Hoaks (hoax), merujuk Oxford English Dictionary, adalah kosakata pesulap saat peroses intrik sulap dilakukan, kosakata yang digunakan untuk pengalihan para penontonnya, ada maksud pengaburan.

Di Indonesia, kata hoax tidak terlepas dari politik dan media massa. Kata ini menjadi populer pada saat-saat momen politik. Media massa menjadi instrumen. Pelaku politik menggunakan kata hoaks untuk menyampaikan pesan bahwa ada kabar bohong. Di sinilah hoaks kemudian menjadi kata kerja.

Pada pilpres 2014, hoaks belum dikenal publik. Tidak ada wacana hoaks, meski kenyataannya kabar-kabar bohong berseliweran. Selanjutnya, pada pemilu, hoaks mulai ramai, seiring populernya kata ini dalam Pilpres Amerika Serikat yang memenangkan Donald Trump.

Jelang Pilpres 2019, kata hoaks semakin populer. Bahkan, perbuatan-perbuatan yang dikatakan hoaks juga semakin meningkat intensitasnya. Penggunaan terbaru dan menjadi sorotan publik saat kabar bohong Ratna Sarumpaet.

Wittgenstein, filsuf yang menelurkan pemikiran filsafat bahasa, menyatakan bahwa bahasa bermakna bila dilihat dari situasi penggunaannya, sehingga bahasa bisa dipahami dengan tepat sesuai meaning in use

Ketika Budi mengatakan “jancuk” kepada sahabatnya dalam situasi saling menghibur, tentu bahasa itu tidak bernilai buruk. Berbeda halnya ketika Budi mengatakan “jancuk” kepada sahabatnya (orang yang sama pada contoh sebelumnya) dalam situasi tegang. 

Penutur dan pendengar yang sama tidak menjamin suatu bahasa yang sama dimaknai sama. Makna tergantung pada situasi dan kondisi. Begitu pula memahami bahasa atau istilah-istilah keagamaan, sekalipun itu mengandung nilai sakral, dalam situasi menjelang pilpres 2019.

Hoaks di Indonesia belakangan ini menyasar pada isu-isu keagamaan, khusus Islam. Fenomena yang paling dahsyat, dan sebagai awal hoaks keagamaan, tentu saja momen pilkada DKI Jakarta dengan mengorbankan Basuki Tjahaja Purnama (BTP). Selanjutnya muncul hoaks-hoaks yang sifatnya attacking kepada kelompok-kelompok tertentu. Terakhir, ada peristiwa pembakaran bendera berlabel kalimat Tauhid berbahasa Arab di Garut. 

Mengapa peristiwa-peristiwa tersebut dapat tergolong hoaks? Peristiwa tersebut menjadi hoaks ketika ada pengaburan konteks. Peristiwa diangkat ke dalam audio-visual yang sudah diedit sedemikian rupa. Ada pengaburan fakta di dalamnya, sehingga konteksnya menyimpang atau tidak sesuai konteks.

Dalam peristiwa pembakaran bendera di Garut, misalnya, video yang beredar tidak cukup mecitrakan: seremoni apa yang dilakukan pada saat itu, siapa dan apa latar individu pembakar bendera, bagaimana bendera hitam bisa muncul, dan partikel persitiwa lainnya yang sebenarnya penting untuk dihimpun ke dalam konteks yang utuh.

Dari situ kemudian akan dapat dipahami maksud dan tujuan pelaku pembakar bendera dalam situasi seremoni keagamaan. Meski kini sudah diselesaikan di atas hukum, peristiwa tersebut sangat penting sebagai acuan memahami kemungkinan hoaks-hoaks keagamaan yang akan muncul kembali.

Hoaxksagama akan terus dimanfaatkan, baik itu oleh politisi dalam kepentingan kontestasi pilpres maupun oleh pegiat-pegiat komunitas keagamaan dalam kepentingan sosial-kultural. Agama sebagai konten mudah digunakan dalam penyebaran hoaks karena mengandung nilai-nilai sentimen dan sakralitas tertentu bagi pemeluknya. Hoaks agama menjadi suatu permainan yang perlu ditanggapi pula dengan pendekatan permainan.

Pendekatannya bukan berarti main-main selayaknya suatu permaian bola, misalnya. Permainan di sini, seperti diurai singkat di atas, ialah permainan bahasa, dengan cara memahami bahasa yang diujarkan tanpa melihat situasi dan kondisinya secara utuh. Jika menemukan video yang berkonten adanya unsur-unsur keagamaan, jangan dipikirkan dari sebatas kenyataan video semata, tetapi lihatlah sebagaimana kita berada pada situasi dan kondisi di dalam video tersebut.