Saya terpingkal-pingkal membaca berita kader HMI di Ambon ‘diculik’ senior. Kok bisa? Di zaman sebebas begini, kok masih ada orang mengaku sebagai Penjaga Moral adik kelas? Heran, kenapa sih generasi tua sok jadi anjing penjaga yang selalu menekan junior untuk tak mengganggu kepentingan penguasa? Dibayar berapa? Dapat timbal balik apa? Sangat menggelikan ketika senior malah jadi racun yang mencemari idealisme pemuda.

Kalau alumni tak bisa jadi contoh, minimal jangan menghalangi pergerakan kader. Kalau kaum tua tak lagi punya taring kritis, lebih baik diam, minggir! Biarkan darah muda maju menyuarakan koreksi. Daun tua yang tak lagi mampu tumbuh, hanya menunggu waktu untuk mengering dan jatuh. Kalau macan ompong jadi penghalang bagi lahirnya gagasan baru, lebih baik dilawan. Parasit semacam itu harus disingkirkan. Jangan didengarkan gonggongannya!

Di Jakarta, mentang-mentang pejabat kampus diisi alumni, kader ditekan untuk tidak ikut demo minta keringanan biaya semester. KAHMI yang mengklaim punya hubungan historis dan aspiratif dengan HMI, nyatanya masuk terlalu dalam mengatur segala kehidupan kader. Mulai dari sempak, pulpen, sekretariat, isi perut, hingga isi pikiran pun dimasuki. Itu hantu atau alumni? Kader mengkritik saja direpresi, bagaimana pemuda bisa dewasa kalau terus-terusan dikekang?

Mental kader HMI dan KAHMI, karena sudah beda kepentingan, tentu saja berbeda. Kader menjunjung tinggi kebenaran dalam pikiran, generasi tua mengutamakan kepentingan perut dan kemapanan kerja. Dua kecenderungan ini selalu bertolak belakang. Sebab tak semua kritik menguntungkan struktur mapan. Sedang sesuatu tak bisa dikatakan benar sempurna sebelum dikuliti dengan koreksi. Saya lebih setuju HMI dan KAHMI putus hubungan sama sekali!

Apa guna KAHMI bagi HMI? Jadi agen tutup mulut adinda? Jadi mata-mata rektor? Jadi tukang lobi bupati untuk menyuap demonstran? Jadi tukang palu untuk menenggelamkan kritik yang dilontarkan adik-adik? Atau jadi donatur proposal LK2 dan LKK, lalu menukarnya dengan Panggung Pembicara di forum selama 2 jam? Ah, rasa-rasanya kita lebih merdeka kalau jauh dari KAHMI. Gara-gara senior, pengurus cabang seperti kerbau tercokok moncongnya!

Sebagai organisasi mahasiswa, jebolan HMI memang banyak sekali berkiprah di berbagai bidang. Jadi rektor, bupati, DPR, kepala dinas, gubernur, menteri, juga komisaris BUMN. Tapi gara-gara mental pengemis, kader akhirnya banyak menggantungkan karir dari jaringan koncoisme. Politik patronase begini yang akhirnya melemahkan pergerakan dan menyuburkan nepotisme. Dan mau sampai kapan terus begini?

Banyak kader HMI dukung Jokowi, karena seniornya kebetulan jadi kacung presiden. Tapi juga banyak yang simpatik pada KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia), sebab di sana ada Din Syamsudin dan Amien Rais, yang notabene juga alumni. Lalu, kader sejati harus berdiri di kubu mana? Bagi yang bermental Badut Aktivis, tentu condong pada seniornya berpatron kemana. Kalau Kandanya antek-antek rezim Jokowi, tentu akan pilih mengecam KAMI. Pun sebaliknya.

Politik patronase menjijikkan itulah yang membuat HMI jadi busuk. Di forum, kader diajari tentang AD ART HMI, tapi di lapangan semua tak terpakai. Materi dan pedoman organisasi hanya jadi sampah. Pemateri hanya jadi pelacur yang bermanis-manis lidah di depan mimbar, tapi tak pernah berniat mewujudkan dengung kebenaran yang diucapkan. Saya yakin 100 persen, KAHMI tak pernah peduli NKRI ini jadi negara demokrasi atau tirani. Karena ia bisa hidup di kedua habitat itu.

Pada 1965, HMI dengan semangat anti-PKI ikut robohkan tiang kekuasaan Bung Karno. Setelahnya, ia ikut mendirikan rezim Orde Baru yang lalim dan pembantai rakyat sendiri. Giliran Soeharto jadi kakek-kakek lemah, orang-orang itu mendengungkan reformasi. Dalam mental alumni HMI, sebenarnya alam demokrasi atau tirani, itu tak penting. Sebab mereka selalu mampu hidup di setiap zaman. Kenapa? Karena DNA KAHMI adalah nepotisme dan koncoisme.

Kalau saja alumni tak masuk terlalu jauh ke urusan HMI, saya tak tertarik bahas KAHMI. Tapi karena generasi tua menjajah rumah tangga kader, harus ada perlawanan yang keras demi menyelamatkan independensi pemuda. Tugas aktivis untuk senantiasa membersihkan dirinya dari subjektivitas. Bukan karena mulut senior, bukan karena kemauan kanda, tapi pada kebenaran lah kita menentukan sikap dan pilihan.

HMI tidak boleh jadi seperti Denny Siregar, yang selalu berpihak pada apapun yang dilakukan Jokowi. Dukung kalau benar, tolak kalau salah. Sebentar lagi Pilkada serentak, hantu-hantu politik gentayangan merekrut kader untuk jadi tim sukses. Kalau kau pilih jadi mesin kampanye, lebih baik tinggalkan HMI. Kalau seniormu yang nyalon pakai politik SARA, tinggalkan! Musuhi! Sebab tugas HMI adalah merukunkan bangsa.

Kalau kau jadi bagian gerakan pemecah belah masyarakat, sejatinya kau sedang melawan tujuan besar HMI. Kader yang berkontribusi bagi menguatnya politik identitas, kampanye hitam, politik belah bambu, berarti sedang menggagalkan usaha-usaha mewujudkan tujuan organisasi. Kader semacam itu lebih layak jadi budak senior ketimbang aktivis yang berpikir kritis dan bergerak merdeka.

Fakta membuktikan, alumni memiliki banyak sumber daya untuk ditawarkan. Uang, jejaring, peluang, akses, informasi. Hanya kader yang tegas berkata ‘’Tidak’’ pada godaan senior, yang mampu mempertahankan martabat organisasi. Bagi yang hanya mengembik laksana kambing congek, pasti menggadaikan statusnya sebagai pengurus HMI untuk ditukar dengan jadi ‘Hamba Setia Senior’. HMI dan KAHMI bukan hubungan suami istri. Jangan terperdaya rayuannya!

Kalau mau politik praktis, tahan dulu. Kau masih kader HMI, diwajibkan netral dalam setiap peristiwa perebutan kekuasaan. Yang kita bela bukan senior, bukan pula alumni, tapi kepentingan nasional. Kalau satu-satunya cara agar HMI tak tercemar dengan menjauhi KAHMI, maka itu harus dipilih. Biarkan generasi tua bermain di dunianya yang penuh pragmatisme rendahan, kader HMI memiliki ladang perjuangan sendiri.

Ke depan, tak perlu lagi ada kader HMI disekap senior hanya karena mendemo Gubernur. Represi dan ketengikan semacam itu tak layak terjadi di Tanah Demokrasi. Melontarkan kritik dan mengeluarkan gagasan adalah harga mati bagi warga bangsa demokratis. Senior anjing penjaga, sudah waktunya dimusnahkan dari bumi pertiwi. Silakan cari makan, tapi jangan kekang pikiran kritis mahasiswa. Generasi tua dilarang cawe-cawe ke dalam urusan kader HMI!

Silakan jadi tangan kanan bupati, tapi sikap kritis sepenuhnya milik mahasiswa. Silakan jadi antek-antek rektor, tapi jangan merasa jadi Penjaga Moral yang memanggil adinda tatkala kita menghujani rektor rakus dengan kritik. Silakan jadi makelar pergerakan, tapi kami tak butuh boneka yang terkekang. Perubahan adalah anak kandung kritik. Dan tanpa kritik, kebenaran hanya kepalsuan yang menunggu dibuang ke tempat sampah!

Kita akan pilih hanya makan mie instan di kosan, dari pada makan mewah dari uang tutup mulut senior! Sebagai cucu-cucu dari Lafran Pane, kita menolak menjual organisasi! Apapun yang dilakukan alumni, bukan urusan kader HMI! HMI ya HMI, alumni ya alumni! Mau alumni terjun ke laut atau loncat ke neraka, bukan urusan pengurus HMI! Persetan dengan senioritas tai kucing!

Kalau kritik yang dilontarkan merusak nama baik alumni yang sedang menjabat, bisa jadi itu bukan ‘merusak nama baik’, tapi memang namanya sudah busuk. Karena sebab dikuliti kritik itulah, borok yang sebelumnya mati-matian ditutupi, jadi terbuka menganga. Elektabilitas pejabat yang alumni, sama sekali bukan urusan HMI. Terpilih lagi atau tidak dia sebagai bupati atau walikota, itu bukan urusan HMI!