Fajar baru saja menyingsing dari ufuk timur. Para petani  bersiap berangkat ke ladang segera setelah menengguk habis kopi di gelas mereka. Tap Kati, emaknya Sofyan sudah mengomel saja sejak pagi tadi. Mulutnya tidak berhenti bicara sambil tangannya terus bekerja menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.

Perilaku Kati yang demikian, muncul setelah Sofyan genap memasuki usianya yang ke-30. Anak laki-laki semata wayangnya itu tak kunjung juga menikah. Entah apa alasannya, setiap perempuan yang dikenalkan oleh kedua orangtuanya tak pernah cocok di hati Sofyan.

Sofyan bukan tidak mau menikah. Ia juga tidak berniat untuk menunda pernikahanya. Toh, semua cita-cita yang ingin ia capai selama masa bujang hampir semuanya telah terpenuhi :  lulus dari perguruan tinggi, dan bekerja di salah satu perusahaan ternama di kotanya. Gaji yang ia dapatkan juga sangat cukup jika harus menghidupi seorang istri dan anak-anak yang akan lahir dari istri tersebut. Tapi hati memang tak bisa ditawar.

Semua perempuan yang pernah dikenalkan ibunya baik lewat foto ataupun bertemu secara langsung, tidak pernah benar-benar membuatnya tertarik. Bahkan, Sofyan sering tidak menghargai usaha ibunya itu dengan diam tak memberi komentar apapun.

Sofyan pernah mencoba menjalin komunikasi dengan perempuan-perempuan yang pernah ia sukai semasa sekolah menengah dulu. Sebagian ada yang membalas dan mengajak bercengkrama, namun tidak sedikit yang membalasnya dengan sinis. Memang selalu saja begitu. Perempuan yang ia suka, tidak menyukainya, tapi perempuan yang tak ia suka justru menyukainya.

Sofyan sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk soal perempuan. Ia tidak mengharapkan perempuan yang sempurna secara lahir dan batin : cantik, baik, sholehah, cerdas atau kriteria-kriteria ideal yang banyak didambakan laki-laki pada umumnya. 

Ia hanya ingin perempuan yang mampu membuat hatinya bergetar ketika melihatnya, damai ketika mendengar suaranya, dan hangat ketika berada di dekatnya. Mungkin begitulah definisi cinta bagi Sofyan. Sesuatu yang dulu pernah ia rasakan kepada seorang perempuan bernama Rana. Tentu sebelum perempuan itu akhirnya memilih menikah dengan sahabatnya sendiri.

Sofyan duduk mengahadap ke bapaknya di meja makan. Ibunya duduk di samping kirinya. Tidak ada pembicaraan apapun begitu emaknya selesai mengomel. Semua khusuk menyantap makanan di piringnya masing-masing. Dan lekas setelah isi piring itu habis, ketiganya akan pergi ke tempat kerjanya masing-masing. Sofyan pergi ke kantor, Bapaknya pergi ke toko bangunan miliknya, dan ibunya pergi ke Paud tempat ia setiap hari mengajar.

***

Sebelum bapak dan kakaknya bangun, Indah sudah sibuk bekerja di dapur. Mencuci piring sisa makan malam, menanak nasi, menyapu rumah, dan mengisi bak mandi. Indah adalah perempuan yang sangat berharga bagi kedua orang tuanya. Selain perangainya yang baik, ia juga memiliki paras yang cantik mempesona. Cantik seindah namanya.

Tapi, meskipun memenuhi sebagian besar kriteria calon istri idaman, toh Indah tetap saja seorang perempuan berusia matang yang masih sendiri. Bulan depan, usianya genap 27 tahun. Meskipun wajahnya terlihat jauh lebih muda dari pada umurnya, tapi capaian akademik yang ia raih selama ini membuat banyak laki-laki segan untuk meminangnya.

Ketika dulu usianya baru belasan tahun, banyak sekali karib ayahnya yang datang ke rumah. Menawarkan anak-anak mereka untuk dipertunangkan dengan Indah. Tapi jawaban Indah selalu tidak. Ia baru saja masuk di fakultas ekonomi. Baru merasakan nikmatnya belajar di perguruan tinggi. Ia tak ingin ada hal lain yang mengganggu pikirannya.

Setelah lulus dari fakultas ekonomi 4,5 tahun kemudian, beberapa orang yang dulu pernah datang ke rumahnya, datang kembali dengan tujuan yang sama. Tapi Indah belum bisa merubah jawabannya. Ayah dan ibunya sudah membujuknya belasan kali agar ia mau menerima salah satu dari yang terbaik. Atau paling tidak, mencoba untuk berkenalan terlebih dahulu. Siapa tahu cocok. Tapi Indah merasa enggan. Dan ia memilih untuk melanjutkan pendidikan ke strata berikutnya.

***

Sofyan berangkat naik bus dari rumah ke tempat kerjanya. Di rumahnya ada sebuah motor  keluaran terbaru yang ia beli dengan gajinya sendiri. Tapi dua bulan ini ia tak pernah memakainya. Ia selalu naik bus. Apa yang ia lakukan itu, tidak jauh-jauh dari persoalan jodoh. Masalah yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.

Sofyan terinspirasi oleh rekan kerjanya, Adi yang menemukan belahan jiwanya di dalam bus antar provinsi. Waktu itu, Adi baru pulang dari rumah neneknya di Surabaya dan perempuan yang menjadi istrinya sekarang duduk di sampingnya ketika Adi baru seperempat perjalanan.

Berkat sifatnya yang supel, tidak sulit bagi Adi untuk berkenalan dengan perempuan itu. Sebelum turun, mereka bahkan saling bertukar nomor telepon. Lalu dilanjutkan dengan berbalas SMS dari rumah masing-masing. Setelah beberapa kali berkencan, keduanya akhirnya memutuskan untuk menikah. Sebuah kisah cinta yang indah, padat, dan pasti.

Sofyan juga ingin mengalami hal yang sama. Ia tidak ingin sebuah hubungan yang bertele-tele. Ia bukan lagi remaja, tapi bujang yang sudah berumur. Jika ada perempuan yang cocok di hatinya, dan ia juga cocok di hati perempuan itu, ia berjanji akan langsung meminangnya dan secepatnya menikah. Tapi nasib tampaknya belum berpihak pada Sofyan.

Setelah berminggu-minggu berangkat dan pulang kerja naik bus, ia belum berkenalan dengan satu perempuan pun. Itu lantaran memang tidak ada perempuan yang duduk di sebelahnya. Padahal, setiap naik bus ia selalu duduk di kursi dua seat yang dua-duanya masih kosong. Ia duduk di dekat jendela sambil menunggu ada gadis duduk di sampingnya.

Bukannya gadis, penumpang yang duduk di sampingnya seringkali adalah laki-laki seumuran bapaknya. Jika bukan bapak-bapak, biasanya ibu-ibu yang sudah berumur atau ibu muda yang sedang menggendong anaknya. Gadis-gadis lebih memilih duduk di kursi lain. Di belakang atau di depan kursi Sofyan.

Dan hari itu, sehari sebelum ulang tahunnya yang jatuh tanggal 10 Desember, ia telah benar-benar putus asa. Metode pencarian jodoh yang sukses dilakukan karibnya, sama sekali tidak bekerja. Sofyan duduk termenung, merangkul tas ransel sambil menyandarkan kepalanya ke jendela kaca.

Di tengah lamunannya yang suram itu, kursinya terhentak. Seseorang baru saja meletakkan pantatnya di samping tempat duduknya. Keras. Sepertinya kelalahan. Refleks, Sofyan menoleh. Memastikan apakah bapak-bapak atau ibu-ibu yang duduk di sampingnya. Ia kaget bukan kepalang. Hatinya bergetaran. Nafasnya terasa menyangkut di tenggorokannya. Ia terdiam.

Perempuan itu cukup tinggi. Jika mereka sama-sama berdiri, mungkin setinggi telinga Sofyan. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi begitu bersih dan manis. Wajahnya yang lonjong dan pipinya yang tirus, didukung oleh bibirnya yang tipis menggoda. Hidungnya kecil, sama sekali tidak mancung, tapi terlihat begitu pas terpasang di bawah matanya yang indah. Sudah 30 detik Sofyan memandangi perempuan itu. Ia tersihir. Tapi perempuan itu hanya diam bersandar. Seperti tidak melihat bahwa ada makhluk yang sedang mengaguminya, duduk persis di sampingnya.

Apa yang harus ia lakukan? Sofyan memang sudah menyiapkan berbagai macam modus perkenalan yang ia pelajari dari Adi. Setiap beranjak tidur, Sofyan sudah melakukan puluhan kali dialog imajinatif untuk melatih kelenturan bahasanya ketika momentum seperti ini tiba. Ia hanya tinggal memulai. Tapi seluruh anggota tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja.

“Mau ke mana, mbak?”

Iya kalau perempuan itu menjawab. Jika perempuan itu mengira bahwa aku berniat melakukan tindak kejahatan kepadanya? Ah itu pertanyaan yang tidak relevan.

“Jaketnya bagus, mbak.”

Apa kau gila? Itu kalimat yang diucapkan kepada orang yang sudah saling mengenal. Jika kamu mengucapkan itu kepadanya, itu sangat lancang. Dan belum tentu ia akan memperhatikanmu.

“Sendirian saja, mbak?”

Ah. Itu kalimat yang terlihat betul modusnya. Kamu harus seolah-olah tidak tertarik dengannya. Supaya dia penasaran denganmu. Itu kan pesan Adi kemarin.

Sofyan melontarkan belasan pertanyaan di kepalanya. Pertanyaan yang seharusnya ia sampaikan kepada perempuan di sampingnya, tapi ia tanyakan kepada dirinya sendiri, lalu ia jawab sendiri. Dan setiap jawaban selalu menambah keraguan untuk memulai percakapan yang sebenarnya tidak sesulit yang ia bayangkan.

***

Indah percaya bahwa sebenarnya perempuan jauh lebih kuat dari pada laki-laki. Terutama perempuan-perempuan yang bekerja. Seorang perempuan karir memiliki beban yang sama di tempat kerja dengan pekerja laki-laki, tapi tidak ketika di rumah. 

Seorang perempuan masih harus mencuci, memasak, menyapu, dan juga melayani suaminya yang berahi setiap malam. Sedangkan laki-laki, mereka bisa melakukan apa saja sepulang kerja. Jika ada laki-laki yang mau mengerjakan pekerjaan rumah, mungkin itu satu dari sekian ratus.

Belum menikah saja ia sudah merasa sedemikian lelah. Sejak bangun ia harus mengerjakan banyak sekali pekerjaan rumah. Hampir setiap pagi ia harus berangkat kerja dengan kondisi letih. Dan soal jodoh? Dia hanya menunggu seorang laki-laki yang berani dan serius untuk menikah dengannya. 

Ia tidak merisaukan apakah calon suaminya itu seorang doktor seperti dirinya, seorang sarjana, atau bahkan seorang lulusan SMA sekalipun. Hanya saja ada satu syarat yang tidak bisa ditawar-tawar : laki-laki yang meminangnya haruslah seorang bujangan.

Ketika ia dikukuhkan sebagai doktor beberapa bulan yang lalu, beberapa laki-laki memang mencoba mendekatinya. Beberapa merupakan atasannya di kampus. Tapi naudzubillah, mereka semua sudah memiliki istri dan bermaksud menjadikan Indah sebagai istri muda. Traumatik semacam itulah yang membuat indah menjadikan syarat bujangan sebagai syarat yang mutlak bagi siapapun yang ingin melamarnya. Dan tentu saja, laki-laki itu harus punya keberanian tanpa sedikitpun merasa inferior di hadapannya.

Dan sekarang, ia mulai gelisah dengan seorang laki-laki yang bertingkah aneh di sampingnya. Dari raut wajahnya terlihat sekali laki-laki itu sedang gugup. Itu pertanda ia pasti masih bujang dan belum banyak mengenal perempuan. Indah mencoba mencuri pandang ketika laki-laki itu duduk bersandar menghadap ke depan. Tampan. Tubuhnya cukup kekar. Ia pasti sering berolahraga, karena dengan tampilannya yang necis seperti itu agaknya mustahil jika dia seorang pekerja kasar.

Seikit senyum tersimpul dari bibir indah yang merah merona. Mungkin pagi itu dia akan berkenalan dengan seorang laki-laki. Akankah dia harus memulai terlebih dahulu? Nampaknya tidak. Ia akan menunggu sampai laki-laki itu punya keberanian berkenalan dengannya. Keberanian adalah salah satu syarat bagi calon suaminya, bukan? Jadi ia akan menunggu saja. Toh ia akan sampai di kantornya lebih dari 30 menit lagi.

***

Sofyan masih berjibaku dengan pikirannya sendiri. Antara penasaran dan ketakutan bercampur aduk membuatnya diam tak bergerak. Hanya keringat dingin yang sejak beberapa menit yang lalu terus diproduksi di seluruh permukaan kulitnya. Haruskah ia melewatkan kesempatan langka ini? Tidak. Tidak boleh. Ia harus memberanikan diri. Sofyan memejamkan mata sejenak sambil mengumpulkan keberanian yang tersisa dalam dirinya. Dan akhirnya sepatah kata keluar dari mulutnya.

“Eh, Mbak.”

Perempuan itu menoleh dan menjawab dengan sedikit ragu apakah seseorang yang memanggilnya tadi adalah benar-benar laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.

“Iya. Mas. Ada apa?”

“Emm, anu. Eh….”

“Ada apa mas? Bisnya sudah sampai depan kampus saya. Saya mau turun”

Indah tersenyum kecut. Dan Sofyan masih tidak percaya bahwa tidak ada satu pertanyaanpun yang berhasil keluar dari mulutnya. Ia bersandar kecewa.

Di depan kampus yang cukup besar, seorang perempuan baru saja turun dari bus. Sambil membenarkan letak tas ranselnya, ia mengendus kesal.

“Dasar cowok gagu!”