Musim hujan sudah datang, headline koran dan breaking news televisi sepertinya tidak akan jauh-jauh dari isu banjir bandang, tanah longsor, rumah-rumah terendam, arus transportasi yang lumpuh. Fenomena tersebut bisa disandingkan dan sejajar dengan kemacetan pra dan paska mudik lebaran, lonjakan harga pas ramadhan, dan kampanye SARA pemilihan kepala daerah. Rutin, tak pernah absen.

Beberapa waktu lalu, sempat ramai diberitakan duka bangsa usai banjir bandang di Garut. Ratusan rumah diporak-porandakan di tujuh kecamatan. Selain menimbulkan kerugiaan material maupun immaterial yang amat besar, terdapat fakta yang terungkap. Kawasan hutan lindung yang berubah menjadi lahan perkebunan, pembangunan villa-villa di lahan wisata, dan mungkin nanti akan ditemukan berbagai eksploitasi alam besar-besaran lainnya.

Sembilan belas tahun tinggal di daerah yang sebagian besar penduduknya masih bekerja di bidang pertanian, peternakan, jual-beli yang masih cukup sederhana tanpa eksploitasi besar-besaran kepada alam, sembilan belas tahun pula Saya tak pernah melalui jalan yang terendam air lebih dari mata kaki, motor mogok karena mesinnya terendam genangan.

Walaupun dengan intensitas hujan yang sama, berjam-jam, berhari. Di kota ini, kota rantau, kota industri yang katanya berbasis UMKM, hampir tiap musim hujan di titik padat selalu ada genangan, melumpuhkan mobilitas warganya. Anak-anak kecil yang tak pernah tahu sungai bersih seperti di darah asalku, riang gembira berenang gratis di jalanan yang airnya selutut itu.

Lalu, apa sebenarnya terjadi di negeri kita. Saya mengamati hampir tiap musim hujan, sungai dikeruk, got-got dibongkar. Tapi tanah-tanah ditanami beton-beton, sawah-sawah jadi perumahan, kampung desa disulap jadi pabrik-pabrik. Sampai kapan model pembangunan berlandaskan eksploitasi besar-besaran pada alam Indonesia akan terus digalakkan? Sampai rumah-rumah diterjang bandang? Kapitalis berpindah daerah jajahan?

Oh, jadi rindu betapa asiknya hujan di kampungku, khusyuk menikmati rintik hujan bersama ketela rebus-hangat. Meski sambil mencari tetes-tetes rembesan hujan untuk ditadahi timba agar tidak basah dimana-mana. Atau bisa tidur nyenyak di kamar pesantren, sedang adzan berkumandang, karena hujan lebat, tapi akhirnya digebuki Gus Wafa dengan rotan.

Kecuali, untuk mengingat mantan, hujan di mana pun akan terasa menyakitkan.