Manusia adalah makhluk berpikir dan memiliki hati nurani. Oleh karenanya, kita akan menjadi apa yang kita pikirkan dan yang kita tanamkan dalam hati kita lewat kebiasaan-kebiasaan yang sering kita lakukan.

Baik atau buruknya pikiran dan hati kita akan menentukan gerak kehidupan kita selanjutnya. Kekuatan kata yang kita renungkan dan menjadi inspirasi pikiran akan memperkuat motivasi hidup, dan selanjutnya, menspiritualkan kesadaran kita pada kualitas hidup yang hendak kita capai.

Untuk Menjadi seorang yang bijaksana ada 2 aspek yang harus menjadi perhatian utama untuk pembentukan diri: yang pertama adalah pengendalian diri.

Dalam proses pengendalian diri yang pertama-tama harus dibentuk adalah belajar mencintai diri sendiri, karena dengan belajar mencintai diri sendiri berarti belajar menerima baik-buruk dan segala hal yang meliputi seluruh hidup. Mencintai diri berarti menerima diri apa adanya.

Menerima diri apa adanya tidak berarti pasrah dan membiarkan diri terbelenggu oleh situasi hidup tertentu yang kurang baik, melainkan dengan kebesaran jiwa berani menerima kenyataan yang meliputi keberadaan diri dan mengambil langkah untuk membangun masa depan. Jika sudah bisa mencintai diri sendiri, maka akan bisa mencintai segala pekerjaan yang dilakukan.

Dengan mencintai pekerjaan, maka akan menjadi lebih kreatif dan bersemangat dalam bekerja. Setiap pribadi memiliki keunikan masing-masing, maka setiap orang harus punya pilihan hidup sendiri-sendiri. Jika tidak, maka orang lain yang akan menentukan “dunia” kita. Tidak siapa pun, hanya kita yang mengenal dan bertanggung jawab akan dibawa kemana dan dibangun menjadi apa diri kita.

Percayalah pada kata hati yang tak melihat dan tak mendengar tetapi mampu menyelami hakekat peristiwa kehidupan. Ikutilah kata hati, bukan kata pikiran, apalagi kata mata, agar reaksi tidak tertipu gejolak hidup yang samar dan buram akan kebenaran.

Tanggung jawab kita terhadap hidup pribadi ditentukan oleh keputusan dan pilihan hidup kita sendiri. Beranilah jujur dan tegas menentukan diri, lepas dari pencarian pamor dan pujian. Pujian dan pamor adalah alat yang paling ampuh dan efektif membelokkan prioritas hidup kita. Berusahalah memperjuangkan prioritas hidup kita dengan kepercayaan diri yang teguh, tak membiarkan diri kita diatur oleh sentiment atau perasaan belaka.

Manusia tidak hidup untuk belajar, tetapi belajar untuk hidup. Dengan demikian, tiada manusia di dunia ini yang dapat dikatakan sungguh-sungguh bodoh atau sungguh-sungguh pandai. Sebab setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan sesuai realita hidup yang dialaminya.

Banyak hal dalam kehidupan ini yang dapat kita ketahui, namun sedikit yang dipahami dengan benar. Kata “memahami” berarti mengerti secara komprehensif akar masalah sesuatu hal. Kita sering hanya memikirkan hal-hal yang kelihatan dengan hanya mengacu pada pengalaman pribadi yang terbatas, padahal pengalaman pribadi hanya bagian kecil dari realita sesungguhnya yang kita hadapi.

Yang kedua, relasi dengan orang lain. Betapa pentingnya arti sebuah komitmen untuk dapat membangun relasi yang baik dan saling percaya dengan orang lain.

Kadang kala ada orang yang mudah membuat komitmen dengan ucapan lantang tanpa pikir panjang, sekedar ingin menyenangkan hati orang; Lantaran merasa tidak ingin mengecewakan atau tak sampai hati untuk menolak, ada orang yang mudah membuat janji tertentu, padahal sebenarnya ia ragu untuk dapat menepatinya atau kemungkinan kecil dapat menepati janjinya itu.

Setiap manusia sangat mendambakan penampilan yang mempesona dan berdaya tarik kuat bagi orang lain. Kebanyakan orang menganggap daya tarik penampilan adalah pangkal dari segala puji dan harga diri seseorang. Sebuah daya tarik selalu menyangkut enak atau indah dipandang dan menawan hati.

Banyak orang sibuk memperhatikan dan mengurus kecantikan lahiriah, agar memiliki daya tarik yang kuat, padahal kunci kecantikan yang sesungguhnya adalah jika seseorang merawat dan memperhatikan kecantian hatinya. Dalam kehidupan ini, pesona lestari tidak cukup ditimbulkan dari wajah rupawan yang indah dipandang, melainkan juga perlu didukung perilaku yang terpuji yang terpancar dari hati yang baik.

Kepribadianlah yang menentukan kekuatan daya tarik seseorang. Seorang berhati baik akan memancarkan keceriaan yang tulus, sehingga selain indah dipandang dan menawan hati, ia memancarkan kekuatan positif yang meneguhkan hidup.

Kebaikan hidup juga bukan soal memiliki atau tidak, tapi lebih pada sikap batin yang sederhana dan hidup dalam batas yang “seharusnya”. Hiduplah secukupnya atau dalam batas “seharusnya” dari apa yang berhasil kita peroleh. Sikap kesederhanaan berupa hidup secukupnya dan melakukan apa yang seharusnya, akan membuat kita sungguh dapat memiliki dan menikmati hidup ini lebih penuh, lebih tulus, damai dan mendalam.

Bagian terbaik dan terindah dari seseorang yang memilih hidup dan berpikir sederhana adalah pikiran dan tindakannya yang sederhana sehingga hidupnya tidak rumit, tidak banyak perhitungan yang berbelit-belit, cepat mengagumi, tanpa pamrih, tidak menghakimi, tulus, hatinya lebih ramah kepada semua orang, dan siap dilupakan orang dalam kebaikan dan cintanya.

Perbedaan dalam berelasi dengan orang lain akan selalu ada dalam hidup ini. Perbedaan hakekatnya untuk memperkaya kehidupan. Karena itu, perbedaan tidak perlu dihilangkan atau dibasmi, dan tidak perlu ditekan, melainkan perlu dicari persamaannya. Dengan demikian, persamaan akan melicinkan hubungan dan saling melengkapi demi kebersamaan.

Allah menghendaki kesatuan karena adanya perbedaan, bukan kesatuan karena adanya keseragaman. Perbedaan selalu dapat memperkaya, membangun dan meneguhkan hidup. Berbahagialah orang yang bisa menghargai perbedaan dan kelebihan orang lain. Hatinya akan menjadi jernih bersinar dan hidupnya akan benar-benar menjadi berkat bagi sesama.