Fenomena politikus fiktif Nurhadi-Aldo kini tengah ramai jadi perbincangan. Nama partai pengusung mereka yang bertajuk Partai untuk Kebutuhan Iman dengan slogan Tronjal Tronjol Maha Asyik saat ini ramai berseliweran di jagat maya beberapa hari belakangan. 

Tak terhitung jumlah meme Nurhadi bersama pasangannya yang merupakan karakter fiktif bernama Aldo dibagikan ratusan kali di laman Facebook, Twitter, hingga merambah ranah Instagram. Foto kampanye mereka dikemas demikian rupa hingga tampak meyakinkan. Tapi apa yang membuatnya jadi tak biasa adalah quotes mereka yang menyentil, nyeleneh, dan kadang disusupi unsur vulgar yang mengocok perut.

Nurhadi sendiri merupakan sosok nyata. Ia tinggal di Mejobo, Kabupaten Kudus dan berprofesi sebagai seorang tukang pijat. Foto dan nama Nurhadi sendiri sudah tak asing untuk orang-orang yang berkecimpung di dunia meme.

Kedua sosok ini dengan cepat menjadi fenomenal dalam kurun waktu yang terhitung singkat. Hingga untuk beberapa saat, masyarakat bisa melupakan panasnya persaingan politik Indonesia yang memang belakangan ini tengah begitu bergejolak, terbagi dalam sejumlah kubu. 

Ini memang tahun yang panas bagi masyarakat Indonesia, mengingat saat ini sudah memasuki tahun politik, di mana sedikit gesekan saja rawan menciptakan konflik hingga perpecahan.

Perbedaan pilihan politik hingga partai saat ini seolah tak bisa lagi hanya dianggap sebagai hal sederhana, yang menyangkut perbedaan pilihan atau pandangan, tetapi jauh lebih kompleks dan lebih besar, di mana lebih sering pertikaian ini berujung jadi permusuhan dan perdebatan sengit yang bisa saja menjadi alasan kematian seseorang, seperti kasus yang terjadi di Sampang, Madura beberapa waktu lalu. Cekcok di Facebook berujung pada kasus penembakan. 

Tentu ini menjadi sebuah peringatan sekaligus sesuatu yang menimbulkan keprihatinan mendalam di benak kita semua: haruskah perbedaan partai politik bisa membutakan mata dan logika kita sebagai pendukung salah satu kubu?

Saya sendiri sudah lama tidak menaruh minat pada berita politik di Indonesia, yang bisa dibilang hanya akan terdengar gaungnya saat tertangkap Operasi Tangkap Tangan oleh KPK. Bejibunnya kasus suap dan skandal yang melibatkan politikus tanpa dibarengi prestasi membuat politik seolah menjadi ranah yang membosankan untuk dibicarakan, bahkan lebih sering jadi bahan cibiran. 

Tak sampai di situ, bobroknya moral sebagian dari politikus Indonesia, jenuhnya masyarakat dengan isu hoaks, dan maraknya pertikaian berunsur SARA seolah menjadi faktor yang membuat kemunculan pasangan Dil-Do menjadi oase tersendiri di tengah carut-marut ini.

Mungkin bagi saya yang menikmati meme dan kekocakan Nurhadi-Aldo harus berterima kasih pada 7 orang pemuda kreatif yang merahasiakan identitas mereka dan bekerja sukarela tanpa imbalan apa pun. Tujuan mereka murni untuk menghibur di tengah banyaknya black campaign seperti sekarang. Ya, demikian yang mereka katakan pada wawancara BBC yang saya baca beberapa hari lalu.

Berkat anak-anak kreatif ini, mereka berhasil mengemas politik yang berat dengan humor, yang sesekali 'nakal' dan merembet ke arah seksual. Memang di Indonesia, khususnya di dunia maya, hal-hal yang vulgar cenderung menjadi ajang ‘pemersatu’. Tidak akan ditemukan istilah ‘cebong’ atau ‘kampret’, tidak ada inferior atau superior, tidak ada perdebatan, semua seolah menjadi satu.

Dengan kemasan yang menarik, quotes yang menyentil dan lucu, membuat kehadiran mereka begitu dinanti. Peningkatan followers mereka di media sosial pun cukup cepat. Akun Instagram mereka yang kemarin hanya diikuti 75.000 orang kini melonjak mencapai 160.000 orang lebih. Itu juga belum termasuk pengikut mereka di Twitter dan Facebook. 

Akun pendukung Nurhadi-Aldo juga bermunculan. Mereka mengatasnamakan sejumlah daerah di Indonesia, hingga ada yang mengaku dari luar negeri, dan menyebut diri mereka sebagai tim sukses.

Hal ini menunjukkan tingginya minat sekaligus bentuk kejenuhan masyarakat saat ini menyangkut pemberitaan politik negeri ini yang bisa dibilang hampir selalu membuat ‘tegang’ urat syaraf dan bikin geleng-geleng kepala.

Kepopuleran mereka pun didukung dengan banyak anak muda generasi Z yang lebih melek internet, dan lebih menyukai guyonan segar dibandingkan perdebatan panas yang bisa dibilang tidak kunjung ada habisnya di media sosial, dan di setiap kolom berita politik yang dimuat situs berita populer.

Berkaca pada keberadaan Nurhadi-Aldo, ini sudah seharusnya menjadi pecut bagi dunia perpolitikan di Indonesia dan bagi para politisi lainnya untuk mengemas kampanye dan politik mereka menjadi sesuatu yang lebih ‘ramah’ bagi masyarakat, dengan menyelipkan guyonan segar yang bisa dinikmati semua kalangan. Apa lagi dalam masa kampanye seperti sekarang. 

Dibandingkan menimbulkan perdebatan, bukankah lebih baik jika menimbulkan tawa? Tetapi apa hal itu mungkin terjadi dalam dunia politik yang abu-abu?