Sejarah ditulis oleh sang pemenang. Begitulah dalam buku Lekra Vs Manikebu yang ditulis apik oleh Alexander Supartono. Tapi hadirnya tulisan ini bukan bermaksud ingin memposisikan si penulis sebagai seorang pemenang sehingga harus mengungkap sejarah secara subjektif belaka. Tulisan ini hanya ingin mengajak pembacanya agar sedikit bernostalgia atas gerakan mahasiswa pada masa tahun 1960-an.

Jika harus membahas gerakan mahasiswa tahun 60-an penulis teringat masa viralnya isu penayangan film G30 S/PKI yang diperintahkan oleh panglima jendral TNI Gatot Nurmantyo. Film klosoal yang lama bersekutu dengan alam pikiran manusia Indonesia itu, menyebutkan dua oraganisasi mahasiswa yang ikut melakukan pergerakan melawan Partai Kominis Indonesia (PKI).

Sebut saja Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sedang oraganisasi kemahasiswaan yang lain tak disebutkan sama sekali oleh narator film tersebut (Lihat esai Muhidin M Dahlan, Agar Umat Islam tak Lagi Galak terhadap Kominis, yang dimuat di Mojok.co).

Untuk menjadi kata kunci dalam tulisan ini pembaca sebaiknya agak lebih fokus pada oraganisasi mahasiwa yang disebutkan terakhir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mungkin sejenak pembaca akan bertanya mengapa HMI? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari seruput kopinya atau kepulkan asap rokoknya kelangit sejenak.

Tahun 1947 jauh sebelum meletusnya Gestapu itu kita dikenalkan pada nama besar Lafran Pane sebagai orang yang mempunyai andil mulabuka terbentuknya HMI, penulis sebut mulabuka kalau tidak boleh dikatakan sebagai tokoh pendiri HMI. Juga, sebagai bentuk tak terpisahkannya HMI dengan pemikiran Lafran. Untuk membuktikan hal tersebut dan untuk menjawab pertanyaan pada alinea tiga di atas ada beberapa hal sabab-musabab HMI harus muncul.

Sesuai dengan latar dan keadaan Indonesia pada masa itu, berikut beberapa latar belakang munculnya HMI, yaitu: a. Penjajahan Belanda atas Indonesia dan tuntutan kemerdekaan; b. Kesenjangan dan kejumudan umat Islam dalam pengetahuan, pemahaman dan penghayatan serta pengamalan ajaran Islam; c. Kebutuhan akan pemahaman dan pengahayatan akan agama; d. Munculnya polarisasi politik; e. Perkembangan pemahaman dan ajaran komunis dikalangan Masyarakat dan Mahasiswa; f. Kedudukan perguruan tinggi dan dunia mahasiswa yang strategis; g. Kemajemukan bangsa Indonesia; h. Tuntutan modernisasi dan tatangan masa depan (Lihat di Basic Training: Panduan untuk Kader Himpunan Mahasiswa Islam yang dibuat HMI Cab. Ciputat, 2016).

Dengan delapan alasan itu HMI berhasil lahir dan dideklarasikan pada 5 Februari 1947 yang bertepatan pada 14 Robiul Awwal 1366 H hari Rabu Pon oleh Lafran Pane dan 14 orang lainnya, diataranya Kartono Zarkasy (Ambarawa), Dahlan Husein (Palembang), Siti Zainah (Istri Dahlan Husein Palembang), Maisaroh Hilal (Cucu pendiri Muhamaddiyah KH. Ahmad Dahlan, Singapura), Soewali (Jember), Yusdi Gozali (Semarang, juga pendiri PII), M. Anwar (Malang), Hasan Basri (Surakarta), Marwan (Bengkulu), Tayab Razek (Jakarta), Toha Mahudi (Malang), Bidron Hadi (Kauman-Yogyakarta), Zulkarnaen (Bengkulu), dan Mansyur.

Deklarasi HMI tersebut betujuan untuk menyelesaikan masalah ke Indonesiaan dan Keislaman, atau yang dikenal dalam darah dan daging para kadernya dengan istilah tujuan kebangasaan dan keummatan. Untuk membuktikan kadernya yang berkualitas kebangsaan dan keumatan maka terciptalah tujuan HMI untuk membentuk kader yang berkualitas akademis, pencipta, pengabdi, yang benafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala (Lihat Anggaran Dasar HMI Pasal 4).

Selanjutnya gerakan HMI dilakukan saat gencar-gencarnya agresi meliter Belanda I 21 April 1947 membantu pemerintah baik langsung memegang bedil dan bambu runcing sebagai staf penerangan dan perhubungan, dll. 18 September 1948 untuk menghadapi pemberontakan Madiun Wakil  Ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro membentuk Corp Mahasiswa (CM), sejak inilah HMI dan PKI tak bisa dipersatukan dalam satu meja trotoar hingga puncaknya pada tahun 1964-1965 menjelang meletusnya gerakan 30 S.

Rupanya pada beberapa waktu lalu hantu PKI kembali bergentayangan. Jelasnya buku-buku yang membahas ideology kiri tersebut kembali dirazia oleh rezim zaat ini. Diduga dengan beredarnya buku-buku tersebut ideologi ini akan tumbuh kembali.

Meskipun tindakan ini mengalami pro-kontra di masyarakat terutama pada pihak sejarawan. Dari buku-buku tersebut harusnya masyarakat harus lebih melek terhadap sejarah sekaligus buku tersebut memang tidak bisa dipisahkan dari arus perjalanan sejarah. Terutama bagi kader HMI hari ini, meskipun HMI tak akan pernah bisa disatukan dengan yang namanya PKI.

Apapun yang terjadi akhir-akhir ini kader HMI tidak boleh berhenti belajar dan melakukan gerakan. Kader HMI harus tetap rakus membaca dalam situasi apapun, sebab dari kerakusan itu strategi dan taktik akan terus muncul sesuai dengan keinginan kondisi mutakhir ini. Dan tak terjadi gerakan premanisme brutal.

Sebagai acuan diskusi boleh pembaca jelajahi lebih jauh arah dan sejarah pergerekan HMI melalui tulisan sejarawan HMI Prof. Dr. H. Agussalim Sitompul, jamah saja: Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa 1947-1979, HMI Mengayuh diantara Cita dan Kritik,HMI dalam Pandangan Pendeta, Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejara PBI, Historiografi, 44 Indikator Kemunduran HMI, Citra HMI, Menyatu dengan Umat Menyatu dengan Bangsa, dan banyak tulisan lain yang berbicara gerakan dan cara HMI mempertahankan bangsa dan umat di Indonesia.

Yakin Usaha Sampai, mengenal lebih dalam akan mengajari kita untuk bertindak lebih bijaksana. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala.