Lahir dari rahim negara dan bangsa yang masih sangat muda, teramat rentan mati jika salah urus atau dimulai dengan niat yang kotor. Tapi ia berhasil bertahan sampai detik ini, namanya diawetkan dalam ratusan buku, jumlah anggotanya terus-menerus bertambah, membesar, menjulang, melilit, menjerat dan semakin banyak semakin rumit.

Banyak yang mendaku, kalau ia adalah mesin penggerak kalangan muda terdidik Islam. Dibuktikan dengan ratusan ribu alumninya yang berhasil menempati posisi di berbagai sektor kehidupan masyarakat di Tanah Air ini. Tidak bisa dinafikan peran ia sejak awal kemerdekaan sampai usia bangsa yang akan menginjak 75 tahun. Teramat banyak kisah heroik yang dibuatnya dan dituturkan secara turun-temurun kepada setiap anggota barunya.

Tapi, di mana ia sekarang? Apakah pandemi berhasil membunuh syaraf-syarafnya dan membekukan pembuluh darahnya? Apakah imunitasnya sebegitu rapuh, padahal katanya ia adalah "Anak Zaman" yang sudah beberapa kali berevolusi. Di mana ia sekarang? media nampaknya tidak berhasil mengendus keberadaannya. Ke mana sosok Hijau-Hitam yang mendaulat diri sebagai "Kader Umat dan Kader Bangsa".

Sudah setengah tahun ini pemerintah Indonesia, organisasi kemasyarakatan, komunitas, media, buzzer, artis TikTok, selebgram, YouTuber, dokter, tukang masker, pabrik konveksi, dan broker sembako sibuk meramaikan belantika percovid-an tanah air. Batang hidungnya tidak terlihat sama sekali, suaranya tidak terdengar, dan keributan yang biasa dipertontonkan saat kongres tidak menyembul barang sedikit.

Tampak aneh, keberadaan ia tidak bisa terdeteksi sampai hari ini, padahal semua media, akun sosial media, dan buzzer istana beramai-ramai bersuara. Tidak mungkin riuhnya fakta dan hoaks tak terdengar oleh dia. Atau tontonan komedi istana dan parodi bodoh warganya tidak terlihat sama sekali. Di mana sosok Hijau-Hitam yang kerap berebut kue dengan saudara sendiri? Apa yang sudah ia lakukan?

Misalnya saja saat menjelang tahun ajaran baru, mahasiswa angkatan korona sedang bersiap memasuki dunia perkuliahan yang diimpikan jutaan anak muda di Indonesia. Di tahun lalu Hijau-Hitam biasanya sudah bersiap menyambut "adek-adek imut" yang akan masuk kampus. 

Menyiapkan banyak strategi dan taktik agar mahasiswa baru mau masuk ke "lembah perjuangan" yang konon mengabdikan diri untuk umat, bangsa, dan negara. Tak jarang oknum-oknum senior juga meniupkan harum surga, "organisasi itu penting untuk masa depan kita di masyarakat, atau untuk nanti kita kerja (baca: garap proyek)."

Menjadi sebuah pilihan ingin terlibat atau tidak, menjadi pemeran protagonis atau hanya sebagai penonton. Jika hanya menonton kemungkinan besar sejarah tidak akan mencatatkan lagi namanya. Padahal pandemi ini bukanlah peristiwa biasa, penulis yakin akan ada yang mencatat masa ini sebagai babakan sejarah paling diingat seratus tahun ke depan.

Hijau-Hitam mungkin akan tenggelam dilupakan banyak orang, mereka akan lebih mengingat aplikasi TikTok beserta artis-artisnya, Jerink Drummer Superman Is Dead, dr. Tirta, dan Juru Bicara Covid-19. Kita akan lebih mengingat kenangan bersepeda ria bersama "Si Dia" dari pada ingat bahwa bangsa ini membutuhkan pemikiran brilian dari kaum muda terdidik yang disertai aksi yang sigap dan proaktif.

Jangan jauh ke ranah masyarakat, bagaimana kabar dirinya sendiri? bagaimana kaderisasi yang dilakukan di masa pandemi? Bagaimana nasib anggota dan kader-kadernya, mungkin mereka lebih memilih beraksi di TikTok ketimbang berpikir keras memecahkan masalah kaderisasi.

Di mana pengurus dari tingkat komisariat sampai tingkat pengurus besar sekarang? Apa yang sudah disiapkan untuk menyambut para kawula muda harapan bangsa di kampus barunya? Seharusnya strategi baru dan adaptif sudah mulai diperbincangkan dengan mengubah cara-cara konvensional yang tidak relevan dengan kondisi pandemi. 

Adagium "Anak Zaman" seharusnya bisa dibuktikan sekarang bukan nanti, besok, atau menunggu selesai pandemi. Apa mungkin Sang Hijau-Hitam sudah patah arang? Atau karena tidak ada lahan basah di masa pandemi ini?

Jangan sampai sembunyi menjadi hobi, melarikan diri dari tanggungan cita-cita organisasi. Kondisi yang berlarut-larut ini akan mendisrupsi siapapun yang tidak paham denga kondisi. Termasuk Hijau-Hitam yang tajinya belum muncul sampai hari ini. Harus diwaspadai sebagai tanda-tanda kematian akibat komplikasi penyakit organisasi sejak lama. 

*****

Baca Juga: HMI untuk Siapa?

Semoga semuanya tidak seperti apa yang ada dalam tulisan ini. Semoga Hijau-Hitam memang sedang beraksi, mungkin penulis yang tidak melihat aksi-aksi kadernya. Hijau-Hitam terus berkibar, di mana pun dan kapan pun. 

Ia akan senantiasa memegang erat pedoman dan tujuan organisasi, tidak ada lagi rebutan kursi, menunda kongres, menjadi PJ Ketua Umum, Sekretariat yang ngontrak, kader yang mangkrak kuliahnya, tidak ada lagi perebutan jatah proyek, tidak ada lagi yang bisu melihat tetangganya kelaparan, tidak ada lagi penindasan akal sehat, tidak ada senior yang thogut, junior yang songong, bangku terbang saat kongres, demo bayaran, modus berdalih kaderisasi, dan semoga semua yang baik-baik terus menyertai Hijau-Hitam.

"Semoga?"