harganya.

Atas dasar survival of the fittest itulah, akhirnya saya memilih untuk makan di warteg. Toh, sekarang saya bisa jadi dosen juga. Profesi yang selalu dapat nilai plus di mata mertua. Sayangnya, tidak di mata istri. Tahulah kenapa alasannya. Balance of power lagi.

Satu lagi soal warteg, makanan yang enak bagi saya adalah makanan yang murah (yang bisa diakuisisi di warteg), dan makanan yang paling enak adalah yang gratisan (saat kampus mengadakan buka puasa bersama, atau hari-hari gratisan lainnya).

Nah, setelah semua orang tahu pengalaman saya dengan warteg, maka saya harap tidak ada yang mengkritik saya (seperti mahasiswa di kelas) ketika saya menulis tentang masalah warteg ibu Saeni ini. Saya berhak dan wajib komentar karena saya dibesarkan (perutnya) oleh makanan-makanan yang diproduksi di warteg.

Teori-teori hubungan internasional, militer, pertahanan, dan politik dikeluarkan dari mulut yang sebelumnya dilewati juga oleh asupan gizi dari warteg-warteg yang saya kunjungi. Jadi, ketika saya melihat kondisi ibu Saeni yang dirazia oleh satpol PP Kota Serang karena tidak mengindahkan (ya memang tidak indah) surat edaran dan selebaran Pemkot Serang, dan beliau tetap memutuskan untuk berjualan, hati nurani saya, yang bukan milik partainya pak Wiranto, mengamuk!

Saya mengamuk karena dua hal. Pertama, jelas karena saya pencinta warteg. Sekali lagi, saya dibesarkan (perutnya) oleh warteg. Jika ada apa-apa dengan tempat favorit saya ini, jari jemari saya terpancing untuk menulis opini tentang ini (walaupun bukan seperti biasa, saat saya menulis opini dengan bahasa formal).

Kedua, kok bisa-bisanya ibu Saeni, yang tidak ada tampang begal atau koruptor, diperlakukan dengan seenaknya oleh para aparat, hanya karena beliau berjualan di bulan puasa. Air mata saya jatuh ketika melihat reaksi dan mimik muka ibu Saeni di televisi ketika satpom PP memintanya tutup dan membungkus semua makanan yang beliau sudah masak capek-capek dari pagi, untuk dijadikan barang bukti.

Mending kalau dibayar. Karena kalau saya bungkus makanan dari warteg pasti bayar setelahnya. Nah, ini tidak dibayar. Yang ada, mungkin makanan-makanan sitaan itu dibuang, dan setidaknya, pastilah akan menjadi basi dan ujung-ujungnya mubazir. Daripada begitu mending dikasihkan orang lewat di jam buka puasa nanti. Itung-itung amalan di bulan baik ini.

Saya pun bertanya-tanya, walau tidak tahu harus tanya siapa karena saya tidak kenal Walikota Serang, pihak yang mengeluarkan aturan tidak boleh berjualan di bulan puasa. Pertanyaan saya adalah, mengapa bangsa yang dikenal toleran ini sekarang berubah menjadi judgmental? Mengapa bangsa yang dikenal berbeda-beda tapi tetap satu, ada oknumnya yang menghukum seorang ibu yang hanya ingin berjualan makanan demi mendapat pemasukan untuk bertahan hidup?

Sejak kecil saya dibesarkan oleh seorang ayah dan nenek (eyang) yang Muslim dan ibu serta nenek (oma) yang Kristiani. Orang tua saya menikah beda agama dulu. Satu hal yang sangat saya syukuri karena saya bisa menjadi “Indonesia” dalam arti sebenarnya.

Ketika Natal, ayah selalu mengantar kami ke gereja dan ketika Lebaran kami menginap, bahkan dari malam takbiran, di rumah eyang, dan esoknya “blusukan” ke rumah saudara-saudara yang Muslim. Saat Lebaran, ibu sering mendapat opor ayam dan ketupat dari tetangga yang berlebaran, dan ketika Natalan, ibu bikin kue yang lezat yang dibagikan kepada tetangga-tetangga saya yang banyak mau mudik. Sebagai bekal di jalan katanya.

Ayah dan eyang pun akhirnya tidak protes ketika saya memutuskan untuk ikut ibu. Malah sering ketika saya main ke rumah eyang di bulan puasa, eyang tetap membuatkan teh manis kesukaan saya, sekalipun beliau sedang berpuasa. Saya pun meminumnya diam-diam, di sudut kamar, sehingga eyang tidak melihatnya. Sekalipun beliau melihatnya, eyang tidak pernah tergoda.

Sampai akhir hayatnya, eyang tetap rutin berpuasa sekalipun usianya sudah kepala 7 menjelang kepergiannya. Sebuah contoh prinsip kemanusiaan yang dipraktekkan di tingkatan terendah, bukan sok bersikap kemanusiaan agar diliput media dan demi pencitraan politik semata.

Saya dibesarkan dengan kebiasaan toleransi yang lebay. Mengapa lebay, karena kami tidak pernah sama sekali menyinggung kepercayaan kami. Yang ada, kami menghormati orang-orang yang berbeda, karena tanpa perbedaan maka kami pun tidak akan pernah ada.

Mengutip idiom di dunia filsafat, “aku berpikir karena itu aku ada”, kalau buat kami, “kami berbeda, karena itu kami ada”. Perbedaan tidak dilihat sebagai sebuah hal yang mengancam, sebaliknya perbedaan itu menyatukan. Contohnya, negara yang sudah 70 tahun merdeka ini.

Berangkat dari childhood experience seperti itulah saya mengenal Islam. Orang-orang Muslim yang saya kenal sangat menghargai perbedaan, bahkan mereka mengajarkan saya apa itu menjadi berbeda. Jadi, kembali ke soal warteg ibu Saeni, saya kok heran dengan orang-orang yang menutup warteg beliau hanya karena beliau berjualan di bulan puasa.

Pemahaman saya yang sangat sederhana tentang Islam, bahwa agama ini mengajarkan toleransi yang luar biasa. Saya tidak bisa memberi contoh besar yang sifatnya mendunia, saya hanya punya contoh kecil, yaitu apa yang terjadi dengan keluarga saya. Makanya, saya heran kok bisa-bisanya ada pihak yang melarang ibu Saeni berjualan.

Entah ini pikiran gila atau tidak, kalau orang berpuasa dengan niat yang tulus, maka Tuhanlah yang memampukan dirinya untuk kuat tidak makan dan minum, termasuk menahan segala godaan yang ada. Mau ada orang makan atau minum di depannya, orang tersebut tidak akan tergoda, karena memiliki iman yang kuat yang ada di dalam dirinya.

Saya senang sekali dengan komentar KH Quraish Syihab yang saya tonton di TV, di mana anak beliau adalah jurnalis, sekaligus host talkshow terkemuka di TV tersebut. Ketika diwawancarai, beliau berkata kalau beliau melihat orang makan atau minum, beliau tidak akan tergoda untuk membatalkan puasa. Mengapa? Karena beliau punya perisai di dalam dirinya. Menurut saya, perisai itu adalah iman beliau yang sangat kuat, sehingga mampu mehanan godaan apa pun.

Saya juga pernah dengar kalau dalam Islam, anak-anak, orang sakit, ibu hamil, wanita yang sedang datang bulan, dan lansia tidak diwajibkan berpuasa. Jika semua tempat makanan ditutup, bagaimana nasib mereka di Kota Serang? Apakah mereka harus menunggu buka puasa dulu? Bagaimana juga dengan penganut agama lain yang tidak berpuasa?

Saya tidak yakin ada ajaran Islam yang mengajarkan intoleransi. Begitu pun dengan agama-agama lain, yang saya yakin para penganutnya tidak akan makan atau minum sambil jalan-jalan di tempat umum saat bulan puasa. Bangsa ini sudah menunjukkan kemanusiaannya jauh sebelum ada konsep politik bernama “Indonesia”.

Terakhir, saya kembali ingin berpikir gila, mungkin Tuhan ingin menaikkan harkat, martabat, dan derajat ibu Saeni di dunia ini. Sejak kasus ini muncul, ibu Saeni yang semula bukan siapa-siapa, sekarang banyak mendapat simpati (termasuk bantuan dana tadi), tidak hanya netizen, tetapi saya pikir seluruh masyarakat Indonesia. Tuhan ingin menunjukkan kepada Indonesia kalau ibu ini adalah hamba-Nya yang taat.

Ibu Saeni pun saya yakini juga berpuasa, tetapi beliau tidak tergoda untuk mencicipi sedikit makanan yang dimasaknya sendiri. Beliau ingin masakannya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memang sedang tidak berpuasa (atas alasan apa pun), di saat mungkin orang-orang tersebut kesulitan mendapatkan tempat makan yang buka. Bisa dibayangkan jika orang sakit, lansia, atau ibu hamil tidak mendapat makanan atau minuman yang diperlukan, apa yang akan terjadi dengan mereka.

Saya menganggap ibu Saeni sebagai seorang pahlawan kemanusiaan, karena beliau tetap berjualan di tengah bulan puasa, untuk mengakomodir kepentingan orang-orang yang membutuhkan. Di saat semua orang mulai tidak menoleh lagi, ibu Saeni masih berpikir untuk menyebarkan kebaikan dan amal sholeh kepada sekelilingnya.

Tuhan, saya yakin, sangat memuliakan hamba-hamba-Nya yang seperti ini, karena itulah ibu Saeni mengalami “cobaan” seperti ini. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan orang. Ia tetap memberikan matahari, hujan, dan oksigen bagi semua orang, jahat atau baik.

Mari, kita semua meniru apa yang dilakukan ibu Saeni, yaitu dengan menjadi pahlawan kemanusiaan di bidang kita masing-masing. Saya yakin Tuhan pasti akan mengubah nasib bangsa ini, karena Ia tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Ibu Saeni sudah melakukannya, tinggal kita (termasuk saya juga!)

#LombaEsaiKemanusiaan