Agama dan politik merupakan dua hal yang berbeda. Namun hingga saat ini, agama dan politik seperti sepasang sepatu yang selalu berkaitan dan berjalan beriringan. Sudah sejak dahulu kala dua hal tersebut seperti sangat sulit dipisahkan. Apa benar politik dan agama tidak bisa dipisahkan? Mungkin pertanyaan seperti itu banyak bermunculan dalam benak masyarakat.

Bila kita menarik sejarah jauh ke belakang, kita tentu ingat digdayanya Adolf Hitler, seorang diktator besar asal Jerman yang memimpin rezim Nazi pada saat itu. Hitler merupakan salah satu diktator paling berpengaruh di dunia. Bahkan kisah-kisah otoriternya sering dijadikan film, buku, dan bahan ajar di sekolah-sekolah sebagai salah satu tonggak sejarah besar dunia hingga saat ini.

Politik yang dibawa Hitler terkenal rasis dan menganggap bahwa rezimnyalah yang paling hebat. Hitler dan rezim Nazi adalah pembunuh paling kejam pada masanya, terlebih untuk kaum Yahudi. Salah satu strategi Hitler untuk menghancurkan Yahudi adalah dengan merangkul umat Islam agar bertarung di sisi tentara Nazi.

David Motadel, seorang sejarawan, menuliskan dalam bukunya yang berjudul "Islam dan Perang Nazi Jerman" cara Hitler menjaring dukungan dari umat muslim pada saat itu. Hitler memulainya dengan menggunakan isu Islam untuk politik anti-Yahudi-nya yang membuat puluhan ribu umat muslim berperang untuk Nazi dalam perang dunia kedua.

Pada tahun 1941-1942, tentara Jerman masuk ke wilayah Balkan, Afrika Utara, Kaukasus, Timur Tengah, dan sebagian wilayah Asia yang berpenduduk muslim. Hitler melihat potensi umat Islam untuk mendukung Nazi melawan musuhnya: Inggris, Soviet, Amerika Serikat, dan kaum Yahudi.

Pada masa itu, Nazi melakukan propaganda kepada para pemimpin Islam. Mereka memberikan buku tentang Islam agar tentara mereka berperilaku baik terhadap umat muslim. Mereka bahkan membangun masjid-masjid dan musala di beberapa wilayah untuk mendapat simpati dari umat muslim.

Hitler dan rezimnya menggunakan isu dan retorika keagamaan. Mereka dengan liciknya mempolitisasi ayat suci Alquran untuk memobilisasi umat Islam dalam jumlah yang besar. Mereka juga melakukan doktrin tentang agama Islam dengan konsep jihad untuk memicu kekerasan dan kemarahan umat muslim bagi tujuan politik mereka. Anggapan Islam yang anti-Yahudi menarik minat Nazi untuk mendapatkan dukungan umat muslim menghancurkan Yahudi.

Jika kita analisis, ada beberapa bagian dari sejarah tersebut yang sepertinya sudah tidak asing lagi bila kita bandingkan dengan negara kita saat ini. Belakangan ini, marak sekali kasus-kasus yang (mungkin) memiliki tujuan politik dengan membawa isu agama yang amat sangat sensitif. Entah disengaja atau tidak, isu-isu agama menjadi bola panas untuk mendapatkan dukungan hingga menjatuhkan lawan politik yang dihadapi.

Kasus-kasus penistaan yang ramai lalu-lalang di media belakangan ini dalam sudut pandang yang lain seperti menyimpan sebuah kejanggalan. Terlebih isu-isu ini semakin sering digulirkan saat mendekati masa-masa pemilihan umum dan kegiatan politik lainnya. 

Kasus penistaan agama yang menimpa Ahok, kasus pengeras suara di masjid, pembakaran bendera, dan lainnya hingga Tretan dan Coki Pardede. Apakah Indonesia setegang itu? Atau mungkin ada pihak-pihak yang dengan sengaja menyulut sebuah keributan dengan mengatasnamakan agama untuk sebuah tujuan politik?

Demo berjilid-jilid yang telah dilaksanakan beberapa waktu silam, kegaduhan politik lainnya dengan isu agama, jangan sampai kita jadikan kebiasaan. Berapa banyak orang-orang yang hanya ikut-ikutan marah, berteriak, demo, dan mengkafir-kafirkan orang padahal mereka tidak tahu akar permasalahannya di mana? 

Semudah itukah umat beragama terpecah belah jika memang itu merupakan tujuan politik dengan mengangkat hal yang sangat sensitif di masyarakat? Saya rasa, akal sehat juga perlu menopang keimanan beragama kita.

Kita terlalu mudah dimobilisasi dan dibakar isu-isu yang sebenarnya tidak perlu dijadikan sebuah problematika yang terkesan rumit. Jika memang benar politik kita sengaja menggoreng isu agama untuk kepentingan kekuasaan, tampaknya, kita sebagai orang di luar politik, harus ekstra berpikiran jernih agar tak menjadi tunggangan elite-elite politik gila jabatan lewat keimanan kita masing-masing.

Indonesia terlalu indah untuk dirusak orang-orang tak bertanggung jawab yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan golongannya saja. Menjadikan kita mengadili yang tidak seiman, membuat kita saling berprasangka meskipun memiliki satu Tuhan yang sama. Harusnya politik dan agama itu bersinergi satu sama lain. Bukan politik yang mendominasi agama, bukan agama yang kemudian dijadikan kendaraan menuju kekuasaan seperti sekarang.

Bijaklah dalam bersikap. Jangan terlalu mudah tersulut isu keagamaan. Semua warga Indonesia adalah saudara sebangsa meski tak seiman. Kita diwajibkan mengedepankan habluminallah kita, namun kita juga harus tetap menjaga habluminannas kita.

Jangan sampai karena agama kita jadi bengis. Jangan sampai karena agama kita terpecah belah. Jangan sampai agama kita ditunggangi politik untuk kepentingan orang-orang di atas sana.

Kondusifkanlah hati dan otak kita agar umat beragama, terutama Islam di Indonesia, tidak menjadi alat untuk meraih sebuah kekuasaan salah satu pihak seperti masa Hitler dalam Nazi-nya.