Hutan adalah karunia Tuhan yang harus kita jaga dan kita lestarikan. Alam ciptaan Tuhan tentu sangatlah indah, tapi bagaimana bila keindahannya itu tertutup tebalnya kabut gunung?

Ampelgading adalah sebuah dusun yang namanya telah terpatri indah di lereng gunung Sakya dengan tajuk I’AMpelgading Homeland. Awalnya mungkin tak ada yang menyangka bila di dusun yang masuk wilayah Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang ini mendapatkan anugerah sebuah tempat yang memiliki nama indah, yakni Kahyangan.

Entah sudah berapa lama tempat dengan nama indah Kahyangan itu tertutup oleh tirai kabut gunung Sakya karena tak ada satu tangan pun yang menyentuhnya untuk sekian lama. Sampai suatu waktu, hal yang menakjubkan tentang Kahyangan pun terungkap. Ternyata Kahyangan itu adalah surga loka atau surga dunia, sesaat setelah tirai kabut gunung yang menyelimutinya itu disibak oleh tujuh pemuda dusun Ampelgading dan memunculkan tujuh bidadari dari berbagai sisi gunung Sakya.

Dari berbagai sisi sang Sakya, pemandangan indah pun terhampar begitu nyata, seolah bidadari-bidadari cantik bermunculan dari berbagai arah, menyempurnakan indahnya pemandangan alam ciptaan Tuhan. Seperti Sakya yang berarti kebahagiaan, siapa pun yang menikmati keindahan alam Kahyangan diharapkan bisa merasakan kebahagiaan yang hakiki. 

Udara segar langsung terhirup sempurna tatkala kaki mulai menapak di area Kahyangan. Dari ketinggian 1367-1800 mdpl tak ada lagi ruang dalam hati ini untuk tidak bersyukur kepada Sang Pencipta. Betapa keindahannya sungguh-sungguh merepresentasikan sang penciptanya.

Bunga-bunga dan pohon-pohon tertata indah, tidak ada sampah yang mengotori area dan gazebo-gazebo yang senada dengan warna alam pun telah siap menyambut dengan ramah, siapa pun yang datang berkunjung dengan berbagai tujuan.

Area Kahyangan ini memang tak hanya menyediakan tempat untuk berkemah bagi pribadi/kelompok pencinta alam, tapi beberapa fasilitas umum juga dapat dinikmati siapa pun yang berkunjung ke sana. Dan yang lebih memesona, semua fasilitas itu dibangun secara swadaya oleh seluruh warga dusun Ampelgading.

Meskipun masih terbangun 25%, tapi keindahannya telah tampak nyata. Kerja keras, ketulusan dan semangat warga dusun Ampelgading patut diapresiasi oleh berbagai pihak. I’AMpelgading Homeland adalah hasil kegigihan dan upaya dari warga dusun Ampelgading secara swadaya. 

Bantuan dari berbagai pihak seperti pihak pemerintah maupun swasta yang peduli dengan pelestarian alam, tentu akan disambut dengan tangan terbuka oleh warga dusun Ampelgading, seperti keramahan alam gunung Sakya yang vibrasi kebahagiaannya telah merambat ke seluruh semesta.

Berdoa dan bermeditasi dengan sentuhan alam langsung, tentu juga sangat sempurna dilakukan di area Kahyangan. Bahkan tempat ini seolah bisa memurnikan kembali jiwa-jiwa yang lelah dan penat oleh rutinitas dan aktivitas kehidupan.

Sejenak datanglah ke Kahyangan yang dikenal dengan nama I’AMpelgading Homeland itu. Menghirup segarnya udara yang tak didapatkan di perkotaan, dan menikmati kecantikan bidadari-bidadari dalam rupa pemandangan alam yang indah terhampar, seperti menyaksikan momen indahnya matahari terbit atau terbenam, dengan rasa syukur kepada Sang Pencipta, yang tentunya dapat memurnikan kembali pikiran, hati, jiwa dan raga kita yang lelah, dan menyalakan kembali cahaya keilahian yang ada pada setiap diri manusia.

Sekilas tentang Nama Gunung Sakya

Nama gunung-gunung di Nuswantara (Nusantara) pada awalnya memiliki arti yang sakral. Kini putra-putri di Nuswantara (Nusantara) sudah seharusnya tahu tentang yang sesungguhnya, bahwa bahasa utama para leluhur Nuswantara (Nusantara) yang menamakan gunung-gunung di Nuswantara (Nusantara) adalah bahasa Sanskerta. Jadi nama-nama gunung pada masa kejayaan raja-raja Nuswantara (Nusantara) semua memiliki arti yang sangat luhur.

Gunung Ungaran yang kita kenal sekarang ini, pada awalnya bernama Sakya yang memiliki makna dan arti yang tidak sembarangan, yakni kebahagiaan. Bagaimana bisa menjadi Ungaran? 

Merunut dari sejarah panjang penjajahan Belanda selama ratusan tahun, bukanlah hal yang mengherankan bila nama-nama gunung Nuswantara (Nusantara) diganti dengan berbagai alasan pada masa itu, salah satunya bisa jadi agar tidak diketahui oleh generasi penerus bangsa, karena dari nama asli gunung-gunung tersebut akan dapat dengan mudah diketahui kerajaan-kerajaan yang berada di sekitar gunung tersebut.

Kahyangan yang terletak di lereng Sakya ini memang sungguh sangat menawan. Indahnya pemandangan alam yang terhampar dari berbagai sisi pun tampak begitu harmoni, yang apabila dilukiskan keindahannya, bahkan sampai bisa melebihi kemampuan sang pujangga memuja kecantikan bidadari dari keinderaan. 

Kisah di Balik Kegigihan Warga Dusun Ampelgading

Menyibak tirai kabut gunung yang tebal di Kahyangan tentu tidaklah mudah. Tapi dari wajah lelah pemuda-pemuda dusun Ampelgading tersebut, terlihat mereka menikmati apa yang telah mereka lakukan. Ketulusan hati mereka pun tercermin jelas dalam bingkai indah hasil karyanya kini.

Pada awalnya tujuh pemuda dari dusun Ampelgading berjalan mengikuti nasihat yang timbul dari dalam diri mereka untuk datang ke Kahyangan, menyentuh dinginnya kabut tebal di lereng Sakya. Mereka pun kemudian melihat betapa menakjubkan keindahan alam dari berbagai sudut pandang dilihat dari Kahyangan.

Merasa sangat disayangkan bila Kahyangan tidak disentuh dan ditata untuk bisa dinikmati bersama dengan banyak orang, mereka pun kemudian memikirkan dari mana mereka akan memulai menyibak tirai kabut yang menyelubunginya. Tidak mudah memang, menata hutan rimba menjadi sebuah tempat wisata yang indah. Namun dengan ketulusan untuk menjaga dan melestarikan alam, anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, mereka pun kemudian membangkitkan semangat dari dalam diri mereka untuk memulainya.

Ternyata masyarakat dusun Ampelgading, para sesepuh dan perangkat dusunnya menyambut baik niat tulus tujuh pemuda tersebut. Pelan namun pasti, seluruh warga dusun Ampelgading pun bersama-sama bergotong royong merobek keheningan Kahyangan dan mengembalikan senyum Kahyangan yang indah untuk menyempurnakan keindahan alam lereng gunung Sakya.

Kerja bakti berkali-kali dilakukan tanpa lelah, dengan terus menjaga kekompakan untuk tetap berjalan ke depan. Pengumpulan dana untuk melengkapi fasilitas umum di Kahyangan pun dilakukan warga dusun Ampelgading dengan rasa syukur yang tak terkira. Dan seluruh warga pun masih terus kompak menjaga semangat untuk tetap membangun Kahyangan sampai dengan sekarang.

Dusun Ampelgading yang berada di lereng Sakya ini memang memiliki potensi besar, bukan saja karena memiliki sebuah potensi wisata alam yang indah seperti Kahyangan. Tapi lebih dari itu, potensi kelompakan warga yang mereka miliki itulah, yang membuat mereka bisa menampilkan pesonanya dan menunjukkan kepada dunia, bahwa gotong royong warga itu masih ada di negeri ini, yang masih sanggup memunculkan sebuah wisata alam baru nan indah, hasil dari kegigihan dan semangat yang mereka miliki.

Hutan memang karunia Tuhan yang harus kita jaga dan kita lestarikan. Alam ciptaan Tuhan memang sangatlah indah, dan bersamanya kita bisa menemukan kebahagiaan yang hakiki, selama kita bisa berhubungan dengan harmoni, menjaga dan melestarikannya. 

Setahun sudah I’AMpelgading Homeland memikat hati siapa pun yang berkunjung ke sana. Tak hanya wisatawan Nusantara, tapi sudah ada wisatawan asing dari Republik Ceko dan Jepang yang ikut menanam pohon di sana. Ikut bersama-sama berbagi kebahagiaan dan menikmati indahnya alam lereng gunung Sakya, karunia Tuhan Yang Maha Esa.

I’AMpelgading Homeland adalah kampung halaman yang indah dan membanggakan. Bukan saja karena keindahan alamnya, terlebih karena keindahan hati orang-orang yang mendiaminya, yang sampai sekarang masih terus gigih bergotong royong menjaga dan melestarikan alam, dengan terus membangun I’AMpelgading Homeland. 

I’AMpelgading Homeland adalah kampung halaman yang indah. Pasti di sanalah semua merasa senang. Semangat warganya yang luar biasa tak kan pernah terlupakan dan akan terus membanggakan.

Baca Juga: Wisata di Dubai