Bagaimana perasaan Anda jika keluarga dan sanak saudara dekat dibunuh di depan Anda? Belum lagi rumah dibakar, lalu dengan jelas mendengar pula tangisan dari rumah tetangga yang juga mengalami hal yang sama dengan Anda. Kemudian, melihat orang-orang berlarian menuju tempat persembunyian yang dirasa aman, tapi hanya satu yang Anda tahu, bahwa agaknya tidak ada tempat aman ketika itu.

Bayi, anak-anak, pemuda-pemudi, ibu-ibu bahkan bapak-bapak dengan tergesa-gesa berlarian di hadapan Anda berusaha menyelamatkan diri. Dengan samar-samar Anda melihat bahwa orang yang mengejar mereka adalah tetangga dari desa sebelah yang masing-masing kini ditandai dengan pita.

Ya, hanya pita yang membedakan mereka. Mereka yang berlari untuk bersembunyi memakai pita merah, dan mereka yang mengejar menggunakan pita putih dan begitu sebaliknya. Selain dari itu, Anda juga tahu mereka semua bersaudara, yang kini harus saling membunuh satu dengan yang lainnya.

Tampak begitu mengerikan, bukan? Apa yang saya kemukakan di atas merupakan gambaran sekilas mengenai apa yang terjadi sekitar tahun 1999-2000 di Maluku Utara, khususnya daerah Tobelo. Kala itu, masyarakat antar desa saling bertikai dan bahkan saling membunuh satu dengan yang lain.

Tanda pita yang saya kemukakan di atas dipakai warga sebagai penanda antar kelompok yang bertikai. Warga yang memakai pita putih di kepala mayoritas beragama Islam, dan yang memakai pita merah adalah warga yang beragama Kristen. Anda mungkin menyimpulkan bahwa konflik yang terjadi di sana merupakan konflik agama. Tetapi benarkah demikian?

Belum lama ini, saya baru saja kembali dari Tobelo dalam rangka Studi Perdamaian Mahasiswa Lintas Iman. Saya bersama teman-teman lain melaksanakan penelitian singkat mengenai peristiwa konflik kemanusiaan yang pernah terjadi di sana. Selama kurang lebih 5 hari, kami berkesempatan untuk tinggal bersama (Live In) di rumah masyarakat, tepatnya di desa Mede yang terletak kira-kira 30 menit dari Kota Tobelo.

Penduduk desa ini hampir semuanya beragama Kristen. Sebagai informasi, bahwa setelah konflik, perkampungan di sana menjadi “satu warna” saja yang artinya dalam satu desa hanya ada satu komunitas keagamaan saja. Sehingga untuk mendapatkan “warna” berbeda, kami pun melakukan penelitian pada masyarakat desa Popilo yang banyak beragama Islam.

Melalui perkunjungan di kedua desa yang lampau pernah terjadi konflik ini, saya dan teman-teman sungguh diperkaya dengan pengalaman masyarakat setempat.

Bagi kita yang pernah mengetahui konflik yang terjadi di Maluku, semua pasti sepakat bahwa ini merupakan konflik antarumat Kristen dan Islam. Memang benar, tetapi apa yang terjadi dahulu di sana bukanlah murni karena adanya perbedaan ajaran antara agama yang satu dengan yang lain, hingga akhirnya menimbulkan pertikaian.

Temuan-temuan saya dan teman-teman lain yang mengikuti kegiatan studi perdamaian membuka cakrawala berpikir kami akan luasnya dimensi penyebab konflik kemanusiaan yang terjadi di Tobelo, khususnya masyarakat desa Mede dan desa Popilo. Dapat ditinjau dari sisi sosial, politik, bahkan ekonomi. Dalam tulisan ini saya lebih fokus menyoroti sisi yang terakhir, yaitu ekonomi.

Pemicu Konflik

Adapun penyebab awal terjadinya konflik antar kedua desa terkait dengan persoalan tapal batas atau batas tanah. Bagi masyarakat di Halmahera, perihal tanah merupakan persoalan yang teramat penting.

Bagi mereka, tanah yang di dalamnya termuat berbagai Sumber Daya Alam (SDA) dianggap memiliki sisi sakral selain nilai ekonomis. Ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat desa masa lampau mengenai alam yang diyakini memiliki kekuatan atau ada “pemiliknya”. Sehingga warga desa biasanya hidup terikat dengan kekuatan “supranatural” dari SDA yang mereka hidupi. Masing-masing desa memiliki keyakinan ini.

Masyarakat suatu desa akan berusaha menghidupi diri dari tanah tempat tinggal mereka. Menyeberang ke desa lain untuk mengambil SDA-nya merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Karena berkaitan juga dengan melanggar hal yang sakral tadi. Masing-masing penduduk desa hanya boleh menggunakan apa yang tersedia di tanah tempat desa mereka berada.

Sehingga ketika ada yang mengambil SDA dari satu desa lain di mana dia bukan merupakan penduduk desa itu, tindakan ini dapat menciderai penduduk desa setempat dan berpotensi pula menyebabkan konflik. Sehingga mengenai persoalan ini erat sekali kaitannya dengan worldview masyarakat di Halmahera Utara.

Kemudian hal lain yang menyebabkan konflik yaitu mengenai tambang besi putih. Sebagai informasi lanjutan, pernak-pernik sebagai ciri khas dari daerah Tobelo adalah kalung serta gelang yang terbuat dari besi putih. Bahan baku ini diambil melalui penambangan. Di desa Mede juga terdapat tempat penambangan besi putih ini.

Banyak masyarakat desa Mede yang menjadi pekerja di penambangan. Sehingga jika mau disimpulkan, rata-rata penduduk desa bermata pencarian pekerja di penambangan besi, nelayan, berdagang serta berkebun. Tambang besi telah menjadi sumber utama perekonomian atau penghasilan masyarakat di sana.

Tambang besi ini pun seringkali menjadi penyebab konflik khususnya antar desa Popilo dan Mede terkait dengan siapa yang berhak menjadi pekerja di sana. Penduduk desa Mede tentu saja yakin mereka yang pantas, karena tambang itu terletak di desanya. Tetapi penduduk desa Popilo pun tetap berkeinginan juga menjadi “penguasa” di tambang ini, karena dirasa bahwa wilayah desa Mede sekarang masih termasuk desa Popilo.

Sehingga penduduk desa Popilo berpendapat tambang besi itu juga hak mereka. Hal ini lah yang kemudian menimbulkan konflik yang lagi-lagi dikaitkan dengan agama. Sehingga kita kenal peristiwa ini dengan konflik umat beragama. Padahal sejatinya tidak persis demikian.

Akibat dari konflik itu menyebabkan banyak korban jiwa. Baik dari masyarakat yang beragama Kristen dan Islam. Saya belum mendapatkan data pasti mengenai korban yang tewas ketika terjadi konflik di desa Mede dan Popilo, tetapi jika secara umum dihitung di kawasan Tobelo dan sekitarnya, termasuk dua desa tersebut, sekitar 2500 orang tewas ketika itu. Ini hanya yang terjadi pada tahun 1999, belum ditambah dengan korban tewas pada tahun 2000.

Selain itu, dilansir dari laman oocities.org, ada sekitar 3000 orang juga mengungsi karena hal ini. Belum lagi kerugian finansial karena rumah-rumah ibadah, serta rumah-rumah warga yang turut dibakar ketika pecah konflik.

Tetapi apa yang terjadi sekarang sudah lebih baik dari masa lampau ketika konflik. Meski masih ada beberapa sentimen antar penduduk desa, hanya tidak menyebabkan konflik seperti yang pernah terjadi 17 tahun lalu.

Lalu, apa sebenarnya yang menjadi peredam dari konflik kemanusiaan di kawasan Tobelo tersebut?

Hiboulamo dan Simbol Perdamaian

Salah satu yang menarik dari upaya penyelesaian konflik kemanusiaan yang terjadi di Halmahera adalah melalui pendekatan adat/budaya. Tiap-tiap desa di sana memiliki lembaga adat masing-masing. Termasuk di desa Mede. Saya pun pernah berbincang dengan salah satu anggota dewan adat desa ini, yang menyampaikan begitu besarnya peran adat/budaya bagi kehidupan masyarakat sekitar. Artinya, tiap-tiap kegiatan besar seperti pernikahan pasti melalui adat.

Dalam usaha penyelesaian konflik di Tobelo, adat memiliki peran yang besar. Terbukti dengan diadakannya deklarasi dari masyarakat adat Hibualamo sebagai upaya penyelesaian konflik yang pernah terjadi. Hibualamo merupakan rumah adat yang berartikan Hibua = Rumah, Lamo = besar. Dahulu di dalam rumah ini, masyarakat Tobelo melakukan musyawarah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat.

Tetapi seiring berjalannya waktu, rumah adat ini digerus oleh tampilnya balai desa. Tetapi kini, setelah konflik, masyarakat Halmahera sepakat untuk membangun kembali rumah adat ini.

Melalui deklarasi perjanjian damai serta usaha mengembalikan fungsi musyawarah di rumah adat hibuolamo, masyarakat yang berkonflik pun bersama-sama sepakat menghentikan pertikaian. Selain itu, kearifan lokal berupa pepatah seperti "Ngone oria dodoto" (Kita Semua Bersaudara), digalakkan kembali di masyarakat.

Tampaknya memang upaya peredam konflik yang dilakukan di Tobelo dapat pula menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Bahwa alangkah lebih baik jika usaha untuk meredam konflik yang ada dengan mempergunakan apa yang sesungguhnya telah ada dalam masyarakat.

Kita harus kembali mengkontruksi nilai-nilai budaya atau kearifan lokal yang sesungguhnya telah kita miliki sebagai usaha meredam konflik dan dapat pula digunakan sebagai pengikat masyarakat yang pernah bersengketa.

Budaya lokal yang dimiliki tiap-tiap masyarakat kita digunakan sebagai alat meredakan pertikaian yang terjadi, seperti yang dilakukan masyarakat Tobelo. Karena sesungguhnya, tiap-tiap budaya telah memiliki nilai-nilai penghargaan akan kemanusiaan dan perdamaian yang sungguh berharga.

Melalui usaha membangun ulang kearifan lokal itu, dapatlah kita berharap, tiap-tiap konflik kemanusiaan yang terjadi dapat berkurang. Masyarakat yang pada masa lampau berkonflik dapat berdamai kembali, seperti yang terjadi di Tobelo, dan kita pun tidak lagi bertikai hanya karena hal-hal kecil. Konflik dapat pula diselesaikan dengan musyawarah, karena yang demikianlah sesungguhnya sifat alami masyarakat kita.