“Kalau masa depanku gelap, jelas lebih baik aku menghadapinya layaknya seorang laki-laki daripada berusaha mencerahkannya dengan imajinasi-imajinasi yang sia-sia.” - Sherlock Holmes, The Sign of the Four

Mungkin kutipan dari buku Sherlock Holmes di atas mampu menggambarkan suatu gejolak hati para mantan narapidana yang ingin mengubah kehidupannya, melepaskan diri dari jeratan masa lalu.

Pandangan masyarakat mengenai seseorang mantan narapidana jelas tak dapat dipisahkan dari betuk pandangan negatif. Bahkan pandangan yang dibuat masyarakat ini menjurus pada anggapan bahwa mantan narapidana adalah sampah masyarakat. 

Namun, apakah pernah kita mencoba untuk mengulik setiap pandangan negatif itu? Menelaah sebaik mungkin hingga kita menemukan sisi positif yang harus diakui dalam kehidupan bermasyarakat dan memperbaiki citra mantan narapidana walaupun tak sepenuhnya.

Hari itu, dua laki-laki dengan postur tubuh yang berbeda, yang satu berbadan gemuk dengan tinggi sekitar 165 cm, dengan tato yang terlihat mengitip di sela lengan kemejanya dan satunya lagi bertubuh proposional dan agak lusuh. Mereka terlihat berbincang di emperan warung, disaksikan gelas-gelas kopi yang tak sabar menanti terjamah.

Yang berbadan gemuk dengan tato yang mengintip di lengan, namanya Sugeng Harianto alias Lajim alias Jack. Bolak-balik masuk penjara, dengan berbagai tindak kriminal penghantarnya. Mulai dari pencurian, perampokan, penargetan (mengambil barang orang lain dengan kekerasan), dan penganiyayaan. Yang di sampingnya berbadan proposional dan nampak lusuh bernama Ebox, ia juga mantan narapidana namun tak berkali-kali masuk masuk penjara.

Ya, mereka berdua adalah mantan narapidana yang mampu bangkit dari keterpurakan, melawan setiap kebodohan yang acap kali mampu mengundang mereka kembali dalam belenggu jeruji besi. 

Keluar dari penjara, dengan status mantan narapidana yang melekat, menjadi cerita tersendiri dalam hidup mereka berdua. Intimidasi terjadi di mana-mana, bahkan lingkungan sekitar bisa menjadi lakon utama dari segala tindak intimidasi. Ketika ditanya, bagaimana cara mereka mengatasi kejadian seperti ini, Sugeng dengan tenang menjawab,

“Saya tidak masalah diintimidasi dari berbagai pihak. Walaupun keluarga saya tidak mengakui keberadaan saya, tidak akan menjadi masalah. Saya ini memiliki hati baja, tak peduli omongan orang lain,” jawab Sugeng dan disusul anggukan dari Ebox.

Setelah itu, mulailah mereka bercerita, namun Sugeng terlihat lebih terbuka daripada Ebox. Ebox hanya nampak menganggukan kepala dan banyak tutup mulut.

Sugeng ini memiliki beberapa nama, yang setiap nama itu memiliki maksud tertentu. Dimulai dari nama asli beliau, Sugeng Harianto, nama ini hanya digunakan bagi orang-orang terdekatmya, misal keluarganya. 

Lalu, Lajim, nama ini digunakan untuk teman-teman terdekatnya yang sudah mengetahui bagaimana perilakunya. Sedangkan nama Jack merupakan nama yang digunakan bagi orang-orang yang baru mengenalnya. Sedangkan Ebox tak memiliki nama lain selain Ebox.

Pada tahun 90-an, atau saat Sugeng berumur sekitar 15 tahun, untuk pertama kalinya ia masuk penjara. Sekitar satu tahun mendekam di balik besi jeruji tak membuatnya jera. Buktinya ia 9 kali dipenjara.

Ketika mendekam dalam jeruji besi, tak ada satu pun keluarga Sugeng yang bersedia datang hanya untuk menjenguk atau membawakan makanan. Malah teman-teman Sugeng yang datang berkali-kali untuk menjenguk Sugeng. Hal serupa juga dirasakan oleh Ebox.

Ada beberapa bagian yang menarik dari cerita Sugeng dan Ebox. Mulai dari kamar dalam lapas yang bisa dibeli. Para narapidana di dalam lapas diberikan kebebasan memilih kamar lapas asalkan mereka berani membayar pada sipir atau petugas yang mengurusinya. Selain kamar yang diperjual belikan, penjualan ganja narkoba dsb bisa dijual di dalam penjara.

Ketika saya menanyakan bagaimana penjualan barang haram seperti itu bisa dikendalikan dari dalam lapas. Sambil tersenyum ringan Sugeng menjawab, “lewat sipir mbak, gampang.” Cukup mengagetkan namun memang itu faktanya.

Di dalam lapas bisa disebut otak pengendalian penjualan barang haram, sedangkan jaringannya berada di luar lapas. Berdasarkan cerita dari Sugeng dan Ebox, sipir sangat berperan dalam peredaran barang ini karena memang satu-satunya akses aman dalam peredaran ini melewati sipir. 

Pengunjung sulit untuk memasukan barang haram ini ke lapas karena harus melalui alat dengan sinar X-Ray dan serangkaian prosedur pengecekan lainnya. Sipir yang ikut berperan dalam penjualan barang haram ini akan mendapatkan imbalan berupa uang atau barang haram itu sendiri.  

Dalam penjara, makanan yang diterima mereka berbeda dari tahun ke tahun. 

Pada tahun 90-an, tepatnya pada saat Sugeng dipenjara pertama kali, nasi yang diberikan kepada narapidana sangatlah tidak layak. Di dalam nasinya masih terdapat ulat-ulat beras, ditambah lagi dengan sayur yang sayurannya masih terdapat ulat dan kuah sayur yang tidak ada rasanya. Namun, mulai tahun 2000-an, makanan yang diterima mulai layak dimakan, lebih bersih sayurannya dan nasinya tidak perau.

Di dalam penjara narapidana dapat dipekerjakan menjadi tamping (bertugas membantu sipir lapas). Tugas seorang tamping adalah menjadi penerima tamu bagi pengunjung lapas tiap-tiap blok. Biasanya para tamping ini mendapatkan tip dari pengunjung.

Setelah melewati masa-masa dibui, pasti akan tiba saatnya mereka terbebas. Terbebas dari belenggu penjara bukanlah berarti penyiksaan dalam diri mereka sudah selesai, tapi di titik inilah mereka melewati masa terberat. Diterima atau tidaknya mereka sebagai mantan narapidana di lingkungan mereka, bagaimana masa depan mereka nanti, dan masih banyak lagi yang harus mereka pikirkan setelah keluar dari penjara dan menyandang status mantan narapidana.

Namun Sugeng memiliki pemikiran yang berbeda. Setelah keluar dari penjara, Sugeng merasa sangat senang, bahkan cukup dengan melihat jalanan yang diaspal. Sugeng sudah merasa sangat bahagia. 

Persepsi kita yang menganggap mantan narapidana akan minder, malu, dsb., dipatahkan oleh sosok Sugeng ini. Baginya, dengan menjadi mantan narapidana, ia merasa dirinya lebih disegani, dihargai, dan ditakuti orang lain. 

Namun, tetap saja ada saatnya Sugeng merasa terkucilkan di lingkungannya sendiri. Misal, di kampungnya ada suatu acara, Sugeng datang dalam acara itu dengan niatan baik, namun ternyata kedatangannya tak diterima dengan baik, malah warga kampungnya sengaja bubar karena kedatangan Sugeng di acara itu. 

Merasa tersinggung pasti, namun apalagi yang harus ia perbuat memang sudah begitu resiko yang harus ia tanggung. Di mana pun beliau berada, dengan status mantan narapidana yang ia sandang, pasti akan sulit diterima meskipun sebaik apa pun perlakuan Sugeng. Karena memang sudah terlanjur mendarah daging dalam kehidupan masyarakat mengenai persepsi negatif pada mantan narapidana.

Cara berpikir Sugeng ini sangat berbeda dengan Ebox. Ebox tak bangga menjadi mantan narapidana. Malah Ebox sempat down dalam menghadapi kehidupannya setelah keluar dari penjara. Mungkin itu yang membuat Ebox tak terlalu banyak bercerita mengenai kehidupannya. Setelah keluar dari penjara, ia lebih memilih ‘no comment’.

Memang diakui Sugeng, seorang mantan narapidana insyaf merupakan suatu kesulitan tersendiri. Setelah bebas dari penjara, pasti mantan narapidana akan kembali ke lingkungan yang senasib dengan dirinya karena mereka merasa diabaikan dengan lingkungan sekitarnya. 

Berteman dengan mantan narapidana yang lain bukan malah mengubah dirinya menjadi lebih baik, tapi malah membukakan pintu bagi mereka untuk masuk dalam penjara lagi karena di situlah terjadi suatu pertukaran pemikiran mengenai ilmu-ilmu kejahatan yang membuat setiap mantan narapidana yang ikut mendengarkan tergiur untuk mempraktikan ilmu kejahatan itu. Lalu, kembalilah mantan narapidana menjadi narapidana.

Namun, bagi Sugeng, tak selamanya ia masuk dalam jerat kelam. Ada satu titik balik dalam hidupnya yang mampu mengubah segalanya. 

Tahun 2003, keluar dari penjara untuk yang ke-9 kalinya dan sekaligus yang terakhir baginya karena Sugeng memutuskan untuk menikah, dan akhirnya dikaruniai seorang anak. Baginya, dengan adanya keluarga yang dimilikinya ini, Sugeng harus bertanggung jawab. 

Dan di situlah Sugeng sadar, tak bisa ia terus-terusan seperti ini, menjalani kehidupan di jalan kriminal. Keluarganya butuh nafkah dari hasil yang halal, terutama anaknya. Dan akhirnya Sugeng memutuskan menjadi tukang parkir di sekitar Pasar dan Taman Merjosari. Pekerjaannya itulah yang menunjang kehidupan keluarganya sehari-hari, termasuk biaya sekolah untuk anaknya.

“Saya tidak ingin anak saya menjadi seperti saya, anak saya harus lebih baik dari saya, anak saya harus mendapatkan nafkah yang halal, anak saya harus sekolah setinggi-tingginya. Biarpun bapaknya mantan narapidana, tapi anak saya harus jauh lebih baik dari saya. Apa pun untuk anak saya harus yang terbaik,” ucap Sugeng dengan tegas dan yakin.

Dari ucapan Sugeng ini, membuktikan tak selamanya mantan narapidana pantas diberi anggapan negatif. Karena setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. 

Namun, berubah menjadi lebih baik juga membutuhkan waktu dan usaha yang begitu keras. Beri setiap orang kesempatan untuk mengubah dirinya. Perlahan namun pasti, selama ada tindakan nyata dan niat yang kuat untuk merngubah diri menjadi lebih baik, maka perubahan itu datang dan nyata. Setiap gelap yang ada, suatu saat akan menemukan terangnya.