“Janganlah engkau menyebar kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar” (Keluaran 23:1)

Dalam agama manapun, saya kira semua sepakat bahwa menebar kabar bohong (hoax) adalah perbuatan yang tercela dan dapat menimbulkan distrust antar individu maupun kelompok.

Dalam Islam, misalnya, fenomena hoax sudah pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad Saw. Kisah tersebut berawal ketika Nabi hendak berangkat perang menghadapi Bani Musthaliq. Beliau membuat undian kepada istri-istrinya, dan ternyata yang berhak menemani Nabi adalah Aisyah r.a.

Dalam perjalanan pemberangkatan dan sesampainya di sana, keadaan aman-aman saja. Ketika hendak pulang ke Madinah, Aisyah r.a. kehilangan kalungnya, sehingga ia harus balik mencarinya.

Sementara para rombongan mengira, bahwa Aisyah r.a sudah ikut bersama di dalam tandu. Maka berangkatlah mereka tanpa Aisyah r.a. Sesampainya di Madinah, didapati bahwa Aisyah datang menunggangi unta yang dituntun oleh seorang laki-laki yang mereka kenal, yaitu Shafwan bin Muthil al-Silmy.

Peristiwa ini memunculkan rumor miring hingga menyebar berita hoax. Rasulullah sendiri tidak tahu benar tidaknya berita itu. Sehingga turunlah wahyu surah al-Nur ayat 11-20 atas klarifikasi berita bohong tersebut (Wirdiyana, 2017: 4).

Modernisasi Hoax

Cuplikan kisah di atas merupakan kisah masa lalu yang terekam jejaknya dalam teks kitab suci, bahwa – sebelum adanya peran teknologi – sudah dahulu kala hoax itu membingungkan, menyusahkan, bahkan dapat merusak kepercayaan hingga tak jarang berakhir pada penumpahan darah.

Pesatnya teknologi dan informasi yang memobilisasi masyarakat di berbagai lini kehidupan, ternyata tidak serta merta membawa akal dan peradaban mereka maju. Beberapa di antara mereka memanfaatkan peran teknologi untuk memanipulasi data dan mendramatisir konten di sosial media dengan tidak bertanggung jawab.  

Tujuan adanya penyebaran berita bohong tersebut adakalanya bersifat ideologis-subjektif, ingin mendapatkan keuntungan pribadi, dan sekedar guyonan yang merendahkan.

Korban yang mendapatkan informasi tersebut, tidak jarang mendapati rasa bingung, tidak nyaman, dan emosional. Sehingga diharapkan, masyarakat akan mengambil langkah yang lemah, tidak meyakinkan, bahkan salah kaprah.

Bentuk hoax yang sering diterima masyarakat Indonesia – sebagaimana data dari Masyarakat Telematika (2017) – diantaranya; tulisan (62,10%), gambar (37,50%), dan video (0,40%).

Sedangkan saluran penyebaran berita hoax terbanyak meliputi; sosial media (92,40%), aplikasi chatting (62,80%), dan situs web (34,90%).

Lalu mengapa begitu banyak masyarakat yang tergiur dengan berita bohong dan menyebarkannya? Menurut penulis ada dua indikator: 1) ada unsur ketidak-sukaan hingga benci terhadap lawan, dan 2) masyarakat suka berita yang menghebohkan, baik itu dalam persoalan politik, agama, hingga guyonan.

Dua indikator tersebut, bagi penulis, sangat jauh dari akal sehat dan cacat secara etis. Mereka yang menggunakan akal sehatnya, ketika ingin menyebarkan informasi, setidaknya bersikap objektif dalam menilai segala sesuatu.

Bersikap objektif ini tidak memandang satu persoalan secara parsial dan emosional, melainkan lebih mengutamakan komparasi dalam berbagai argumentasi sehingga memunculkan banyak jalan alternatif yang dapat diambil. Dan penting dicatat, munculnya argumentasi yang menurut si subjek akan disebarluaskan kepada publik, mewujudkan istilah bebas nilai dan sarat nilai dalam hal etika.

Maksud daripada bebas nilai adalah mereka bebas menyebarkan informasi, terlepas itu baik dan buruk atau benar dan salah. Hal tersebut dipasrahkan kepada pembaca. Sedangkan yang sarat nilai, mereka akan meng-counter informasi tersebut dengan tetap memperhatikan etika-etika yang berlaku sesuai sasaran publik.

Dalam menyebarkan berita bohong (hoax), baik yang membuat berita maupun menyebarkan berita, termasuk dalam kategori bebas nilai. Mereka menyebarluaskan informasi yang tidak bertanggung jawab, dan tentunya, hoax secara etis itu banyak cacatnya. Karena dampaknya, dapat menghancurkan kepercayaan antar individu dan kelompok.

Meningkatnya Hoax Menjelang Pemilu 2019

Pemerintah memprediksi, bahwa penggunaan berita bohong (hoax) menjelang Pemilu 2019 akan semakin meningkat.

Pernyataan ini didukung oleh beberapa penelitian, diantaraya; laporan dari Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), yang melakukan pemantauan sejak Juni hingga September 2018, ditemukan 230 hoax dan 135 di antaranya adalah hoax politik.

Sedangkan laporan dari Masyarakat Telematika (2017) juga memperlihatkan bahwa jenis hoax yang sering diterima masyarakat adalah isu politik (91,80%) dan SARA (88,60%) (Katharina, 2018; Mastel, 2017).

Hoax yang ter-counter dua isu (politik dan SARA) tersebut, mengingatkan penulis dalam laporan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan buruknya demokrasi Indonesia tahun 2018 terletak pada rendahnya toleransi dalam persoalan politik pemerintahan dan kebebasan hak sipil yang berhubungan dengan SARA (Media Indonesia, 2018).

Munculnya skor terburuk demokrasi di Indonesia tercatat sejak Aksi Bela Islam, khususnya aksi 212 yang menilai Ahok telah menistakan agama dan menolak untuk menjabat lagi sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Semacam “trauma” bagi masyarakat Indonesia, untuk tidak akan memilih pemimpin yang non-Muslim. Sebagaimana peristiwa Ahok yang menyebut “dibohongin pake al-Maidah ayat 51”.

Secara zahir, seolah-olah Ahok menilai kitab suci umat Muslim itu terdapat kebohongan. Padahal apabila ditelisik secara batin dan mendalam, ada pra-asumsi yang menjadikan Ahok berani mengucapkan kalimat tersebut. Dan sayangnya, terjadi misinformasi dan disinformasi yang tidak dilakukan secara dialogis-konstruktif.

Mengapa? Menurut penulis ada unsur kebencian sepihak yang berawal dari tidak suka dan marah terhadap perilaku Ahok.

Belajar Untuk Tidak Membenci

Akhir-akhir ini, banyak rumor miring terhadap para calon petahana, khususnya presiden dan wakilnya, yang akan menjabat sebagai pemimpin di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jokowi, misalnya, data hoax yang tercatat di situs "Turn Back Hoax" tercatat sekitar 450 an. Sedangkan Prabowo tercatat sekitar 200 an.

Dan sekali lagi, unsur yang terbungkus dalam penyebaran berita bohong, salah satunya adalah benci. Mereka saling membenci lawan pilihannya dengan memanipulasi data dan informasi. Parahnya, banyak yang meramaikan isu-isu berbau hoax tersebut.

Pada hakikatnya, manusia punya potensi untuk membenci, karena benci berhubungan erat dengan cinta. Sama-sama terpikirkan. Bedanya, benci itu merusak sedangkan cinta itu memperindah hubungan.

Berawal dari tidak suka, marah, dan benci. Dipelihara terus secara intensif, dan dari benci nanti akan timbul aksi yang revolusioner dan ingin menghancurkan segala apa yang dibencinya.

Untuk menghindari kebencian, kuncinya satu, yaitu menjalin persahabatan. Untuk menjalin persahabatan, harus ada sikap saling terbuka dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.

Kaitannya dengan pemilihan kepemiminan, salah satu parameter negara maju adalah tidak adanya unsur saling membenci dan enggan menebar informasi secara menipulatif.

Jangan katakan, Indonesia akan maju dengan calon pemimpin yang ini dan itu dengan cara menebar kebencian. Jangan gitu, mari ubah mindset kita dengan cara yang manusiawi, yaitu menjalin persahabatan dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.