Ini adalah kisah peradaban umat manusia. Sebelum pabrik-pabrik kertas seperti Sinar Mas memproduksi kertas secara besar-besaran, sebelum bangsa Arab dengan semangatnya belajar memproduksi kertas dari orang Cina, dan sebelum Tsai Lun menemukan alat baru yang kita sebut kertas, umat manusia menulis di mana saja.

Kita dapat membaca sejarah bahwa para sahabat nabi mengumpulkan tulisan Alquran yang tercecer di batu, tulang, kulit, bahkan pelepah kurma. Kita juga dapat membaca bahwa sekitar tiga ribu tahun yang lalu para sekretaris Firaun menulis di atas daun papirus. Lebih jauh lagi, kita juga dapat membaca bahwa Hammurabi menulis undang-undangnya di atas batu. 

Kita dapat membayangkan bila kertas belum ditemukan, di suatu pagi, dengan secangkir kopi panas nan wangi, kita membolak-balikkan batu membaca koran pagi. Suara gesekan batu menambah suram aktivitas pagi yang cerah. Belum lagi kekhawatiran batu yang kita baca terjatuh dan pecah. Kita harus menyusun kembali satu per satu kata demi kata dan jangan lupa terhadap halamannya.

Di perpustakaan akan penuh batu-batu berjejer di rak. Di sela-selanya terdapat kulit hewan yang sudah keras. Ada juga pelepah kelapa, tulang-belulang, dan yang paling elegan dedaunan seperti daun lontar, daun papirus, dan jati. Perpustakaan lebih terlihat seperti gedung penyimpan barang antik daripada gudang informasi.

Kita kembali ke masa lalu. Syahdan, di suatu tempat di Cina, pada tahun 100-an masehi, orang menulis di suatu lembaran yang mirip kertas. Lembaran itu disebut chih

Chih terbuat dari bahan yang mahal dan eksklusif. Sehingga sulit untuk membuatnya secara massal. Sampai akhirnya lahir seorang anak ajaib dari Guiyang. Dia bernama Cai Luna atau Tsai Lun. 

Tsai Lun merasa tidak tahan dengan media tulis selama ini yang berat seperti bambu dan mahal seperti chih. Dia memiliki ide membuat media tulis dari kulit kayu, sisa-sisa rami, kain, dan juga jaring ikan. Dia menggunakan kulit kayu murbei untuk membuat kertas. Bagian dalam kulit kayu direndam dan dipukul sampai seratnya terlepas.

Bersama bahan lainnya, serat kulit kayu murbei diaduk sehingga mirip seperti bubur. Kemudian olahan tersebut ditekan tipis dan dijemur. Hasilnya, jadilah kertas pertama di dunia. Raja sangat senang atas penemuan ini. Tsai Lun pun diangkat menjadi bangsawan kerajaan.

Kertas kemudian melangkah menuju Barat, menemui bangsa yang sedang jatuh cinta kepada ilmu, bangsa Arab Islam. 

Alkisah, pada 751 masehi, pasukan Abbasiyah berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran Talas. Pada pertempuran itu, terdapat banyak pasukan Dinasti Tang yang ditawan bangsa Arab. 

Merekalah yang mengajarkan orang Arab membuat kertas. Karena kebutuhan terhadap kertas sangat banyak, kemudian muncul pabrik-pabrik kertas ke daerah-daerah kekuasaan Abbasiyah, seperti Bagdad dan Samarkand, lalu ke Eropa.

Sekarang mari kita kembali ke Timur. Di suatu kawasan yang sangat tidak asing bagi kita, kawasan tersebut penuh dengan gunung api dan jejeran pulau nan indah. 

Ya, benar sekali. Kawasan itu adalah Indonesia. Kita ke Ponorogo pada abad ke-7 masehi. Penduduk Ponorogo ketika itu sudah membuat kertas sebagai media penulisan. Kertas Ponorogo terbuat dari kulit kayu pohon. 

Oleh penduduk Ponorogo, kertas dijadikan sebagai alat tulis para biksu yang belajar agama Budha di Kerajaan Sriwijaya. Hanya saja, kertas tidak dijadikan alat untuk menulis peristiwa. Seperti penduduk nusantara lainnya, peristiwa ditulis berupa prasasti di batu. Akan tetapi, kertas digunakan untuk melukis wayang beber, cikal bakal wayang kulit.

Kisah di atas terjadi pada belasan hingga puluhan abad yang lalu. Bayangkan, sejak itu hingga sekarang sudah terdapat berapa miliar kertas yang dibuat oleh manusia. Kertas menjadi bahan wajib kita di sekolah kita, menemani teman curhat kita di kala jatuh cinta, dan menjadi wadah pemikiran-pemikiran ilmuan hebat yang mengubah dunia. 

Tidak lupa pula, melipat dan membolak-balik koran di pagi hari merupakan kenikmatan yang tidak tergantikan 

Tidak hanya membangun manusia secara personal, kertas juga membangun ekonomi bangsa. Pabrik-pabrik kertas seperti Sinar Mas telah memberikan ribuan hingga jutaan lahan pekerjaan bagi rakyat Indonesia, baik secara langsung, seperti karyawan pabrik, maupun secara tidak langsung, seperti kantin-kantin di hutan tanam, di pedalaman sana, atau para penjual buku yang selalu laris pada pembuka tahun ajaran baru sekolah.

Akan tetapi, pembuatan kertas tidak serta-merta lapas dari tantangan zaman. Ancaman kebakaran hutan yang sangat menganggu ekosistem alam kita dan perusahaan kertas tentu saja. 

Kebakaran hutan di Riau tahun lalu, misalnya. Sejak awal tahun hingga Agustus, Riau telah kehilangan 5.776,46 hektare lahan. Secara keseluruhan, Indonesia telah kehilangan 197.757 hektare lahan akibat kebakaran. Hal ini sangat merugikan ekonomi bangsa kita pada umumnya dan kertas pada khususnya. 

Tantangan lainnya adalah lahan kita yang makin sempit dari ke hari. Pabrik kertas membutuhkan lahan yang sangat luas. Untuk memenuhi kebutuhan lahan, pabrik kertas harus membabat hutan asli yang tidak terjamah. Pada Mei 2018 saja, terdapat 4 juta hektare untuk industri kertas dan bubur kertas.

Masalah di atas bukan saja masalah pemilik pabrik kertas dan pemerintah saja. Masyarakat juga harus meningkatkan kesadarannya untuk menjaga hutan dari kebakaran. Di tahun 2018, meskipun masih terdapat kebakaran hutan, pemerintah bersama masyarakat telah berhasil mengurangi jumlah kebakaran hutan dari tahun sebelumnya. 

Di sisi lain, kita juga perlu memikirkan bagaimana nasib para hewan kita yang makin terpojok. Pemerintah harus menjaga ketat hutan lindung agar tidak dicaplok masyarakat.

Sebaliknya, masyarakat harus sadar akan kewajibannya menjaga satwa. Inovasi tentu saja diperlukan. 

Kita dapat mencontoh Green Newspaper di Jepang. Green Newspaper adalah koran yang telah diselipkan biji bunga di dalamnya. Rancangan ini bermaksud agar masyarakat tidak membuang limbah korannya sembarangan. Daripada membuang koran, lebih baik menanamnya.

Baca Juga: Kematian Papyrus

Di tengah era digital, kertas tentu masih akan tetap ada penikmat atau lebih tepatnya penggunanya. Sebagai seorang mahasiswa dalam disiplin ilmu sejarah, kertas menjadi sebagian dalam ilmu yang saya tekuni. Bahkan, muncul aksioma yang berkembang dalam lingkungan sejarawan: no document no history.

Namun, seperti yang saya ungkapkan di paragraf sebelumnya, kita sebagai umat manusia harus tetap menjaga industri kertas bersama dengan ekosistemnya.