Kabar bohong, atau sesuatu yang dapat memecah persatuan dan memicu perselisihan, dikenal sebagai hoax. Perkembangan hoax semakin pesat dari abad ke abad hingga sekarang ini.  

Awal mula hoax bisa ditelusuri bahkan sebelum 1600-an. Kebanyakan informasi pada era tersebut tidak digubris oleh masyarakat. Tetapi lambat laun trend hoax itu semakin meraja rela dan akhirnya banyak masyarakat yang menggangap itu adalah kebenaran.

Semakin berkembangnya teknologi di zaman modern ini, hoax sangat banyak dijumpai pada media sosial ketimbang media cetak. Bahkan di era digital ini, jumlah hoax sudah tidak terhitung lagi.

Tetapi berbeda dengan kasus yang sedang trend ini, yaitu kasus Ratna Sarumpaet. Ia menyebarkan hoax tidak melalui media elektronik, melainkan menyebarkannya secara langsung dari mulut ke mulut. Ia mengatakan bahwa dipukuli hingga bengkak oleh orang asing pada saat berpergian menggunakan taksi di Bandung setelah menghadiri sebuah konferensi internasional. Tetapi faktanya adalah ia telah melakukan operasi sedot pipi di rumah sakit daerah Jakarta yang mengakibatkan wajahnya bengkak.

Ia menyampaikan berita tersebut kepada keluarganya dan Prabowo Subianto yang merupakan calon presiden nomor urut 2. Ia mengaku telah kebablasan berbohong kepada Prabowo. Alhasil, Prabowo menyampaikan berita bahwa ia turut prihatin atas kejadian itu.

Tidak butuh waktu lama, pihak kepolisian langsung menetapkan Ratna Sarumpaet sebagai tersangka pada Jumat (5/10). Lalu, Prabowo dengan cepat meminta maaf kepada publik atas penyebaran hoax yang bersumber dari Ratna Sarumpaet. Namun, proses hukum tetap berjalan. Dari kejadian ini, Ratna Sarumpaet dijuluki “Ratu Hoax”.

Dilansir dari pikiran-rakyat.com (8/10), Pengacara Ratna Sarumpaet, Insank Nasrudin, segera mengajukan status tahanan kota untuk kliennya ke penyidik Polda Metro Jaya. Insank menyebutkan pertimbangan pengajuan tahanan kota karena faktor kemanusiaan terhadap Ratna yang telah memasuki usia lanjut.

Insank mengatakan Ratna telah memasuki usia 70 tahun sehingga akan kesulitan untuk beraktivitas di rumah tahanan. Insank juga menjamin kliennya tidak akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulang tindak pidana lainnya.

Insank menegaskan Ratna tidak berniat melarikan diri saat ingin berangkat ke Chili yang kemudian ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang Banten. Rencana keberangkatannya itu hanya untuk datang ke undangan acara kebudayaan internasional yang dibiayai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ratna Sarumpaet dapat dijerat dengan 0asal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946: “Barangsiapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.”

Kemudian, polisi juga perlu usut dugaan adanya faktor intelektual atas tindakan penyebaran berita bohong yang dilakukan Ratna Sarumpaet, agar semua terungkap dan menjadi terang. Pasalnya, Ratna Sarumpaet dikenal sebagai seseorang yang pandai dalam mengambil keputusan. Tetapi pada kasus ini, secara terang-terangan ia mengakui kebohongannya sendiri yang risikonya pasti dia sudah mengetahuinya. Setidaknya polisi harus meninjau kembali apakah ada orang di belakang Ratna yang menekannya untuk berbohong atau tidak.

Menurut saya, Ratna Sarumpaet tidak bisa dijerat dengan Undang-Undang ITE, karena Ratna Sarumpaet tidak menyebarkan hoaks-nya di media sosial atau menggunakan elektronik, melainkan menyebarkan secara langsung kepada keluarganya dan Prabowo.

Dari kasus ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa kita sebagai manusia jangan melakukan atau menyebarkan kebohongan dengan alasan apa pun, apalagi kita menjadi tokoh masyarakat yang pastinya menjadi panutan dalam berperilaku.