Akhir-akhir ini fenomena julid merupakan hal yang sudah lumrah dalam masyarakat. Julid sendiri berasal dari bahasa sunda yang berarti iri, dengki, dan suka ikut campur dengan urusan orang lain. Kata julid pertama kali dipopulerkan oleh Syahrini untuk mengomentari perilaku netizen yang sering kali mengomentari penampilan nyentriknya.

Istilah lain dari kata julid adalah ‘kepo’, kedua kata tersebut secara tidak langsung memiliki makna yang yang sama yaitu ingin mengetahui atau ikut campur dengan urusan orang lain. Namun, kata ‘kepo’ sendiri berarti rasa serba ingin tahu terhadap objek lain secara detail, baik terhadap benda mati maupun benda hidup.

Kata ‘kepo’ merupakan sebuah akronim dari knowing every particular object. Dari arti kepo tentunya merupakan hal baik karena mengetahui banyak hal dan mengerti tentang suatu hal secara mendalam adalah salah satu bentuk dari pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, pada realitanya kepo sering kali berkonotasi negatif dan dituduh sebagai orang yang sok tahu.

Di masyarakat, kata kepo sering dikaitkan dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap orang lain; baik di sosial media maupun di dunia nyata. Pertanyaannya; kenapa sih manusia suka mengurus urusan orang lain? Mengapa kita ‘kepo’ dengan orang lain? 

Jawabannya sederhana; yaitu karena manusia adalah ‘homo julid’. Alasan dari sifat kepo yang dimiliki manusia karena manusia merupakan makhluk sosial begitu sering memikirkan tentang orang lain. 

Menurut Fiske dan Tylor; manusia lebih banya memikirkan tentang manusia lainnya dibandingkan topik lainnya. Hal itu dilakukan sebagai langkah dasar dalam mencapai penerimaan sosial (social acceptance). 

Kepo terhadap orang lain merupakan suatu proses yang berkelanjutan karena kita memiliki begitu banyak hubungan interpersonal dan kelompok sosial yang ingin kita jalani dengan baik. Untuk mencapai penerimaan sosial tentunya kita harus mengenal dan memahami berbagai macam karakteristik individu yang ada di sekitar kita.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui atau membaca orang lain? Jawabannya dengan cara melakukan proses membuat penilaian terhadap orang lain. Singkatnya, kita melakukan pembentukan kesan terhadap orang lain (impression formation). 

Dalam melakukan impression formation, sebagin besar dari kita cenderung melakukan pembentukan kesan secara otomastis tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh dalam memproses informasi tentang orang lain (automatic processing). Hal ini tentu saja merupakan hal yang keliru yang akan menyebabkn adanya kesan positif atau kesan negatif.

Impressin formation yang kita lakukan terhadap orang lain secara tidak langsung akan melandasi persepsi sosial yang kita miliki. Persepsi sosial merupakan istilah umum dalam psikologi yang merujuk pada proses manusia untuk memahami manusia lainnya. Persepsi sosial dilakukan dengan cara mengamati penampilan, situasi, dan perilaku.

Bayangkan saja ketika kita sedang jalan-jalan ke suatu tempat kemudian secara tiba-tiba ada orang asing yang menghampiri kita dan meminta bantuan agar kita bersedia meminjamkannya handphone. 

Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita langsung menolaknya atau berusaha berpikir positif dan mencoba menolongnya?

Tentunya hal pertama yang akan  kita lakukan adalah bersikap lebih waspada dan mencurigai orang tersebut. Kita mulai memperhatikan penampilan orang tersebut mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dan bisa saja kita menganggap orang tersebut adalah penipu atau bahkan penjahat.

Namun, setelah mengetahui situasi yang dialami orang tersebut, bahwa ternyata ia baru saja kehilangan handphonenya dan ia mencoba untuk mecari handphone miliknya dengan cara menghubungi nomor miliknya. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan bersikukuh untuk tidak menolongnya atau sebaliknya?

Kini kita mulai mngetahui betapa labilnya persepsi manusia, namun bukan itu saja letak permasalahannya. Selain labil,  keinginan kita untuk memahami orang lain cenderung dalam ‘mode rebahan’ alias automatic processing

Psikolog sosial menyebut manusia sebagai cognitive miser karena manusia enggan menggunakan energi lebih untuk berpikir (Fiske & Taylor, 1984, 1991). 

Sebagaimana manusia enggan untuk ‘rekoso’ alias susah payah dalam hal lainnya, manusia juga enggan untuk berpikir terlalu banyak atau terlalu keras. Keengganan berpikir keras ini mempengaruhi bagaimana kita memahami orang lain.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya, karena adanya suatu proses mental yang disebut dengan heuristik. Heuristik inilah yang nantinya mendukung hobby kita ‘kepo tanpa rekoso’. 

Jadi sebenarnya heuristik itu apa? Heuristik adalah mempersingkat atau memotong proses mental dalam berpikir. 

Sehingga, kita sangat mudah sekali mengambil kesimpulan dan mengklasifikasikan orang lain yang baru saja kita temui atau kenal berdasarkan sedikit informasi yang kita ketahui tentang orang tersebut. Heuristik biasanya digunakan oleh individu untuk keluar dari lingkungan yang kompleks.

Loh, tapi itu logis kan? Kita menggunakan informasi untuk memahami, memprediksi, hingga mengambil keputusan tentang seseorang. Iya, logis. Tapi logikanya minimum, karena cuma bermodalkan satu dua informasi yang kemungkinan kelirunya besar.

Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan heuristik, automatic processing, dan persepsi sosial kita untuk memahami orang lain, karena kita bisa keliru dan melukai orang lain akibat salah sangka. Apalagi kalau menyangkut hal-hal serius yang harus bisa dipertanggungjawabkan.

So, jadilah manusia yang cerdas. Kepo sama orang gak ada yang larang kok, karena itu manusiawi tapi jangan asal ‘kepo’ yang nantinya membuat kita salah kaprah. Bukannya jadi nambah relasi eh taunya malah jadi benci.