Bagai makan buah simalakama, makan ibu mati, tak makan ayah mati. Demikian sebuah pepatah klasik yang hendak menggambarkan betapa sulitnya mengambil sebuah keputusan ditengah situasi yang membingungkan. Kondisi inilah yang juga sementara dihadapi oleh bangsa Indonesia. 

Pada satu sisi, pemerintah melalui berbagai regulasi, terus gencar mengupayakan agar hutan Indonesia sebagai penyangga kehidupan, sekaligus paru-paru dunia, tetap terawat dengan baik. Selain untuk memproduksi kebutuhan oksigen, kondisi hutan yang terjaga kelestariannya juga dapat mencegah terjadinya bencana banjir maupun tanah longsor, seperti yang sementara terjadi akhir-akhir ini di bumi Nusantara. Dengan kesadaran ini pula, maka seluruh spesies hewan endemik, semakin jauh dari ancaman kepunahan.

Pada lain sisi, perkembangan industri Pulp (bubur kayu) dan kertas yang terus berkembang secara global, memberi sinyal positif bagi perkembangan perekonomian. Berdasarkan prediksi, industri pulp dan kertas akan mengalami kenaikan yang siginifikan hingga di tahun 2020, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam situs resminya.

Proyeksi ini menggambarkan betapa industri pulp dan kertas memiliki peluang yang besar dalam pengembangannya. Oleh sebab itu, situasi ini tidak boleh diabaikan begitu saja, sebab sektor ini cukup menjanjikan sebab memberi kontribusi yang besar bagi perkembangan perekonomian nasional. Konsekuensi logisnya ialah terjadinya peningkatan pasokan bahan baku dan secara otomatis, penebangan hutan pun tidak terelekan. 

Memang perkembangan dan kemajuan teknologi dewasa ini merupakan sebuah lompatan besar yang turut membantu mengatasi persoalan besarnya penggunaan kertas. Dengan sistem digitalisasi, maka pendekatan ini sedikitnya dapat menekan naiknya angka penggunaan kertas. Kita dapat menemukan itu melalui layanan semacam e-book dan perpustakaan digital. 

Selain itu, upaya-upaya yang dilakukan melalui kampanye yang bermotif paperless oleh kelompok aktivis lingkungan juga turut memberi andil dalam upaya menekan volume penggunaan kertas. Namun meski telah diupayakan secara maksimal, ternyata langkah-langkah ini tidak menjamin bahwa kegiatan penebangan hutan akan dihentikan, mengingat kebutuhan terhadap kertas dan permintaan pasar global yang semakin melonjak.

Menjembatani gap diantara dua fakta ini, maka dibutuhkan langkah-langkah yang cerdas dan bijak, sehingga meskipun produksi kertas terus dilakukan, namun tidak berdampak besar pada kerusakan hutan. 

Dari perspektif ekonomi, penghentian penggunaan kertas secara total tentu berpengaruh negatif terhadap kesejahteraan masyarakat. Bayangkan saja, ketika pasokan produksi pulp dan kertas semakin kecil, maka perusahaan tentu akan lambat berkembang dan pasti terancam gulung tikar. Ketika perusahaan pailit, maka para karyawan akan dirumahkan dan angka pengangguran pun semakin membludak. Persoalan ini tentunya akan menjadi beban baru bagi negara. 

Selain kemiskinan, berbagai problematika sosial akan muncul menyeruak, mulai dari labilnya ekonomi keluarga sampai meningkatnya angka kriminalitas. Dengan demikian, industri pulp dab kertas mesti didukung secara penuh oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan. 

Tentu pandangan ini tidak mengindikasikan bahwa dengan serta-merta, kegiatan produksi kertas dengan cara penebangan dan perusakan hutan dilegalkan begitu saja. Mengapa? Merawat hutan merupakan sebuah keharusan dan bukan pilihan. Setangguh apapun perekonomian nasional, namun jika tidak dibarengi dengan kesadaran untuk merawat alam, maka besar kemungkinan konsekuensi kerugian dari kelalain terhadap tugas merawat hutan akan lebih besar, ketika terjadi ketidakseimbangan antara produksi kertas dan upaya konservasi hutan. 

Menyikapi kenyataan ini, maka ada beberapa alternatif yang ditawarkan untuk menjembatani permasalahan yang telah dipaparkan. Pertama, setiap perusahaan yang mengembangkan industri pulp dan produksi kertas, dapat mengarahkan setiap dana Corporate Social Responsibility (CSR) pada upaya-upaya restorasi alam dengan melakukan penanaman kembali hutan-hutan yang gundul.

Tindakan ini merupakan bentuk nyata dari konsep pembangunan berkelanjutan, sebagaimana yang telah diatur dalam berbagai regulasi. Hal ini bertujuan agar, keseimbangan antara kepentingan profit dan lestarinya lingkungan tetap terjaga dengan baik. 

Selain itu, sosialisasi sebagai wujud edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya merawat hutan mesti terus dilakukan. Bagi setiap perusahaan, tugas untuk menjaga dan merawat hutan bukanlah hal yang baru.

Namun bagi sebagian masyarakat, termasuk masyarakat pedesaan, belum seluruhnya menyadari bahwa hutan memiliki peran penting bagi keberlanjutan hidup manusia. Berbagai fenomena kerusakan hutan bisa dijumpai di nusantara ini, ketika masyarakat dengan pengetahuan yang terbatas menguras alam tanpa terkendali hanya karena diiming-imingi dengan uang. 

Perusahaan dapat juga mendorong para budayawan dan antropolog untuk menggali berbagai kearifan lokal yang dimiliki masing-masing daerah dimana perusahaan melakukan kegiatan produksi, sehingga pendekatan ini dapat menolong membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat tentang pentingnya merawat hutan. Pendekatan budaya tentu sangat efektif dalam membangun kesadaran untuk merawat hutan sebab konsep yang dibangun bersifat kontekstual dan tidak jauh dari realitas hidup masyarakat. 

Mengapa masyarakat penting untuk mengambil peran dalam tanggung jawab ini? Tanpa dukungan masyarakat, maka seluruh upaya untuk melestarikan alam bagi kepentingan bersama tidak akan tercapai secara maksimal. Masyarakat harus menjadi basis utama dalam membangun kesadaran tentang pentingnya peran bersama, terkait dengan advokasi lingkungan. 

Selanjutnya, setiap perusahaan perlu melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan temuan-temuan dalam kaitan dengan alternatif-alternatif baru bahan baku kertas. Penemuan-penemuan baru ini dapat dihasilkan ketika perusahaan membangun kerjasama dengan lembaga perguruan tinggi yang berkonsentrasi pada bidang kehutanan dan ilmu-ilmu terapan. 

Berkaitan dengan regulasi dan kebijakan pemerintah, penting sekali untuk membangun kerjasama secara internal dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya Kementerian Perindustrian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Sinergitas ini bertujuan untuk melihat sejauhmana upaya pengembangan industri pulp dan kertas yang tetap mengedepankan prinsip pro lingkungan hidup.

Artinya bahwa industri ini akan terus didorong untuk mengembangkan produksi dan seiring dengan itu langkah-langkah strategis yang ditempuh juga mesti mengupayakan sehingga kondisi hutan di Indonesia tetap stabil. Sinergitas ini juga bermaksud agar terjadi sinkronisasi program kerja yang mengarah pada pengembangan industri ramah lingkungan. 

Selanjutnya, regulasi-regulasi terkait dengan keseimbangan antara perkembangan industri dan aspek lingkungan perlu diperkuat, sehingga pada akhirnya seluruh aktivitas tiap perusahaan tidak mengabaikan tentang pentingnya merawat dan melindungi hutan. Strategi ini bertujuan agar tidak terjadi penyalahgunaan kewenangan oleh perusahaan yang dapat menyebabkan kerugian bagi masyarakat.

Alternatif lainnya yang dapat digunakan ialah dengan membangun hubungan mutualisme antara perusahaan-perusahaan dengan para pelaku usaha kecil dan menengah, begitupun badan-badan usaha, baik pemerintah maupun swasta yang bergerak dibidang socio-ecopreneurship, khususnya terkait dengan usaha daur ulang kertas. Hal ini bermaksud agar aktivitas penebangan pohon untuk menyediakan bahan baku dapat diminimalisir, namun proses produksi tetap berjalan secara normal lewat penyediaan bahan baku hasil daur ulang untuk mencegah kekosongan stok.

Upaya ini sekaligus menjadi kesempatan membangun hubungan yang saling menghidupi antara pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan perusahaan-perusahaan berskala besar. Tentu hal ini tidak mengabaikan aspek mutu sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan sehingga keduanya saling menguntungkan dan dampak kerjasama ini turut membantu meminimalisir aktivitas penebangan hutan.