Menjelang kematiannya, Kenny Ackerman menyadari sesuatu hal: manusia, untuk bisa terus hidup, harus membiarkan dirinya mencandui sesuatu, tersiap kuat oleh sesuatu, entah itu uang, kekuasaan, Tuhan, ideologi, keluarga, hasrat, atau yang lainnya. Manusia, dalam menjalani hidupnya, mestilah diperbudak oleh sesuatu—apa pun itu.

Dalam perspektif Nietzschean, ada dua tipe manusia yang hidup sebagai budak.

Pertama, seseorang yang menerima beban-beban yang diberikan kepadanya, entah itu dalam bentuk kewajiban, hukuman, dosa, atau yang semacamnya. Tipe budak seperti ini pada akhirnya akan terbiasa dengan beban-beban yang ditanggungnya, dan ia justru meminta beban-beban lain, meminta tingkatan beban-beban itu ditambah.

Kedua, seseorang yang menolak beban-beban itu, dan ia meresponsnya dengan membangkang, dengan mengingkarinya, dengan menegasinya. Tipe budak yang satu ini menjalani hidup dengan semangat memberontak; ia, selalu merasakan adanya dorongan kuat untuk mendobrak bahkan menghancurkan tatanan-tatanan yang kadung ada.

Apa yang dipahami Kenny Ackerman menjelang kematiannya tadi, kurang lebih, sejalan dengan perspektif Nietzschean tersebut. Tuhan, keluarga, ideologi, adahal hal-hal yang mampu membuat seseorang yang mencanduinya menerima beban-beban yang begitu berat, dan seiring waktu berlalu ia bahkan sanggup menerima beban-beban yang lebih berat lagi. Di sisi lain, hal-hal tersebut pun mengandung sisi-sisi yang memungkinkan seseorang menolaknya, dan akhirnya mengingkari, bahkan melawannya.

The Selfish Gene dan Dorongan Hidup

Menurut teori kontroversial the selfish gene, yang diperkenalkan biologiwan Richard Dawkins lewat bukunya, The Selsifh Gene (1976), dorongan untuk terus hidup yang dimiliki seseorang mestilah berasal dari gen-gen egois dan manipulatif yang ada di dalam dirinya. Gen-gen itu egois, dalam arti mereka hanya ingin terus hidup, memperbanyak diri, tanpa peduli seseorang itu—inangnya—menginginkan hal yang sama atau tidak. Dan mereka manipulatif, dalam arti diam-diam membuat inangnya itu melakukan hal-hal yang akan membantu mereka mewujudkan keinginannya itu.

Si inang, menurut teori ini, tak menyadari bahwa mereka sejatinya berada dalam manipulasi gen-gen itu. Jangankan menyadarinya, si inang ini bahkan tidak pernah berpikir bahwa gen-gen itu hidup dan memiliki visi untuk terus menjaga kelangsungan hidupnya, meneruskan informasi-informasi yang telah mereka kumpulkan ke “keturunan” mereka.

Katakanlah seseorang mencari makanan ketika ia lapar. Menurut teori the selfish gene, gen-gen tadi itulah yang menyuruh seseorang itu mencari makanan, sebab mereka tahu bahwa jika seseorang itu tidak segera mengatasi rasa laparnya maka hal-hal buruk sangat mungkin menimpanya dan itu bisa mengancam kelangsungan hidupnya, yang berarti mengancam juga kelangsungan hidup gen-gen itu. Dan gen-gen ini, melakukannya dengan sangat subtil, sehingga seseorang itu berpikir ia mencari makanan atas inisiatifnya sendiri.

Dikaitkan dengan teori ini, apa yang disadari Kenny Ackerman tadi sungguhlah sesuatu yang masuk akal belaka. Dengan membiarkan dan mendorong seseorang mencandui sesuatu, diperbudak oleh sesuatu, gen-gen tersebut telah meringankan pekerjaan mereka sendiri, sebab seseorang itu dengan sendirinya akan mencari-cari cara untuk bertahan hidup bahkan tanpa perlu dimanipulasi, secara intens, oleh mereka.

Dan dengan diperbudaknya seseorang oleh sesuatu di luar dirinya itu, perhatiannya akan terisap ke sesuatu tersebut, dan mengurangi peluang ia menyadari bahwa sesungguhnya sebelum ada sesuatu di luar dirinya itu pun ia telah diperbudak oleh sesuatu yang lain di dalam dirinya, yakni gen-gen itu.

Dan semakin seseorang tidak menyadarinya, semakin gen-gen itu diuntungkan. Mereka tinggal fokus memanipulasi seseorang itu untuk melakukan hubungan seksual, berkembang biak, meneruskan informasi-informasi yang telah terkumpul di dalam diri mereka. Mereka tak perlu bersusah-payah menghadapi penolakan dan perlawanan dari seseorang itu—atas manipulasi dan subordinasi mereka selama ini.

Kesadaran, Neocortex, dan Übermensch

Gen-gen ini tentu belajar dan terus mengembangkan diri. Mereka berevolusi, dan berinovasi. Seiring berkembangnya peradaban berkembang juga cara-cara mereka dalam memanipulasi inang, upaya-upaya mereka dalam menjaga kelangsungan hidupnya, sebab hambatan-hambatan pun berkembang.

Dulu, misalnya, ketika tulisan belum “ditemukan” dan bahasa masih sangat “sederhana” dan teknologi masih bersifat “mistis”, inang-inang yang mereka manipulasi itu tak memiliki akses yang cukup untuk menjangkau mereka, keberadaan mereka, bahwa mereka ada, hidup, di dalam diri inang-inang itu. Kalaupun bayangan atas hal ini ada, inang-inang itu tentu belum bisa mentransformasinya menjadi sesuatu yang konkret dan ilmiah.

Akan tetapi kini, dengan telah dicetuskan teori the selfish gene beberapa dekade yang lalu, dan pesatnya kemajuan teknologi memudahkan kita mengaksesnya, bayangan tersebut terkonkretkan; kita jadi tahu bahwa di dalam diri kita memang ada gen-gen itu, dan mereka memanipulasi kita dan kita selama ini membiarkannya.

Di titik ini tentu kita memiliki pilihan: melawan. Dan inilah hambatan baru yang harus diatasi oleh gen-gen itu. Mereka tentu ingin tetap memanipulasi kita meski tahu betul bahwa itu tidak akan lagi mudah sebab kita telah menyadari keberadaan mereka dan apa yang mereka inginkan. Kita, si inang ini, kini telah memiliki kesadaran.

Bertolak pada teori the triune brain yang dicetuskan neoroscientist Paul MacLean, kesadaran ini mestilah sesuatu yang terbentuk dan tumbuh di neocortex, bagian termutakhir dari otak kita, yang salah satunya berurusan dengan imajinasi atau pikiran abstrak. Logika, atau rasio, tentu juga ada dalam ranah neocortex. Dan ketika rasio ini dipadukan dengan imajinasi atau kemampuan berpikir abstrak, kesadaran itu pun terbentuk. Perpaduan tersebut membuat kita mampu membayangkan dan menangkap apa yang berusaha dijelaskan Dawkins lewat teori the selfish gene-nya tadi.

Katakanlah terbentuknya kesadaran ini mendorong kita untuk melawan. Jika selama ini kita hidup sebagai inang bagi gen-gen di dalam diri kita itu, kali ini kita hidup sebagai diri kita sendiri, dan kita memilih jalur yang berbeda dari apa yang “dipilihkan” oleh mereka untuk kita. Dan tentu kita tidak akan mau lagi hidup sebagai budak. Masalahnya, berdasarkan perspektif Nietzschean tadi, melawan manipulasi dan subordinasi gen adalah juga wujud lain dari hidup sebagai budak.

Di sini mungkin kita bisa mengambil alternatif lain, mengejar tujuan lain, yakni apa yang oleh Nietzsche disebut sebagai übermensch. Tidak seperti yang disalahpahami oleh Hitler, übermensch sama sekali tidak merujuk pada sebuah ras unggul, melainkan ke sebuah sosok ideal, yakni sesosok manusia-yang-melampaui; sesosok manusia yang melampaui diri-manusianya.

Yang dilampauinya itu salah satunya adalah bineritas seperti sistem baik-buruk. Hidup sebagai budak dengan dua pilihan respons tadi, sejatinya adalah sesuatu yang terlahir dari sistem baik-buruk ini, bineritas ini. Maka sesosok übermensch dalam menyikapi beban tadi tidak akan menerima dan tidak akan juga menolaknya; tidak akan memikulnya dan tidak akan juga mengingkarinya. Yang ia lakukan, adalah melampauinya. Dan pertama-tama ia akan melepas-bebaskan beban tersebut dari nilai yang kadung dimilikinya—diberikan padanya.

Menuju Übermensch, Menjadi Budak

Namun ada setidaknya dua masalah di sini. Pertama, übermensch adalah sosok utopis; sebuah wujud yang kemungkinan besar tidak akan bisa kita capai. Kedua, hidup menuju übermensch adalah hidup untuk terus menguatkan diri, meningkatkan kualitas diri dengan cara mencari “lawan tanding” dan meninggalkannya setelah berhasil mengalahkannya. Itu artinya, seseorang membiarkan dirinya mencandui diri-yang-lebih-baik, diri-yang-lebih-kuat. Dan bukankah itu sama saja dengan ia diperbudak olehnya dorongannya ini?

Jadi barangkali, kendatipun kita telah memiliki kesadaran dan kita menggunakan kesadaran ini untuk mencoba menjadi manusia-yang-melampaui, pada akhirnya kita tetap hidup sebagai budak. Kita mencandui sesuatu. Kita diperbudak oleh sesuatu.

Dan kalaupun ada pilihan lain yang mungkin bisa mengeluarkan kita dari situasi ini, itu adalah bunuh diri. Tetapi di sini pun masih harus ditelusuri apa yang mendorong kita untuk bunuh diri.

Di dalam teori the selfish gene sendiri, dikenal bunuh diri altruistik, yakni bunuh diri yang didorong oleh keinginan untuk menjaga kelangsungan hidup gen-gen lain yang lebih potensial dalam meneruskan dan menurunkan informasi-informasi yang terkumpul. Jika bunuh diri seperti ini yang dimaksud, maka, ketika kita melakukannya, kita melakukannya sebagai budak.

Tetapi kalaupun bunuh diri yang dimaksud adalah bunuh diri non-altruistik, seperti bunuh diri egoistik atau bunuh diri fatalistiktetap saja, kita melakukannya sebagai budak, yakni dalam perspektif Nietzschean tadi—tipe yang melawan. 

Dan kalaupun bunuh diri ini diposisikan sebagai aktivitas yang terlahir dari puncak kesadaran, bahwa seseorang menilai dirinya telah selesai melakukan apa yang harus dilakukannya dalam hidup yang dijalaninya, dan ia puas dengan kehidupannya itu, sebenarnya, pilihannya untuk mati ini tak lain dan tak bukan adalah perlawanan terhadap diri-biologisnya yang ingin hidup, dan di saat yang sama penghambaan terhadap diri-filosofisnya yang ingin mati. Ia, dengan kata lain, tetap melakukannya sebagai budak.

Lantas apa? Apakah kita harus menerima kenyataan bahwa kita bagaimanapun adalah budak? Bisa jadi begitu. Dan kita telah menjadi budak bahkan sejak kita ada, sejak kita meringkuk tak berdaya di rahim seorang perempuan yang kemudian melahirkan kita.

Dan karena kita agaknya tak bisa mengubahnya, maka yang bisa kita upayakan adalah menjadi budak yang baik, yang berdampak positif bagi budak-budak lain—orang-orang di sekitar kita. 

Kecuali, kita kelak menemukan cara untuk membuat kita tak pernah ada; sebuah teknologi yang mampu menghapus secara sempurna semua jejak kita di kehidupan ini.(*)