Kebanyakan orang sekarang mulai beralih dari media konvensional ke media digital. Tampilan yang lebih menarik dan berita yang lebih ringkas menjadi daya tariknya. 

Dalam era revolusi industri 4.0 sekarang ini, kemajuan digitalisasi dalam banyak aspek kehidupan benar-benar memengaruhi aspek kehidupan manusia tersebut. Salah satunya adalah aspek perkembangan teknologi informasi yang berbasis digital.

Perkembangan teknologi digital ini perlu disikapi dengan upaya-upaya untuk menguasai literasi digital dan informasi berbasis media massa. Umat Islam seharusnya menjadikan fenomena ini sebagai urgensi yang vital di era sekarang ini. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi informasi berbasis digital ini melahirkan era baru yang disebut sebagai post-truth. 

Menurut Cambridge dictionary, post-truth adalah suatu hubungan situasi yang mana masyarakat itu lebih menyukai untuk menerima suatu argumen berdasarkan emosi dan keyakinan mereka daripada mengacu kepada suatu fakta. Post-truth inilah yang nantinya akan melahirkan defisit fakta dan surplus opini. 

Fakta yang bersifat objektif tenggelam dalam banyaknya opini individu yang bersifat subjektif. Fakta-fakta yang objektif itu tidak mampu dalam mempengaruhi pembentukan opini publik dibandingkan dengan emosi dan juga keyakinan individual.

Defisit fakta dan surplus opini ini menimbulkan suatu kondisi yang sifatnya mengambang (floating) dalam dunia informasi sehingga yang terjadi adalah media yang sifatnya beyond the reality ­atau terjadinya hiperrealitas. 

Hiperrealitas inilah merupakan suatu kondisi yang melampaui seluruh pemahaman tentang realitas. Hiperrealitas ini menampung segala pengalaman yang tidak bercampur dalam fantasi yang mana tidak ada rujukannya dalam dunia nyata. 

Menurut Baudrillard, hiperralitas adalah penciptaan gagasan, opini, informasi, dan persepsi yang riil tanpa ada asal-usulnya di dunia realitas. 

Kita bisa melihat contoh adalah film avatar yang tidak ada rujukannya dalam dunia nyata selain merujuk kepada dirinya sendiri (Piliang & Jaelani, 2018 : 221 & 222). Kondisi hiperralitas inilah yang menimbulkan konsekuensi tidak logisnya antara argumen dan juga sentimen yang mana dalam ruang publik itu selalu dijejalkan berbagai informasi atau berita-berita yang hanya menimbulkan sensasi tanpa ada esensinya yang nyata. 

Pengetahuan akan pseudo-truth atau truthness ini menjadi urgensi bagi kita sekarang dikarenakan pseudo-truth atau truthness tersebut membawa kebenaran palsu yang menghadirkan kesadaran palsu juga. Kesadaran palsu tersebut membawa suatu imajinasi yang menghadirkan fantasi sekaligus fanatisme terhadap pemahaman akan suatu informasi.

Perkembangan era digital ini menimbulkan konsekuensi yang berimbas pada pergeseran karakter masyarakat yang kini tidak hanya menjadi suatu objek penerima informasi dari media arus utama akan tetapi bisa berperan menjadi subjek yang memproduksi informasi berdasarkan opini individu. 

Lalu informasi yang berdasarkan opini individu tersebut dengan mudahnya tersebar dalam jejaring sosial yang arusnya susah dibendung karena persebarannya sangat cepat melalui media digital.

Dari derasnya arus informasi inilah yang menjadikan ruang publik disesaki oleh opini-opini yang bisa memengaruhi pembentukan persepsi dan tingkah laku publik. Inilah yang bisa menimbulkan pengambilan keputusan dan penentu perkembangan kesadaran kolektif publik yang berdasarkan bias informasi. 

Bias informasi yang kontraproduktif ini dapat menghasilkan hoax, fake news, dan false news yang mana bisa menghasilkan daya rusak tinggi dan membangkitkan emosi pembacanya. Apalagi semakin abu-abunya antara fakta dan fantasi yang kerap bercampur dalam era post-truth ini. 

Seperti kata Aylin Manduric dalam tulisannya “Social Media as a Tool for Information Warfare” yang menganalisis secara ekstrem bahwa media sosial berbasis digital menjadi semacam senjata pemusnah massal dan menjadi sebab timbulnya konflik karena pengaruh kata-katanya terhadap hati dan pikiran konsumennya.

Dalam era post-truth ini, perkembangan literasi umat di Indonesia menjadi hal yang patut untuk diperhatikan. Menurut data yang dilansir oleh the Pew Forum on Religion Public Life, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk yang beragama Islam terbesar di dunia dengan presentase 13,1% dari total keseluruhan umat Islam yang ada di dunia.

Jumlah penduduk yang mencapai 260 juta jiwa dan 209,1 juta di antaranya adalah penganut agama Islam atau sekitar 87,2% dari total keseluruhan penduduk. Akan tetapi, jumlah penduduk yang banyak ini tidak diikuti oleh tingkat literasi atau minat baca yang ada di Indonesia. 

Menurut studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 mengenai “Most Literate Nations in The World”, menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari total 61 negara, atau dengan kata lain adalah minat baca Indonesia disebut-sebut hanya sebesar 0,01% atau 1:10.000. 

Data tersebut menimbulkan ironi bagi umat Islam di Indonesia yang mana ketika fakta-fakta objektif semakin dibutuhkan, justru litarasi atau minat baca tidak mendukung. Dengan minimnya literasi, maka pemahaman umat akan suatu permasalahan bisa dipertanyakan lagi objektifitasnya.

Akan tetapi, dalam memahami fenomena media digital di Indonesia, kita bisa melihat jumlah pengguna media sosial yang berbasis internet dengan mengambil data dari We Are Social dan Hootsuite yang menerbitkan laporannya dalam "Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World" yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018.

Seperti yang telah dilansir oleh kompas.com, bahwasanya pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai kisaran 130 juta lebih atau setara dengan 49% dari total populasi yang mana rata-rata orang Indonesia mengaksesnya 3 jam 23 menit perhari. 

Di sini kita bisa melihat adanya anti-tesis dari penggunaan media sosial berbasis internet dengan kemampuan literasi atau minat baca orang Indonesia. Jika kemampuan literasi yang rendah dan dibarengi dengan penggunaan internet yang tinggi, maka bisa dibilang perputaran informasi akan sulit untuk disaring tapi sangat mudah untuk di sharing.

Paradoks inilah yang menjadi problem bagi umat Islam di Indonesia sebagai mayoritas. Dan parahnya lagi adalah kita sebagai mayoritas, kurang mempunyai peran dalam ruang lingkup digital dan informasi karena peranan kita hanya sebagai konsumen dan penikmat media informasi saja. 

Kita kurang berperan aktif dalam menyajikan informasi sehingga informasi yang didapatkan terkadang hanya hasil dari propaganda politik maupun kepentingan suatu golongan yang ingin menjatuhkan Islam atau memanfaatkan sifat komunal dari Islam itu sendiri untuk kepentingan pemuas nafsu pribadi dan golongan tertentu. 

Banyak kasus yang berawal dari media massa berbasis digital menjadi suatu mobilisasi yang jaringannya tidak hanya top-down tapi juga bottom-up. Mobilisasi semakin mudah melalui jejaring media sosial tapi memobilisasi pikiran semakin susah dengan rendahnya angka literasi.

Seperti apa yang dikatakan oleh pendukung Hitler sekaligus menjadi kepala divisi propaganda Nazi yaitu Joseph Goebbels, “a lie told once remains a lie but a lie told a thousand times become the truth”. 

Perkataan itu lahir ketika dulu masih zaman perang dunia kedua yang mana teknologi informasi belumlah berkembang pesat seperti zaman ini dan memang dulu Hitler bisa menaiki singgasana kekuasaan Jerman melalui pemberitaan yang tidak sesuai dengan realita akan tetapi sifatnya massif dan berpihak kepada rakyat bawah yang memang minim akses terhadap pendidikan. 

Dan sekarang ini, era revolusi industri 4.0 mendukung segala bentuk digitalisasi dalam berbagai hal termasuk media sosial. Internet of Things mulai merambah ke segala aspek kehidupan manusia. Sirkulasi berbagai informasi atau berita-berita dari media arus utama berbasis digital-yang kebanyakan umat Islam ini kurang dalam penguasaannya-menjadikan media sekarang ini bersifat tendensius.

Sifat media yang tendensius inilah yang menyebabkan masyarakat selalu mencari pembenaran dalam informasi yang didapat, bukan kebenaran informasi tersebut. 

Karena, menurut Ross Tapsell dalam bukunya “Kuasa Media di Indonesia”, keberadaan media-media berbasis digital yang menjadi arus utama dalam pemberitaan di Indonesia bersifat oligopolistik yang artinya adalah digitalisasi memungkinkan media-media besar sebagai arus utama pemberitaan semakin besar dan menjadi konglomerat dalam hal industri informasi berbasis digital di Indonesia. 

Konglomerasi industri media ini menjadikan semakin susahnya media-media yang masih muda dalam berkembang. Belum lagi umat Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia tidak menjadikannya mayoritas juga dalam hal industri media hal ini diperparah pula dengan minimnya tingkat literasi umatnya.

Sehingga penganut agama Islam hanya sebatas komoditas bagi kepentingan kelompok-kelompok tertentu, entah itu dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Para pemangku kepentingan tersebut juga mempunyai oligarki yang kuat dalam industri media sekarang ini.

Seharusnya persoalan post truth dan juga hiperralitas dalam media berbasis digital ini kita jadikan persoalan yang urgensinya tidak bisa kita toleran lagi, agar isu-isu yang menyesatkan umat bisa diselesaikan. 

Selain itu juga, perlu kita ketahui tentang bagaimana solusi dari problem literasi bangsa ini karena kita sebagai umat Islam adalah mayoritas di Indonesia. 

Kegamangan dan juga kebingungan akan suatu berita bisa kita sering jumpai jikalau literasi kita masih rendah. Padahal zaman sekarang ini, literasi lama sudah tidak selevel lagi dan mulai digantikan oleh literasi baru.

Persoalan baca, tulis, dan hitung sudah menjadi skill yang wajib di era ini. Sekarang kita berbicara mengenai literasi baru yaitu mengenai literasi data yang cakupannya adalah kemampuan membaca, menganalisa, dan membuat konklusi berfikir. 

Selanjutnya adalah literasi teknologi yang berupa cara kita dalam memahami kinerja mesin dan memanfaatkannya. Lalu yang terakhir adalah literasi manusia yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berfikir kritis, kreatif dan juga inovatif. 

Dengan semakin menunjangnya kemampuan literasi maka akan memudahkan kita dalam memilah berbagai persoalan dengan analisa yang baik dan mampu mensimulasikannya dalam problem realita yang berkembang. Dengan tingkat literasi yang tinggi juga akan menjadikan kita lebih bijak dalam mengambil perspektif suatu permasalahan.