Suara ratusan tetes hujan yang menghantam genteng rumah terdengar semakin ribut. Aku mendekam di kamar sempit nan lembap ini sendirian. Kamar yang biasanya hangat ini menjelma dingin di musim penghujan. Remang lampu neon lima watt yg kupandangi sejak tadi sembari meraba suara hujan kini perlahan berpendar.

Aku benci hujan. Apalagi hujan deras. Aku lebih benci lagi musim hujan. Sesuatu tentang hujan selalu membuatku kesepian. Hujan berarti ketidakhadiran lelaki itu. Lelaki dengan senyum menawan yang begitu kucinta.

Aku jatuh cinta dengan senyumnya yang menawan. Hingga perlahan aku juga mulai mencintai sang pemilik senyum itu. Selama tiga tahun ini, aku adalah pelangi yg mewarnai hidupnya yang serba monokrom.

Paling tidak begitulah menurutnya. Entah itu benar atau hanya bualan klise. Aku telan saja bulat-bulat. Terkadang cinta mampu menyulap semua ucapannya menjadi sabda yang selalu shahih di dtelingaku.

Jika hujan turun, lelaki dengan senyum menawan itu tak akan datang. Dan aku harus melewati malam panjang sendirian. Itu komitmen yg kami sepakati. Jadi musim penghujan adalah akumulasi kesepian panjang yang terus kudekap dan kuakrabi.

Jika hujan turun, lelaki dengan senyum menawan itu harus pulang ke rumahnya. Rumah yang sesungguhnya. Rumah yang ditempati wanita utamanya. Wanita sah nya yang dikenal dunia.

Rumah yang berisi  ruang-ruang monokrom yang tidak ia suka namun terasa lebih nyata. Katanya, hujan selalu berarti dingin. Wanita utamanya selalu butuh kehangatan disaat hujan. Dan ia harus berada di rumah dengan ruang serba monokrom itu.

Hujan adalah pertanda untuk mengalah. Untuk kemudian, berbagi cinta dengan sang wanita utama yang juga butuh kehangatannya.

Bukankah hujan membuat segala sesuatu menjadi tidak adil? Aku mengalah dan hanya menerima sisa waktu lelaki itu semata-mata karena aku adalah si wanita yang mengenalnya belakangan.  

Hujan tidak selamanya berkah bagiku. Hujan terang-terangan menyadarkanku bahwa aku hanya mampu menerima sepotong cinta yang sudah terbelah.

Pikiranku kembali ke kamar lembap ini. Hujan kemudian semakin deras. Lampu neon lima watt itu kulihat tak lagi berpendar. Mungkin karena bulir air di rongga mataku sudah menetes.

Februari yang masih hujan.