Aku tidak begitu yakin bahwa wanita kuat itu adalah ibuku. Setiap kali aku tanya kepada ayah tentang ibu, ayah selalu teguh mengatakan ibu baru menginap di rumah kakekku. Aku tak begitu faham apa yang sesungguhnya terjadi pada ibuku.

Aku rindu kehadiran ibu. Lama sekali ibu tidak pulang ke rumah. Pernah sekali ibu pulang dengan sekujur badan yang bengkak dan tetangga pun turut serta mengikuti ibuku. Ah, aku semakin tak faham dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada ibuku.

Ayah selalu meyakinkanku bahwa ibu sehat selalu dan ayah juga melarangku menginap di rumah kakek bersama ibu. Aku hanya bisa terdiam di rumah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ayah selalu mengingatkan bahwa usiaku sudah menjelang baligh. Aku harus mulai rajin beribadah dan harus bisa merawat adikku yang masih berumur kurang dari 2 tahun. Ayah bilang doakan selalu ayah dan ibu!

***

Banyak pertanyaan yang mendesak di pikiranku. Aku melihat kerumunan tetangga seperti membicarakan ibuku. Apa yang salah dengan ibuku? Mengapa mereka membicarakan ibu? Aku semakin penasaran dengan kerumunan tetangga itu dan aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi.

Sebenarnya dulu ketika ibu masih tinggal di rumah bersamaku, tetanggaku selalu bersifat baik kepada ibuku. Namun, setelah ibuku menginap di rumah kakek, tetanggaku berubah, mereka mulai mencibir ibuku.

Aku berusaha keras untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun, ketika aku tanya satu per satu, tetanggaku tak ada yang mau meresponku.

Aku ingat waktu itu hanya bibiku yang selalu menemaniku selama ibuku di rumah kakek. Tetapi bibi juga menutup rapat informasi tentang ibuku. Aku kecewa, mengapa bibi lebih memilih diam daripada memberitahuku.

Lama-lama aku tau, alasan bibi tidak memberitahuku. Aku pernah bertanya kepada bibi mengapa tidak memberitahuku dari dulu? Bibi tampak terharu dan mengatakan bahwa aku tidak boleh terbebani dengan kondisi ibuku dan harus tetap sungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

***

Aku baru tau bahwa ibu sedang dirawat di sebuah rumah sakit. Hampir satu bulan ibu dirawat di sana. Dan aku pun juga belum tahu penyakit apa yang ada pada ibu. Suatu ketika aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ayah tentang kondisi ibu.

Seketika ayah memelukku erat dan meneteskan air matanya di pundakku. Cukup lama ayah memelukku, setelah itu ayah mulai bercerita tentang penyakit ibu. Aku menangis mendengarnya, begitu pula dengan ayah.

Ayah mengatakan ibuku terkena penyakit jantung dan salah satu katup jantungnya harus diganti dalam waktu yang dekat apabila tidak segera diganti maka bisa berakibat fatal. Aku tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana, yang aku bisa saat itu hanya menangis dalam dekapan ayah.

Ayah meminta izin kepadaku untuk menjual sebagian harta yang dimilikinya untuk biaya operasi ibu. Aku hanya bisa mengiyakan perkataan ayahku. Aku hanya ingin melihat ibuku kembali lagi ke rumah bersamaku.

***

Namun, Tuhan berkehendak lain, ibuku mendapat bantuan dana sebesar 100 juta untuk keperluan operasi dari pemerintah. Aku sedikit bersyukur mendengar kabar baik itu. Karena aku yakin harta ayahku pun ketika dijual semua tidak akan mendapatkan uang yang sebesar itu.

Seminggu telah berlalu semenjak mendapat kabar itu, ibuku sudah mendapatkan jadwal operasi dan tinggal menunggu panggilan ke ruang operasi.

Operasi telah dilaksanakan, ibuku menjalani masa pemulihan. Namun di masa pemulihan itu, terjadi kejadian aneh pada ibuku. Jahitan di dada akibat operasi jantungnya tiba-tiba terbuka. Dokter spesialis datang untuk menangani masalah itu. Dan dokter bilang bahwa ini terjadi karena ada orang yang baru melahirkan dalam satu ruangan bersama ibuku.

Lantas, ibuku kembali lagi memasuki ruang operasi untuk kedua kalinya. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan dari kejauhan. Semoga ibuku kembali sehat seperti semula.

***

Hampir dua bulan ayah dan ibuku berada di rumah sakit. Saat itu aku banyak menerima ejekan dari teman-temanku. Hal itu dikarenakan sepatu dan tasku yang sudah tidak layak pakai. Aku hanya bisa diam dan menangis ketika sesampainya di rumah.

Aku tidak berani berterusterang kepada ayahku. Sekedar minta uang jajan pun aku tidak berani, apalagi minta sepatu dan tas yang baru. Aku takut ayah tambah terbebani dengan keadaanku.

Ayah seperti mengerti apa yang aku alami. Tanpa sepengetahuanku, ayahku menitipkan sepatu dan tas baru kepada bibiku ketika bibi menjenguk ibu. Aku seperti hampir menangis ketika mendengar kabar itu, begitu besar kasih sayang ayah dan ibu kepadaku.

***

Tepat dua bulan ayah dan ibuku meninggalkanku di rumah sakit. Dan mereka belum juga kembali ke rumah. Apakah penyakit ibu tambah parah? Pikiran burukku mulai berkeliaran. Ah, pasti ibu sebentar lagi pulang ke rumah.

Dua hari kemudian, datang sebuah mobil tepat di depan rumahku. Aku tidak tahu siapa yang ada di dalam mobil itu. Aku hanya berdiri di depan pintu sembari berharap ibuku segera kembali.

Dari seberang terlihat seorang laki-laki keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil itu. Aku terkejut ketika melihat ayah dan ibuku sudah berada di depan rumah. Senang bukan main kala melihat mereka berdua .

Aku menghampiri ibu dan kupeluk erat. Aku menangis dan bertanya kepada ibu, mengapa ibu begitu tega meninggalkanku selama dua bulan? Ibu dengan penuh haru menjawab kalau bukan karena aku dan adikku, mungkin ibu tidak akan pernah melakukan hal ini. Ini semua ibu lakukan karena ibu ingin melihatku bahagia. Ibu tidak ingin melihatku menjadi anak yatim sebagaimana ibu dulu ketika nenekku meninggal.

Meskipun kini hidup ibu masih harus bergantung dengan obat. Namun aku tetap bersyukur karena masih memiliki ibu.

Dari sepenggal cerita di atas, kita bisa belajar bahwa kasih sayang seorang ibu itu laksana udara. Kasih sayangnya akan senantiasa kita rasakan dan pengorbanannya tidak akan pernah terhenti meskipun halang rintang menghadang.

Selamat menyambut Hari Ibu!.

We love you mom!.