Sering dikatakan bahwa periode modern dimulai pada 1492, ketika Chistoper Columbus menyeberangi Samudera Atlantik dengan harapan menemukan jalur pelayaran baru ke India, dan pada akhirnya justru menemukan Benua Amerika. Pelayaran ini tentu mustahil dilakukan tanpa adanya penemuan-penemuan ilmiah, seperti kompas magnetik dan pengetahuan terbaru dalam astronomi.

Saat kita melompat membuka buku sejarah tiga abad kemudian, dunia telah dibentuk oleh kelompok-kelompok kecil inovator berwawasan ke depan. Sepuluh ribu tahun yang lalu, sebagian besar orang adalah pemburu dan pengumpul serta hanya beberapa pelopor di Timur Tengah menjadi petani. Namun masa depan menjadi milik petani. 

Pada tahun 1850, lebih dari 90 persen manusia adalah petani. Kemudian muncul revolusi industri. Mesin-mesin uap, kereta api, dan telegram mentrasformasi produk makanan, tekstil, kendaraan, dan senjata, memberi kekuatan industri keunggulan atas masyarakat petani agrikultur tradisional. 

Sepanjang sejarah, pasar tenaga kerja terbagi menjadi tiga sektor utama: pertanian, industri, dan jasa. Sampai sekitar tahun 1800, mayoritas besar orang bekerja di pertanian dan hanya minoritas kecil yang bekerja di industri serta jasa. Saat revolusi industri, masyarakat di negara-negara maju meninggalkan ladang mereka. Sebagian besar mulai bekerja di industri dalam jumlah yang terus bertambah, mereka juga bekerja di sektor jasa yang kian membesar.

Dalam bukunya Homo Deus, Yuval Noah Harari menuliskan secara simultan ekonomi global telah tertransformasi dari ekonomi berbasis materi menjadi ekonomi berbasis pengetahuan. Sebelumnya, sumber utama kekayaan adalah aset materil seperti tambang emas, ladang gandum, dan sumur-sumur minyak. Kini, sumber utama kekayaan adalah pengetahuan. 

Dan, walaupun Anda bisa menaklukkan ladang-ladang minyak melalui perang, Anda tidak bisa merebut pengetahuan dengan cara seperti itu. Karena itu, kini pengetahuan menjadi sumberdaya ekonomi yang paling penting.

Pada tahun 1998, masuk akal bagi Rwanda untuk merebut dan menjarah tambang-tambang coltan yang melimpah di negara tetangganya, Kongo, karena logam itu sangat dibutuhkan untuk pembuatan telepon seluler dan laptop. Dan, Kongo memiliki 80 persen cadangan coltan dunia. Rwanda meraup 240 juta dolar setiap tahun dari coltan jarahan itu. 

Bagi Rwanda yang miskin, itu jumlah uang yang besar. Sebaliknya, sama sekali tidak masuk akal bagi China untuk menginvasi California dan merebut Silicon Valley, yang terjadi China sudah meraup miliaran dolar dari kerja sama dengan raksasa teknologi seperti Apple dan Microsoft, membeli perangkat lunak mereka dan membuat produk mereka. Uang yang didapat Rwanda dari penjarahan coltan Congo setahun bisa  didapat China dalam satu hari saja melalui perdagangan yang damai.

Dari China, Google, hingga Arab Spring

Program pengawasan nasional China diluncurkan pada 2005, bertujuan untuk menciptakan sebuah pengawasan nasional dengan menyelimuti negara menggunakan CCTV berkemampuan mengenali wajah dari segala arah, menggabungkan 200 juta kamera pengawas yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang telah digunakan untuk menangkap sekitar 2.000 tersangka sejak tahun 2016.

China mengklaim teknologi seperti itu akan digunakan untuk melacak buronan dan menemukan orang yang hilang, tetapi potensi penyalahgunaannya sudah jelas. Partai Komunis menyebutnya sistem kredit sosial, tujuannya melatih bagaimana seseorang seharusnya bersikap, apakah mereka membayar tagihan tepat waktu, dan apakah mereka berpartisipasi di organisasi yang terlarang. Semakin tinggi skor kredit sosial seseorang, maka ia dianggap warga negara yang baik, dan tentu saja memperoleh berbagai kemudahan, begitu pula sebaliknya. 

Liu Hu salah satu contohnya. Di banyak masyarakat dunia, ia akan dipuji, tapi bukan di China. Liu Hu adalah seorang wartawan investigasi yang telah menemukan korupsi di tingkat atas Partai Komunis dan memecahkan kasus pembunuhan berantai. Pemerintah menganggapnya sebagai musuh. 

Hu kehilangan nilai kredit sosialnya ketika ia dituduh melakukan tindak kriminal dan dikucilkan dari masyarakat karena nilai kredit sosialnya rendah. Pada 2015, Hu kalah di pengadilan untuk kasus pencemaran nama baik setelah dia menuduh seorang pejabat melakukan pemerasan. Pria berusia 43 tahun itu dimasukan ke daftar hitam sebagai "orang tidak jujur" di bawah skema percontohan kredit sosial. 

Di sebuah apartemen di Kota Chongqing, Hu mencoba menggunakan aplikasi telepon untuk memesan tiket kereta cepat ke Xian, kampung halamannya, namun ditolak. Akun media sosial Hu, di mana ia menerbitkan banyak karya jurnalisme investigasi, juga telah ditutup.

Dalam pemilihan presiden Amerika 2017 lalu, Cambridge Analytica mengungkap bagaimana mereka membantu pemenangan Donald Trump. Memetakan ciri kepribadian pemilih dengan mengidentifikasi perilakunya berdasarkan apa yang ia suka di Facebook, kemudian mengirimkan pesan-pesan manifesto kampanye Trump yang berdampak pada sikap mereka.

Pada tahun 2016, beberapa korporasi seperti Google dan Tesla, merancang mobil otonom yang sudah menjelajahi jalanan. Algoritma yang mengendalikan mobil otonom membuat jutaan kalkulasi setiap detik berkaitan dengan mobil-mobil lain, pejalan kaki, lampu lalu lintas, dan lubang-lubang. Mobil otonom itu sukses berhenti di lampu merah, melewati rintangan, dan menjaga jarak aman dari kendaraan lain, tanpa merasa takut. 

Mobil itu juga perlu memperhitungkan dirinya sendiri dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keinginannya kepada kendaraan lain, karena jika ia memutuskan untuk belok kanan, maka bila itu dilakukan akan berdampak pada kendaraan lain. Mobil itu melakukan semuanya tanpa masalah, juga tanpa kesadaran.

Revolusi di Timur Tengah yang dikenal sebagai Arab Spring tidak lepas dari peran teknologi, utamanya media sosial yang menyebabkan revolusi tersebut menjalar secara transnasional. Di Mesir, ribuan orang menyelimuti lapangan Tahrir Square, menjaring dukungan melalui Facebook dan Twitter menuntut Presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa lama untuk turun hingga akhirnya berhasil menggulingkannya. Nasib yang sama juga menimpa Ben Ali di Tunisia dan Moamar Khadafi di Libya.

Dengan sama-sama menggunakan mesin dan algoritma, apa yang terjadi di China dan Amerika seperti gambaran distopia kehancuran kebebasan masa depan, sementara itu dibelahan dunia lain, mesin dan algoritma menjadi pintu gerbang pembuka demokrasi, dan mobil otonom Google menciptakan ketertiban lalu lintas tanpa mengorbankan kebebasan makhluk sadar bernama manusia.

Sistem gudang otomatisasi Amazon. Robot terhubung internet menggantikan tenaga kerja manusia untuk bergerak di gudang memilih barang yang dipesan pelanggan

Para Inovator: Startup jadi Unicorn 

Berkembangnya teknologi internet menjadi salah satu peluang inovasi. Contohnya adalah kesuksesan Jack Ma mendirikan Alibaba pada tahun 1999, yang kini menjadi salah satu raksasa e-commerce yang menghubungkan produk buatan China dengan para pembeli di seluruh dunia. Pada 2015, nilai Alibaba ditaksir mencapai 212 miliar dolar atau 3 ribu triliun rupiah, lebih besar dari APBN tahunan Indonesia.

Di tanah air sendiri, hasil riset UI baru-baru ini mengungkapkan, GO-JEK yang resmi berdiri 13 Oktober 2010 dengan 20 orang pengemudi, delapan tahun kemudian—saat ini, telah tersedia di 50 kota di Indonesia, sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali di Google Play, dan fantastisnya berkontribusi Rp8,2 triliun per tahun ke dalam perekonomian Indonesia melalui penghasilan mitra pengemudi. 

Satu hal lagi, yang akan membuat para sarjana muda menggerutu: pendapatan rata-rata seluruh mitra pengemudi sebesar Rp3,31 juta, lebih tinggi dibandingkan pendapatan pegawai pada umumnya: Rp3,10 juta pegawai transportasi, Rp2,34 juta pegawai industri, dan Rp2,66 juta pegawai umum.

Presiden Joko Widodo menghadiri peluncuran Go-Viet pada September lalu, aplikasi penyedia jasa transportasi di Vietnam yang berkolaborasi dengan Gojek

Jika kita membuka majalah berisi daftar orang-orang kaya dunia empat dekade lalu, umumnya mereka berasal dari latar belakang pengusaha pertambangan dan pertanian beserta produk turunannya. 

Kini "The World's Billionaires" mayoritas diisi para inovator teknologi, e-commerce, dan media. Di antaranya nama-nama besar seperti Bill Gates pendiri Microsoft, Jeff Bezos pendiri Amazon, Mark Zuckerberg pendiri Facebook, Larry Ellison pendiri Oracle, Larry Page pendiri Google, dan Jack Ma pendiri Alibaba.

Hanya Moralitas yang "Membendung"

Sekarang pertanyaan untuk kita, siapkah kita bila suatu hari nanti, dalam waktu dekat, robot dan kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan kita tanpa perlu melalui proses pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas, seperti lazimnya yang harus kita lalui? Siapkah kita ketika algoritma tanpa nyawa tapi sangat pintar mengenal kita lebih baik dibanding kita sendiri? Siapkah kita menerima bila di tengah masyarakat?

Beberapa individu lebih memilih produk teknologi yang ganjil seperti robot seks untuk dijadikan pacar daripada manusia bernyawa bernama wanita. Jika sebagian dari kita menganggap itu hal gila dan amoral, saya sarankan Anda perlu menunaikan hak demokrasi Anda untuk protes di depan kantor pemda Tokyo di Jepang.

Tapi itu semua bukanlah pertanyaan baru. Sejak revolusi industri, orang takut mekanisasi bisa menyebabkan pengangguran massal. Ini tidak pernah terjadi karena setelah profesi-profesi lama menjadi usang, profesi baru muncul, dan selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia yang lebih baik daripada mesin. 

Manusia memiliki dua jenis kemampuan dasar: fisik dan kognitif. Sepanjang mesin bersaing dengan manusia dalam kemampuan fisik, banyak pekerjaan kognitif yang bisa dilakukan manusia lebih baik dari mesin. Meskipun demikian, tak ada jaminan keadaannya akan tetap seperti itu, dan apakah moralitas di masa mendatang masih mampu membendung liarnya produk teknologi.

Di negara dengan tingkat kelahiran negatif dan populasi yang terus menua seperti Jepang, robot seks atau boneka seks semakin lumrah ditemui ditengah masyarakatnya

Perkembangan dunia teknologi yang demikian mengagumkan telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia.  

Sejarah panjang tiga milenium dengan perlahan-lahan tapi pasti telah mengubah sisi kemanusiaan kita dari Homo sapiens nomaden pengumpul pemburu hingga menjadi politisi di parlemen yang mustahil hidup tanpa teknologi—homo technologicus. Kita, manusia, bukan hanya mencipta teknologi untuk kemudahan dan kenyamanan hidup, tetapi bahkan menjadi kreator mesin-mesin pengganti manusia dengan kemampuan melebihi tubuh biologis kita sendiri.