Di awal tulisan ini saya ingin mengajukan satu pertanyaan lelucon kepada pembaca: Jika ada bayi anak negeri yang baru dilahirkan, kira-kira apa yang dilihat pertama kali oleh orang-orang tentang bayi nusantara tersebut? Saya kira semua akan menjawab: hidung. Iya, hidunglah anatomi yang pertama kali menjadi titik fokus lensa mata para tetangga memahami struktur fisik bayi nusantara tersebut.

Jika hidung bayi itu pesek, maka orang-orang seakan kurang terpukau. Pancaran wajah mereka tidak menampilkan keterkejutan. Perasaan mereka biasa saja. Datar, tak muncul kesan spesial. Bayi pesek itu tak akan jadi idola kecil bagi orang-orang.

Berbeda jika bayi itu berhidung mancung, laksana hidungnya Herman Willem Daendels atau Dennis Bergkamp, yang sama-sama orang Holland tapi beda zaman. Pasti orang-orang akan histeris. Mereka kagum dan mengelu-elukan bayi berhidung mancung itu. Kata mereka, bayi mungil itu seperti orang Belanda. Atau paling tidak mirip bayi Arab. Ia pun menjadi bayi idola.

Bayi yang menjadi idola akan terus dibicarakan di mana-mana. Lisan orang yang sudah melihat rupa bayi itu tak henti mendialogkan materi tentang hidung mancung tersebut di hadapan orang lain.

“Eh, tahu gak, anaknya Bu Titik hidungnya mancung? Mirip politisi siapa itu, oh iya Fadli Zon. Ganteng loh wajahnya....”

Ibu-ibu yang mendapat kabar bahagia itu tak kurang sigapnya, “Apa benar? Wah, berarti bayinya Bu Titik pasti lebih ganteng daripada bayinya Bu Tutik. Kan bayinya Bu Tutik hidungnya pesek. Apalagi sama bayinya Bu Tatik, sudah blesek, rambutnya krewol lagi.”

Ya, jadilah masalah hidung bayi yang menjadi pusat perhatian itu memunculkan polarisasi kecil-kecilan di tengah masyarakat. Yang sini lebih suka pada bayi yang berhidung mancung, karena anak turunnya memang semua berhidung mancung. Sementara yang sana tetap mempertahankan diri dengan kepesekan hidung, tujuh turunan. Kata mereka, pesek bukanlah masalah, yang penting sehat.

Tapi untungnya polarisasi yang sejak dulu ada itu tidak melahirkan keadaan yang berbahaya. Misalnya, mengakibatkan kedua kubu hidung mancung dan kubu hidung pesek saling tawuran, berperang demi menunjukkan siapa yang menjadi pemenang. Polarisasi tersebut tak lebih memunculkan kekaguman saja pada salah satu pihak dan sebaliknya tidak membenci ke pihak lain.

Bukti itu banyak sekali. Salah satunya, seseorang yang awalnya seakan hiperfanatik pada bayi yang berhidung mancung, tetapi ketika ia diminta tolong menggendong bayi yang berhidung pesek, toh senang juga. Malah menciumi bayi pesek itu, mengajak dialog, dan memeluk dengan rasa bahagia.

Hal itu menandakan memori penjajahan kolonialisme Belanda yang durasinya ratusan tahun itu, yang sekalipun masih mengendap, tetapi tidak sangat menguasai. Di pikiran orang-orang memang masih saja tersimpan kenangan psikologis tentang keunggulan orang-orang kolonial itu, salah satunya hidung mancung. Tapi sekarang sudah diimbangi dengan gerakan toleransi kepada model hidung-hidung lainnya.

Orang sekarang sudah sangat menyadari, pada akhirnya keunggulan ala orang kolonialis itu tidak menjadi jaminan hadirnya keunggulan hidup yang riil. Artinya, perbedaan ras yang sebenarnya dipengaruhi iklim di suatu daerah, sama sekali bukan faktor substantif tentang keunggulan itu. Justru keunggulan riil itu terjadi, seperti era sekarang ini, dipengaruhi faktor kecerdasan dan kecekatan (sat set).

Bukankah ekonomi dunia sekarang sudah mulai dikuasai Tiongkok? Amerika sudah mulai kelabakan. Eropa sudah sekian tahun merasakan dahsyatnya Tiongkok. Padahal kita tahu, orang-orang Tiongkok rata-rata berhidung agak pesek dan tubuhnya tidak begitu tinggi dibanding orang Eropa atau Amerika.

Tiongkok meroket tentu bukan karena hidung agak peseknya. Tiongkok meroket disebabkan perkembangan sumber daya manusia mereka yang terus berjalan maju. Meninggalkan negeri-negeri lainnya, terutama dibanding beberapa negara di Asia, yang masih tertatih-tatih. Perkara hidung pada akhirnya menjadi tak penting lagi.

Makanya, kabar dunia tentang Tiongkok itu bisa dijadikan pula sebagai bahan perubahan sikap. Pertama, yang selama ini selalu bangga pada bayi yang berhidung mancung, sekarang harus diubah. Sebab jika diterus-teruskan, Anda akan malu sendiri kalau tahu orang-orang Tiongkok itu rata-rata hidungnya pesek. 

Kedua, yang selama ini merasa biasa-biasa saja dengan hidung pesek anaknya, juga harus segera diubah agar lebih percaya diri. Sebab perkara kesuksesan hidup yang riil itu sama sekali tidak dipengaruhi model hidung.

Dan Anda semua juga harus paham, Daendels yang hidungnya mancung cenderung lancip itu, dulu dialah aktor di balik kerja rodi yang diwajibkan kepada warga pribumi. Dialah pembuat ulah kesengsaraan buyut-buyut kita itu. Banyaknya pribumi yang mati terkena malaria, saat pembangunan proyek prestisius jalan Anyer-Panarukan, ya dia itu aktor utamanya.

Sementara itu, Bergkamp memang pesepakbola yang handal. Menurut banyak komentator bola, dialah pesepakbola Belanda dengan kecerdasan berpikir yang luar biasa. Istilahnya, berotak komputer. 

Tetapi Anda perlu tahu juga realitas lainnya bahwa Bergkamp itu seorang pesepakbola yang fobia naik pesawat terbang. Jadi melancong ke mana-mana seringnya melewati jalur darat. Padahal, hidungnya mancung dan juga lancip. Seperti halnya hidung anaknya Bu Titik.