Istilah hutan rakyat dalam tulisan ini mengacu pada istilah “hutan hak”, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 1 Ayat 5 UU No. 41 tahun 1999 Tentang Kehutanan.

Dalam pengertian sehari-hari, mungkin kita bisa mengartikan hutan rakyat sebagai hutan yang dikelola oleh masyarakat, dan tidak berada di areal tanah negara. Dalam tulisan ini, saya mencoba melihat sisi lain dari permasalahan dan juga manfaat dari keberadaan hutan rakyat ini, baik itu dari sisi ekonomi maupun kelestarian lingkungan.

Karakteristik hutan rakyat memang tidak sama dengan hutan alam pada umumnya, sehingga secara fungsi tidak bisa menggantikan peran hutan alam sepenuhnya. Namun bila kita cermati, hutan rakyat pun berperan bukan saja dalam perekonomian, namun juga lingkungan hidup.

Hutan rakyat banyak menghasilkan kayu yang bisa menjadi bahan baku industri maupun bahan bangunan. Hal ini sebenarnya bisa dioptimalkan guna mengurangi ketergantungan terhadap kayu dari hasil tebangan hutan alam. Sedikit banyak, hal ini bisa menekan laju deforestasi. Selain itu, fungsi hutan rakyat dalam pengendalian air juga.

Mata air kecil semacam ini, banyak terdapat di sekitar kawasan hutan rakyat. Foto: doc pribadi

Sebagaimana tampak dalam gambar di atas, salah satu sumber air/mata air kecil banyak terdapat di kawasan sekitar hutan rakyat. Selain dimanfaatkan sebagai sumber air bersih oleh warga sekitar, gabungan dari beberapa sumber air seperti ini terbukti berguna dalam menjaga pasokan air guna irigasi lahan pertanian.

Salah satu contoh irigasi yang bersumber dari gabungan beberapa mata air. Sumber foto: dokumentasi pribadi

Keberadaan hutan rakyat, yang umumnya dekat dengan lokasi pemukiman, sebenarnya memberi dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Fungsi seperti pengendalian banjir dan longsor, mengendalikan air, serta sebagai penghasil oksigen, akan langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan. Selain itu, juga mempermudah dalam proses pengangkutan hasil hutan.

Namun, keberadaannya bukan tanpa masalah. Selain masalah alih fungsi lahan, ada masalah lain yang tidak kalah serius. Masalah ini adalah penebangan secara tergesa-gesa oleh petani itu sendiri. Alasan ekonomi, membuat sebagian petani melakukan penebangan terlalu cepat terhadap tanaman kayu miliknya. Hal ini sebenarnya merugikan petani, karena harga jual hasil hutan berupa kayu tebangan menjadi rendah, karena kualitas yang belum sesuai standar.

Selain itu, akibat negatif yang akan dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan, adalah bahaya kekeringan dan tanah longsor, yang diakibatkan terganggunya fungsi hutan, akibat penebangan yang terlalu dini dan tidak teratur.

Upaya pemerintah, melalui berbagi penyuluhan dan juga bantuan bibit tanaman, sekali lagi terbentur pada masalah klasik, kebutuhan ekonomi, yang membuat petani tergesa-gesa menebang kayu tanamannya. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kesadaran pada sebagian kalangan masyarakat, yang sering kali melakukan perusakan pada tanaman milik petani hutan rakyat.

Beberapa jenis tanaman, seperti kaliandra, sengon, dan alpukat, daunnya memang bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak. Namun pengambilan secara membabi buta tentulah tidak dianjurkan. Lebih dari itu, hal ini bahkan bisa memicu konflik antara petani dan peternak.

Hal seperti ini tentu saja membutuhkan adanya suatu kesadaran bersama dari seluruh komponen masyarakat. Selain itu, masalah lain yang perlu diatasi, adalah bagaimana menjamin penghasilan bagi petani selama menunggu tanaman kayu mencapai usia siap tebang. Alternatif solusi yang mungkin diterapkan, antara lain dengan variasi jenis tanaman. Ada beberapa jenis tanaman yang diharapkan bisa menjadi pilihan, dan tentunya pilihan tanaman bisa disesuaikan dengan kondisi setempat.

Salah satu tanaman yang layak dipertimbangkan, di antaranya bambu. Tanaman ini (dengan banyak jenisnya) banyak digunakan untuk pengganti kayu, misalnya untuk penyangga/perancah dalam pembuatan bangunan. Selain harga lebih terjangkau, bambu memiliki sifat lebih ringan dan ulet, sehingga cocok menggantikan balok kayu guna perancah sementara.

Tanaman ini tumbuh lebih cepat, dan bisa dipanen 2 kali dalam setahun, sehingga bisa mengurangi penebangan kayu yang terlalu dini. Selain itu, bambu juga punya kemampuan menahan air.

Berikutnya adalah jenis kayu keras dengan masa tebang pendek, misalnya kaliandra. Selain memiliki masa panen yang terbilang cepat, tanaman ini memiliki kemampuan regenerasi sangat baik pasca penebangan, selain persebaran melalui biji secara alami. Kelebihan lain, tanaman ini bisa tumbuh di sela-sela tanaman lain yang lebih besar. Kayu kaliandra banyak dimanfaatkan diantaranya untuk bahan bakar, dan daunnya bisa untuk pakan ternak seperti kambing.

Tanaman lain yang bisa dipertimbangkan, adalah tanaman yang menghasilkan buah, baik buah untuk konsumsi, maupun keperluan lainnya. Kita tentunya mungkin jengkol, petai, nangka, durian, rambutan, bahkan randu (penghasil kapuk) dan lainnya. Perlu kita ketahui, tanaman-tanaman tadi, dan juga masih banyak lainnya, yang bukan berasal dari perkebunan khusus.

Banyak di antaranya ditanam bersama tanaman lain di hutan rakyat. Ketika pada usia tertentu (puluhan, bahkan bisa ratusan tahun), tanaman ini mulai kurang produktif, dan ditebang, rata-rata menghasilkan kayu yang cukup bagus kualitasnya, bisa digunakan sebagai bahan bangunan maupun industri mebel.

Dengan adanya tanaman-tanaman tadi, diharapkan petani tidak lagi tergesa-gesa menebang tanaman kayu sebelum waktunya. Seperti kita tahu, tanaman kayu, misalnya saja sengon, butuh waktu 5-7 tahun untuk siap panen. Untuk kayu yang lebih keras, seperti jati, puspa, mahoni, dan lainnya bahkan butuh puluhan tahun untuk siap dipanen.

Dengan penebangan yang teratur dan menerapkan sistem tebang pilih, diharapkan hutan rakyat dapat berperan. Bukan saja dalam perekonomian, namun juga ikut menjadi salah satu unsur kelestarian lingkungan.

Ingatlah, kita semua hidup di planet bumi. Kerusakan di planet bumi adalah ancaman nyata bagi keberadaan manusia, termasuk diri kita dan keturunan kita. Mari selamatkan bumi, sekecil apapun, lakukan tindakan yang berarti bagi bumi kita ini.