Tulisan ini bicara soal jengkol dan evolusi kesadaran, serta peran komik dan pop culture pada masa depan manusia Indonesia. 

So,  let's get the party started.

Kasus Jengkol

Kesadaran terbit dari jengkol. Pada suatu hari, Agus Mulyadi menderita setengah mati. Setelah makan jengkol dengan beringas, perutnya sakit tiada tara, tapi tak tahu sebabnya. 

Sial baginya namun hoki bagi kita, karena deritanya terkait erat dengan kesadaran dan ketidaksadaran.

Pada bab delapan di Homo Deus, Yuval Noah Harari berargumen bahwa manusia sebenarnya bukanlah individual. 

Berikut beberapa argumennya: eksperimen tikus Profesor Talwar, diri yang terbelah pada pasien Profesor Wolcott, dan hasil eksperimen Daniel Kahneman tentang minimal dua diri yang berbeda pada manusia. Bahwa manusia menginginkan berdasarkan perasaan yang tidak mereka sadari, dan tidak memilih secara sadar. 

Intinya, Yuval mau bilang bahwa manusia tidak berkesadaran. Bahwa manusia itu dividual (terpisah menjadi bagian-bagian yang tidak tunggal), tidak jelas tentang dirinya sendiri, tak punya kehendak bebas, sehingga tidak memegang kendali atas keputusannya. Dan ini berlaku bagi semua manusia. 

Saya disagree dengan Yuval. Ada miliaran manusia di bumi, masa semuanya tidak sadar? Impossible

Kembali ke derita Agus. Karena kebanyakan makan jengkol, ia overdosis asam jengkolat. Penawarnya adalah sprite, yang mengandung bikarbonat bersifat basa. Basa menyeimbangkan ekstremisme asam di sistem Agus. Ia kembali seimbang, moderat, dan akibatnya kembali sehat walafiat. 

Mari kita analisis siksa jengkol ini lebih jauh. Agus menderita karena tidak melek prinsip keseimbangan, tidak melek akan badannya sendiri, dan tidak bisa mengendalikan nafsu biokimiawinya akan jengkol. 

Dirinya yang berpikir terpisah dari dirinya yang ngidam jengkol, sehingga tidak memoderasi porsi jengkol dan setelah makan tidak mengimbangi dengan basa. Akibatnya derajat keseimbangannya terjun bebas, dan dia menderita. 

Kesimpulannya, Agus tidak berkesadaran karena tidak melek dan tidak utuh di berbagai level, namun hanya dalam kasus jengkol. Di kasus lain, bisa saja dia melek dan utuh. Dari sini, kalau dikembangkan, kita bisa tahu apa itu kesadaran. 

Kesadaran adalah derajat keutuhan-seimbang. Dan fondasinya adalah melek. Meta-kognisi. Seberapa mampu melakukan refleksi dan introspeksi atas diri dan situasi. Seberapa melek akan bagian-bagian diri. Seberap paham akan hukum dan prinsip esensial dalam hidup. Seberapa paham akan why dan how dalam realita. 

Semakin melek, akan semakin utuh-seimbang, dan semakin sadar. Pertama, bisa diterapkan ke diri dalam bentuk self-knowledge. Melek bagian-bagian diri sehingga bisa menyeimbangkan dan menyatukannya. 

Makin seimbang dan utuh seseorang, makin dekat ke individual. Makin melek diri dan situasi, makin sadar. Terbangun dari Matrix, lalu makin punya kehendak bebas dan kendali situasi.

Sebaliknya, makin tidak paham esensi, akan semakin tidak seimbang dan scattered, sehingga makin dividual. Semakin gagal mengenali diri dan situasi, dan makin tidak sadar. Tertidur di Matrix, tak berdaya dan tanpa kendali, lalu menderita. 

Jengkol Agus memperlihatkan jelas bedanya, perkembangan dari ketidaksadaran ke kesadaran. Dari gak paham jadi melek. Dari menderita jadi tidak menderita. Kuncinya : pemahaman esensi realita.

Knowledge to elevate.

Jadi, untuk menjawab Yuval soal apakah manusia itu sadar atau tidak sadar, ya kembali ke masing-masing orang. Seberapa melek, utuh-seimbang, paham diri dan situasi sehingga pegang kendali dan memilih keputusan secara sadar. 

Ini sebabnya Dewi Lestari menulis Opto Ergo Sum, yang artinya: Aku (melek dan utuh dalam) memilih, maka aku ada (sebagai individual yang sadar). Dan ini tergantung kasusnya. Orang bisa melek pada satu persoalan tapi tak sadar pada persoalan lain.

Ini sebabnya di film Matrix Sang Arsitek ngobrol dengan Neo soal no ome knows, problem of choice, dan free will. Soal kebanyakan manusia menerima program (realita hidup) selama ada kemungkinan memilih, walau hanya disadari secara samar. 

Kenapa? Karena hidup berat dan bikin stres. Manusia bergantian antara sadar dan tidak sadar agar bebannya berkurang dan bisa hidup. Ini adalah mercy. Kalau oversadar dr awal, mungkin bakal menggila, seperti Clark Kent muda. 

Namun, manusia TETAP DIBERI kemungkinan memilih. Dengan knowledge, bisa melek dan memegang kendali. Bisa terbangun dari Matrix, bangkit dari kematian di dunia. Kalau terus diasah hingga kokoh-konsisten, bisa lanjut mengalami evolusi kesadaran dan ekspansi kehendak bebas. 

Sepanjang sejarah, dalam berbagai level, banyak manusia yang menyadari ini. Contohnya adalah Frank Herbert, penulis Dune, yang tokoh-tokohnya super sadar. Luar biasa melek situasi dan memegang kendali diri. 

Bisakah Yuval berkata bahwa Frank Herbert tidak sadar? Tidak, takkan bisa. Frank menunjukkan bahwa manusia bukan hanya bisa sadar, melainkan SUPER SADAR. Dan, oh iya, manusia itu beda dengan tikus, lo. Manusia bisa ekspansi daya baca, tikus tidak. 

Henshin

Pada episode Kick Andy on location tentang literasi, sebagian bintang tamunya adalah Najwa Shihab dan Ridwan Kamil. Mereka sangat antusias menggalakkan semangat membaca. Mbak Nana dan pegiat baca-literasi lainnya mungkin pernah ditanya, ”Kenapa sih saya harus baca? Manfaatnya ke hidup saya apa?” 

Kalau muncul pertanyaan begitu, jawabnya adalah supaya bisa membaca solusi situasi. Untuk anak-anak, supaya menarik jawabannya bisa divariasikan semisal, ”Supaya bisa berevolusi kayak Pokemon atau Digimon. Supaya bisa henshin jadi superhuman selevel Om Deddy Corbuzier, tapi sesuai minat kamu.”

 Proses henshin-nya bisa dijabarkan pakai komik, narasi bergambar yang seru dan berkualitas, yang bahannya adalah ekstraksi esensi realita.

 Tahap-tahap Henshin

 Pertama, to know. Ini tahap menata pikiran. 

Kalau rajin membaca, pikirannya bakal bisa melihat makin jelas, sehingga melek rahasia realita. Si manusia pun mendapat mata sebagai modal awal. Paham soal esensi sesuatu dan punya visi yang jelas. 

Contoh fiksinya adalah Mangekyo Sharingan (mata pembaca esensi) di manga Naruto. Contoh nyatanya adalah @selphieusagi soal tiga puluh juta dan kriteria pasangan ideal baginya. Dia tahu jelas alasannya. Artinya, dalam hal tersebut, Mbak Selvi telah melek sepenuhnya, dan berhasil henshin tahap to know. Respect. 

Kedua, to be dan to do. Tahap menata badan dan tindakan. 

Di sini, mata diarahkan ke badan sendiri, untuk membangun infrastruktur energi untuk melek kontinu. Memahami ritme dan energi diri sendiri lalu beraktivitas sedemikian rupa untuk maintenace dan upgrade-nya, sehingga terbangun tubuh non-fragile

Jadi tahu kapan bekerja dan kapan istirahat. Sehingga mampu mencapai visi yang dia lihat, berhasil berprestasi bagi dirinya sendiri. 

Melalui extended deliberate work, rest, and sleep. Self-knowledge yang menjadi self development. Hasil akhitnya malah lebih produktif dari sekedar kerja keras, karena pemanfaatan energi lebih efisien dan tepat guna. Ini dibahas oleh Alex Pang dalam bukunya ”Rest”. Darwin dan lainnya jadi produktif berkat ini lo. 

Tujuannya adalah konsistensi. Setelah ' mata' (to know), mendapatkan 'tubuh' sehingga menjadi (to be), akan bisa konsisten beraksi dan berjurus (to do).

Saat to be, belajar memahami mekanisme kestabilan homeostasis pribadi lalu mengokohkannya. Asam-basa, tensi tinggi dan rendah, siklus tidur-terjaga, dan sebagainya. 

Jadi bertenaga kuda, mental baja, berotak tajam, tahan lama, dan lebih cepat. Ini sebabnya kekuatan Quicksilver di Age of Ultron dijabarkan sebagai increased  metabolism and improved thermal homeostasis.

Contoh fiksinya adalah Mangekyo Sharingan plus chakra Hagoromo. Mata sekaligus suplai chakra, sehingga bebas berjurus. 

Contoh nyatanya adalah Christiano Ronaldo dan Deddy Corbuzier. Lebih gaek tapi lebih gahar daripada yang muda. Dengan menata badan dan pola hidup, nasib dan prestasi meningkat. 

Tahap to know, to be, dan to do adalah tahapan sampai si individu selesai dengan dirinya sendiri. 

Setelah mantap, kalau dia mau, bisa henshin ke tahap ketiga, yakni to love. Tahap menata dunia. Menggunakan mata dan kapabilitas untuk meng-upgrade realita sekitar.

Contoh skala kecilnya di fiksi adalah mata Akashi Seijuro di komik ”Kuroko's Basketball” yang bisa meng-upgrade kemampuan satu timnya sekaligus. 

Contoh nyata skala besarnya adalah Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, dan Mahatma Gandhi. Penstrukturan ulang realita  inilah inspirasi kekuatan Crazy Diamond di manga Jojo, yakni kemampuan yang kinder than anything else

To know,  to be,  to do,  and to love. Inilah elemen-elemen evolusi kesadaran manusia. Perkembangan bertahap mind over matter. Dari kecil ke besar, dari diri sendiri ke lingkungan hingga negara.

Self knowledge yg menjadi self balance dan self development, lalu lanjut ke world knowledge  dan world development. Adil (seimbang) dari pikiran dan berkembang hingga membentuk ulang realita material. 

Saya rasa, ekspansi keseimbangan inilah salah satu tujuan dr Iqro (membaca/literasi). Supaya melek esensi dunia dan meningkatkannya, sehingga membawa manfaat yang makin meluas. 

Mengingat perkembangan robotika dan AI, kita manusia jelas perlu mengembangkan kesadaran dan kapabilitas kita.

Fondasi Kemajuan Peradaban

Bahkan Aristoteles menerapkan keseimbangan. Ia punya konsep Rerata Emas, dimana nilai berada di antara titik ekstrem berlebihan dan kekurangan. Moderasi yang dikokohkan dan diekspansi. Saya rasa inilah fondasi eudaimonia, yakni kebahagiaan dan kemakmuran manusia.

Eudaimonia adalah tujuan dari filofofi praktis. Yakni menerapkan akal dan filosofi (cinta kebijaksanaan) pada realita praktis. Dari kecil ke besar, dan diri sendiri ke manusia lain.

Fondasi wajibnya adalah akal jernih sebagai instrumen iqro (melek/literasi). Hasilnya? Kita tahu sendiri betapa pesatnya Yunani kuno. 

Karena hanya manusia yang seimbang yang bisa membawa keseimbangan pada sekitarnya. Tahu melakukan sesuatu pada tempatnya. 

Sebaliknya, ketidakseimbangan kecil bisa berakumulasi menjadi besar. Contohnya stunting, yang berefek seumur hidup. Atau pengaruh pernikahan dini pada negara, seperti dijabarkan @landrinaline pada cuitannya.

Ini sebabnya AA Gym selalu berkata agar mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dan mulai saat ini. Sadar diri dulu, baru mengurusi orang lain. Seimbang dari pikiran, nyambung dengan konteks, sehingga bisa mencari solusi dan menyebarkan ketenangan itu ke sekitarnya. 

Kalau manusianya tidak seimbang dan buta konteks, bukannya membela agama malah membela ego pribadinya dan menambah keresahan di masyarakat. Inilah Agen Smith di film Matrix, yang secara paksa mencekokkan egonya dan mengubah orang lain menjadi fotokopinya.

Inilah maksud Ancient One pada Strange soal meresapi pelajaran paling sederhana dan signifikan, yakni, "It's not about you.” Artinya realita tidak sama dengan ego solipsistik seseorang, tidak berputar mengelilingi asumsi delusional si manusia. Jika GAGAL mengenali dan mengendalikan egonya, akan mudah mensetankan orang lain. 

Jadilah Neo Khawarij radikal yang mengatasnamakan ayat dan hadits secara tekstual-dogmatis-ekstremis. Para monopolis kebenaran yang menyebar kekerasan. 

Sebaliknya, jika dibiasakan seimbang membaca, akan mampu mengenali dan mengendalikan egonya, serta adil dalam menafsirkan tuntunan agama. Ini sebabnya banyak tokoh kredibel semisal Quraish Shihab menyerukan moderasi beragama. 

Jika manusia-manusia yang tidak brutal jumlahnya jadi cukup banyak dan berinteraksi lepas dalam lingkungan kondusif, akan memicu ledakan perkembangan peradaban, melalui pola fractal dan scaling, seperti dijabarkan Steven Johnson dalam buku sejarah inovasinya. 

Seperti Florence di Era Renaisans Italia. Seperti Yunani kuno yang cemerlang. Dan seperti Baghdad di era Harun al-Rashid. Era-era kejayaan, yang dirindukan umat manusia. 

Jadi, jelas sudah, jika suatu kaum ingin masa depannya mengalami peningkatan baik dari segi spiritual, sains-teknologi, maupun kebudayaan, maka perlu pendekatan yang seimbang dan utuh. Pendekatan parsial, ekstrem, dan barbar tidak akan pernah mendatangkan kemajuan yang diharapkan. 

Perintah pertama adalah Iqro (membaca/literasi/melek).

Membaca esensi realita secara utuh-seimbang. Secara kontekstual, bukan tekstual-dogmatis. Salah satu tujuan Iqro adalah evolusi kesadaran dan ekspansi keseimbangan melalui sains keutuhan. 

Baca Juga: Fakta dan Sains

Pop culture memegang peranan penting di sini, jembatan mengkomunikasikan pengetahuan esensial ke khalayak luas secara menarik,  seru, dan artistik. Karenanya pop culture mampu mengubah dunia. 

Inilah zaman dimana anak muda seperti Rizka Raisa melawan perundungan dengan komik Cipta yang diakui di level dunia (menang kontes komik Unicef). Kemarin ada yang meremehkan komik?  Itu pandangan kolot,  norak,  dan tidak lagi relevan. 

Yang relevan itu kalau bertanya, "Mau jadi apa generasi muda kalo gak baca komik? " Kalo pikirannya dipingit terus di Kuil Hitam Putih (House of Black and White di GoT), bakal berkembang jadi cenderung membunuh (menyembah Death,  the one god).  Atau jadi Agen Smith,  monster ego. 

Dan kalo nonton sinetron Azab terus, bisa mikir hitam putih. Bisa-bisa jadi Sith, those who deals in absolutes (mutlak-mutlakkan). 

Astaghfirullah. Naudzubillah. Jangan sampe, sodara-sodari! 

Komik berperan besar dalam pendidikan, semisal "Hataraku Saibou" dan "Dr. Stone". Sungguh,   penyinyir komik itu kurang berpikir. 

Apalagi, ini era revolusi pop culture lokal. Banyak platform komik keren semisal Ciayo. Mestinya didukung,  bukan diremehin! 

Mengingat pentingnya peran pop culture pada literasi Indonesia, mungkin perlu ditunjuk Duta Pop Culture Indonesia, untuk mendampingi Duta Baca Indonesia. Cerdas dan terkomunikasikan. Ini baru kombo maut! Agen Smith mah kelindas! 

Spiritualisme, akal, dan komunikasi itu tidak terpisah. Mestinya bekerja sama. 

Di akhir film terakhir Matrix, Neo bekerja sama dengan Deus ex Machina untuk mengalahkan Agen Smith, sehingga memungkinkan ko-eksistensi,  perdamaian,  dan kemajuan. 

In balance,  we can join forces to achieve New Renaissance

Literasi, moderasi, dan pop culture sangat penting bagi masa depan Indonesia. Dan henshin massal adalah koentji-nya...