Beberapa hari terakhir, setelah menyelesaikan tugas menonton drama Jepang berjudul “Ishi No Mayu” a.k.a. “Stone’s Cocoon” saya terus berpikir tentang kehidupan sosial dewasa ini yang semakin kompleks dan mengerikan. Tentu masih hangat di ingatan kita tentang kasus pembunuhan Angeline, Mirna, atau pembunuhan siswa SD di Lampung.

Masyarakat cukup dibuat penasaran dengan kasus pembunuhan sadis tersebut, di samping kasus-kasus yang lain. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, penyelesaian kasus-kasus tersebut tak kunjung mendapatkan titik terang, atau kasus-kasus yang sempat booming tersebut perlahan menghilang dan terlupakan oleh publik.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah benar aparat penegak hukum kita tidak berkompeten atau malah mereka pura-pura tidak berkompeten di hadapan uang?

Taruhlah itu hanya pendapat kosong saya yang tidak beralasan. Namun, kita tidak  dapat menyangkal bahwa masih ada beberapa kasus hukum yang dibiarkan tetap menjadi misteri, ditutup, dan tersangkanya tak pernah diadili.

Dilansir dari indocropcircles.wordpress.com setidaknya terdapat 8 kasus yang masih menjadi misteri hingga sekarang, seperti kasus Sum Kuning atau Sumarijem (1970), kasus Dietje (1980an), kasus Petrus (Penembakan Misterius) (1982-1985), kasus Marsinah (1993), kasus pembunuhan wartawan Udin (1996), kasus hilangnya Edy Tansil (1996), kasus hilangnya 13 aktifis reformasi (1998), kasus Munir (2004).

Bagi sebagian orang, mungkin kasus tersebut hanyalah sebuah headline koran yang mempengaruhi tingkat suku bunga. Bagi sebagian orang lagi, kasus tersebut menjadi ladang pembawa berkah. Dan bagi sebagian orang yang lain, kasus tersebut menjadi bom waktu yang harus terus dijaga agar tidak meledak. Namun, bagi keluarga korban dan saksi, kasus tersebut akan terus menjadi kasus yang tak terselesaikan, entah melalui hukum negara atau hukum rimba, pelaku kejahatan harus mendapat hukuman yang adil.

Jujur, saya sendiri baru tahu beberapa kasus pembunuhan dan penculikan misterius yang terjadi di Indonesia. Sebelumnya, saya menganggap bahwa kasus-kasus lama yang telah ditutup biarkanlah ditutup. Saat itu saya berpikir bahwa membuka kembali kasus lama hanya akan membuat kita lupa dengan permasalahan yang ada hari ini.

Tentu hal tersebut akan memberi peluang bagi pelaku kejahatan untuk beraksi, dan akhirnya akan semakin banyak kasus kejahatan yang tidak terungkap di negeri ini. Entah karena barang bukti yang kurang memadai, atau karena semakin banyak tekanan bagi penegak hukum untuk menghadirkan keadilan di masyarakat, yang pasti permasalahan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia saja.

Saya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan berbagai kasus yang tetap menjadi misteri atau kelemahan lembaga penegak hukum yang ada di Indonesia. Di sini, saya  hanya ingin berbagi cerita drama “Ishi No Mayu”. Drama ini dapat memberikan gambaran kepada saya tentang dampak dari penegak hukum yang tidak kompeten.

Meskipun hanya sebuah drama fiksi, setidaknya kita dapat mengambil pesan sosial di dalamnya. Drama ini mengisahkan tentang misteri pembunuhan, di mana korban pembunuhan ditemukan dalam keadaan disemen. Pelaku pembunuhan yang mengaku bernama Toremi menghubungi polisi dan meminta pada polisi untuk mengumumkan bahwa 2 korban pembunuhan yang ditemukan dalam keadaan di semen adalah seorang penjahat.

Polisi tak kunjung melakukan konferensi pers karena tidak ada barang bukti yang menunjukkan bahwa 2 korban pembunuhan itu adalah seorang penjahat. Penyelidikan terus berlangsung dan tim penyelidikan menemukan bahwa kasus pembunuhan tersebut berkaitan dengan kasus penculikan 17 tahun yang lalu.

Ternyata, pelaku pembunuhan tersebut adalah korban penculikan yang mengalami trauma karena melihat ibunya dipukul dan dibunuh di sebuah gudang (yang kini menyebut dirinya sebagai Toremi). Setelah Toremi kembali ke keluarganya, kasus penculikan terhadap dirinya dan pembunuhan terhadap ibunya dinyatakan ditutup.

Toremi merasa kecewa dengan kinerja penegak hukum yang tidak dapat menangkap pelaku kejahatan. Oleh sebab itu, Toremi berniat untuk menghukum orang-orang yang terlibat dalam penculikan dan pembunuhan tersebut dengan caranya sendiri.

Cerita Toremi yang mewakili sosok korban sekaligus saksi kekerasan dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa luka psikis akan berdampak besar bagi pembentukan kepribadian seseorang. Di satu sisi, apa yang dilakukan oleh Toremi memang menyalahi aturan hukum yang berlaku.

Namun, di sisi lain, Toremi adalah korban kekerasan psikis yang tidak mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang semestinya. Oleh sebab itu, tidak salah jika Toremi tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan menerapkan hukum rimba untuk menghukum orang-orang yang bersalah dalam kematian ibunya.

Drama ini menunjukan bahwa tidak hanya di Indonesia, penegakan hukum serta perlindungan dan pendampingan terhadap korban dan saksi masih sangat lemah.

Dewasa ini, pemerintah memang tengah berusaha keras untuk meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap anak. Namun, kita juga harus memahami bahwa permasalahan kekerasan terhadap anak adalah masalah yang kompleks dan membutuhkan perhatian khusus dalam jangka waktu yang panjang, terutama dalam pendampingan anak-anak korban dan saksi kasus kekerasan.

Pendampingan, khususnya untuk memulihkan kejiwaan anak tidak hanya dilakukan untuk formalitas belaka. Pendampingan seharusnya dilakukan secara berkesinambungan, karena trauma menjadi luka yang membekas dalam kejiwaan anak. Artinya, perasaan takut, marah, dan dendam bisa saja muncul kembali ketika anak beranjak dewasa.

Hal tersebut dapat membuat korban kekerasan melampiaskan kemarahan atau membalaskan dendamnya kepada lingkungan sekitar, kepada pihak-pihak yang dianggap lebih lemah dari dirinya. Oleh sebab itu, pendampingan harus terus dilakukan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Terakhir, kita sebagai masyarakat juga memiliki peran penting dalam meminimalisir kekerasan di sekitar kita. Seringkali tanpa kita sadari, kita lebih peduli dengan kasus-kasus yang sedang booming di media massa, padahal di saat yang sama mungkin saja tetangga kita sedang membutuhkan bantuan.

Saya jadi teringat dengan cerita mantan preman yang berkata (kurang lebih) seperti ini: 

Apa salah jika saya menjadi preman untuk mendapat uang dan membeli makan untuk anak saya yang merengek kelaparan? Saya merasa bersalah jika saya membiarkan anak saya menangis dan merengek karena lapar dan hanya bisa mencium bau opor ayam yang dibikin tetangga saya, sementara saya tidak bisa membelikan karena tidak punya uang. Dan yang bersalah adalah tetangga saya yang memasak opor ayam dan hanya membagi baunya kepada keluarga saya, tetapi tidak membagi opor ayamnya untuk kita makan.

Jadi, zaman boleh berubah menjadi serba canggih, tetapi kita harus tetap mengingat bahwa kita tidak hanya bersifat individual, tetapi juga bersifat sosial. Jika ada tetangga kita melakukan tindakan kriminal, mungkin saja kita menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab.

Dan saya memiliki keyakinan, hukum rimba akan selalu hidup di sekitar kita. Namun, kita tidak boleh bersikap pasif dan anarki. Sebaliknya, kita sebagai warga sipil harus membantu pemerintah melakukan trade off dengan cara lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar kita.