Sejak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyertakan 10% soal HOT (Higher Order Thinking) dalam Ujian Nasional, banyak dari pendidik yang masih kebingungan tentang penerapan teknisnya saat pengajaran di kelas. Orang tua di rumah pun kebingungan bagaimana membantu di rumah. Apakah dengan memberikan soal HOT saja sudah cukup? 

Dalam bukunya HOT Skills: Developing Higher-Order Thinking in Young Learners, Saifer (2018) menegaskan bahwa HOT merupakan kemampuan berpikir yang menggabungkan berpikir kritis dan kreatif saat melakukan empat proses berpikir: memutuskan sesuatu (decision making), menyelesaikan permasalahan (problem solving), merencanakan strategi (planning a strategy), dan menganalisa (analysing).  

Berpikir kritis berarti bukan cuma sekadar mengetahui, tetapi memahami ilmu, bisa membedakan mana informasi yang hoax dan tidak. Berpikir kreatif berarti memberikan ide dan inovasi yang bisa memberikan dampak besar untuk kehidupan. 

Dari definisi tersebut jelas bahwa HOT bukan sekadar kemampuan menjawab soal, tetapi HOT merupakan kebiasaan berpikir yang harus ditanamkan ke anak didik, baik di sekolah maupun di rumah. Implikasi dari definisi ini adalah pendidik dan orang tua harus mengubah cara mengajar dan mendampingi anak belajar hingga anak terbiasa bernalar tinggi. 

Membuat berbagai kegiatan permainan saja tidak cukup untuk membuat anak bisa menalar. Justru yang harus dilihat adalah apakah dalam setiap kegiatan yang dilakukan sudah melatih anak untuk bernalar tinggi. 

Membiasakan anak bernalar menjadi penting di abad ke 21 ini karena Internet sudah berperan menyediakan informasi baru setiap detiknya. Anak mencari tahu informasi hanya dengan mengetikkan kata kunci di laman pencarian Google. Salah satu cara untuk membuat anak terbiasa bernalar adalah guru berhenti mengajar dengan menerangkan dan membatasi waktu guru bicara seminimum mungkin. 

Pendidik atau orang tua sudah tidak lagi memberitahukan informasi. Yang harus dilakukan adalah mengajar dengan bertanya, dimana guru memberikan pertanyaan yang membuat anak menalar informasi yang pernah dilihatnya dari Google atau dari media lain, dan memastikan anak memahami makna dan implikasinya, serta menilai apakah valid dan relevan dengan kehidupannya. 

Misal, anak tahu tentang buah apel dari program interaktif anak di Internet. Anak tahu huruf-huruf pembentuk kata apel dan melihat bentuknya. Lalu, pendidik atau orang tua mengembangkan pengetahuan itu dengan cara yang memberikan pertanyaan yang membuat anak menalar tentang apel. Tunjukkan sebuah apel kepada anak dan bertanya, “Bagaimana kamu tahu kalau ini apel?” akan membuat anak berpikir lebih dalam dibanding dengan bertanya, “Ini buah apa?” 

“Never say anything a kid can say! This one goal keeps me focused. … it has forced me to develop and improve my questioning skills. It also sends a message to students that their participation is essential. Every time I am tempted to tell students something, I try to ask a question instead.” (Reinhart, 2000, p.480)

Adalah Steve C. Reinhart, seorang guru matematika di Chippewa Falls Middle School, membuka mata saya tentang bagaimana membuat siswa benar-benar belajar saat di kelas. Saat membaca artikelnya “Never Say Anything A Kid Can Say”, banyak hal yang membuat saya terkesan dengan metode pengajaran yang dilakukannya. Apalagi, Reinhart juga mengajar di kelas sekolah menengah, sehingga masalah yang dialaminya kurang lebih sama dengan yang saya alami di sekolah.

Reinhart menyampaikan dua hal penting yang saya juga sepaham dengannya. Pertama, Reinhart merasa bahwa sebagai guru, ia merasa turut andil dalam menciptakan tingkat pencapaian kemampuan siswa yang rendah, yang membuatnya melakukan evaluasi kembali terhadap metoda dan pendekatan mengajarnya. 

Kedua, Reinhart mendapat pencerahan bahwa saat ia mendemonstrasikan atau menerangkan sebuah konsep di depan kelas, ia banyak belajar hal baru, tetapi tidak dengan siswanya. Ia makin pintar tetapi siswanya tidak. Saya pun sepakat dengan Reinhart bahwa saya harus mengubah paradigma dimana awalnya dari keharusan “menerangkan dengan jelas hingga siswa mengerti” ke “siswa bisa menerangkan konsep dengan sangat baik sehingga orang lain bisa mengerti maksudnya.”

Jika ingin membuat anak bisa berpikir kritis, maka pintar mengajukan pertanyaan juga harus dibiasakan. Reinhart membagi jenis pertanyaan ke dua golongan besar. Yang pertama adalah pertanyaan produk yang berupa pertanyaan tertutup dengan 5W (What, where, when, which, who). Jawaban yang diminta hanya kalimat pendek atau satu kata, “ya” atau “tidak”. 

Seperti halnya sebelumnya saya suka bertanya di akhir sesi pengajaran, “Sudah mengerti semua?” dan satu kelas menjawab, “Sudaaahh!” lalu semua panik saat saya bilang “Kalau begitu, besok kita ulangan, ya.” Menjawab pertanyaan jenis produk hanya membutuhkan ingatan tajam dan hafalan yang kuat. Bahkan hanya untuk membuat sang guru senang karena seakan siswa mengerti apa yang sudah diterangkannya.

Lalu yang kedua adalah pertanyaan proses yang berupa pertanyaan terbuka. Pertanyaan proses meminta siswa untuk melihat kembali sebuah fenomena, menganalisis dan menjelaskan latar yang mengiringinya. Untuk menjawab pertanyaan proses, siswa harus memiliki daya nalar, sebab akibat, dan logika yang baik. 

Beberapa bentuk pertanyaan proses seperti ‘bagaimana bisa, dapat dari mana jawaban itu, bagaimana kalau diganti dengan…’ Pertanyaan proses yang terbuka juga berarti membuka kesempatan untuk siswa bisa memberikan respon jawaban atau solusi penyelesaian lebih dari satu.  Sehingga, membuat guru bisa menilai sejauh mana pemahaman siswa menyerap materi pembelajaran.

Jujur, mengajar dengan bertanya ini memang susah pada awalnya. Saya selalu cenderung untuk banyak menerangkan, seakan tidak percaya bahwa anak didik saya punya kemampuan untuk menalar. 

Saya pun sering menahan diri untuk tidak selalu menjawab langsung pertanyaan dengan jawaban, tetapi saya banyak memberi petunjuk dan meminta mereka menyimpulkan sehingga penalaran mereka terbentuk. Hal yang sama bisa juga dilakukan orang tua di rumah sehingga baik sekolah dan keluarga bisa membentuk anak sebagai generasi bangsa masa depan dengan kemampuan nalar tinggi (HOT). 


Referensi: 

Reinhart, S. D. (2000). Never say anything a kid can say. Mathematics Teaching in the Middle School, 5(8) 478–483. The National Council of Teachers of Mathematics.

Saifer, S. (2018). Higher Order Thinking Skills: Developing Higher Order Thinking in Young Learners, Ages 4 to 8. Redleaf Press. First Editon.