Hermeneutika menjadi kajian yang populer dan menarik dalam keilmuan filsafat. Hermeneutika hadir bermula dari kritik terhadap otoritas penafsiran teks Bibel yang dilakukan oleh gereja.

Beberapa tokoh beranggapan bahwa kitab suci harus ditafsiri dengan kitab suci itu sendiri dan tidak ada yang berhak memaknai kitab suci termasuk dari pihak gereja ataupun Paulus sekalipun.

Prinsip "cukup kitab suci saja sebagai penafsir dan tidak perlu sebuah tradisi" dalam menafsiri teks suci ini disebut dengan Sola Scriptura. Prinsip ini kemudian menjadi titik tolak awal mula pengembangan hermeneutika.

Nama seperti Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher muncul sebagai salah satu tokoh besar yang mengawali sekaligus berpengaruh besar terhadap eksistensi hermeneutika sampai hari ini.

Schleiermacher dikenal sebagai bapak hermeneutika, meskipun dalam riwayat pendidikannya lebih bergelut pada bidang keilmuan seperti teologi, filsafat, dan teologi.

Schleiermacher memiliki tulisan-tulisan hermeneutik dalam sketsa-sketsa dan juga catatan kuliahnya yang menjadi indikasi keterikatan dan ketertarikannya dengan keilmuan di bidang hermeneutika.

Hermeneutika Scheiermacher bersentuhan dengan pengaruh romantisme. Masa romantisme ini adalah sebuah gerakan yang memberikan kritik terhadap masa pencerahan di abad ke-18.

Mereka mengkritik berbagai kemajuan-kemajuan industri kapitalisme dan lain sebagainya yang dianggap perlu dipertanyakan dan dikaji serta menggali ulang kebijaksanaan kuno, tradisi, dan agama yang telah mengalami kemerosotan.

sikap tersebut bukan hanya sebuah kritik akan tetapi juga sekaligus respon kerinduan mereka terhadap nilai, tradisi dan agama yang lalu yang dianggap telah terkikis oleh modernitas.

Di masa itu kental dengan dua pandangan dari tokoh besar mengenai agama. Kant menilai agama tidak lebih sebagai hal-hal yang bersangkut paut dengan moralitas kemudian Hegel juga memiliki pandangannya sendiri ia berpendapat bahwa agama itu adalah rasionalitas manusia.

Kedua pandangan ini disanggah oleh Schleiermacher. Menurutnya agama pada hakikatnya adalah suatu perasaan yang mutlak ada dalam diri manusia. Agama tak lain adalah merasakan keberadaan dari cosmos atau alam semesta.

Pandangan Scheiermacher ini adalah salah satu yang dinilai sangat terikat dengan emosional, sehingga menyebabkan mengapa pandangannya ini diindikasi terpengaruh oleh masa romantisme.

Masalah utama dari hermeneutika Scheiermacher adalah bagaimana memahami teks-teks di masa silam. Dimana persoalan awal bermula dari kesalahpamahan.

Persoalan di dalam memahami teks teks kuno; memahami apa yang disampaikan dalam konteks bahasa yakni tulisan itu sendiri dan memahami apa makna asli yang dimaksud penulis.

Apa yang tertulis dan menjadi sebuah teks yang dapat kita baca belum tentu merepresentasikan maksud yang hendak dicapai penulis. Teks-teks itu bisa saja memiliki makna-makna ganda sehingga hal ini menimbulkan suatu kesenjangan untuk mendapatkan makna teks yang sesungguhnya.

Apa yang dimaksud oleh penulis mengalami kesenjangan antara apa yang dikatakan dan apa yang dibicarakan. Dari kesenjangan ini kemudian muncul seni memahami yang dikemukakan oleh Schleirmacher.

Pada praktik memahami terhadap suatu teks, maka Schleiermacher mengusungnya ke  dalam dua fokus untuk menemukan substansi makna.

Pertama terhadap hermeneutika gramatika dan kedua terhadap hermeneutika psikologis. Pada dasarnya keduanya bertujuan mencapai pemahaman dari maksud teks masa lalu pada konteks masa itu agar dapat difungsikan pada masa teks tersebut dibaca.

Hermeneutika gramatika merujuk pada hal-hal yang terkait dengan tata kebahasaan. Apa yang menjadi objek pemahaman adalah bahasa yang berupa simbol-simbol dari teks.

Memahami kebahasaan berarti melakukan proses untuk menangkap makna-makna yang terdapat di dalam teks sehingga dapat mengantarkan pembaca memahami lewat bahasa yang digunakan.

Penting memahami kebahasaan sebab bahasa memiliki peluang untuk mengalami perubahan maksud dan makna dari satu masa ke masa setelahnya. Bahasa dengan kata yang sama mungkin saja memiliki arti yang berbeda karena adanya perbedaan zaman dan berbagai faktor lainnya.

Fokus kedua, hermeneutika psikologis merujuk pada pikiran dari penulis. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh penulis menjadi objek fokusnya.

Sesuai dengan penamaannya yang menggunakan kata "psikologis", hermeneutika psikologis berusaha memahami psikis pemikiran beserta hal-hal yang turut serta mempengaruhi pemikiran-pemikiran penulis.

Dalam hermeneutika psikologis ini pembaca harus berupaya menangkap makna yang sama seperti yang dikehendaki oleh penulis. Dalam arti yang sederhana pembaca dituntut untuk membaca pikiran penulis.

Untuk sampai pada tahap ini, pembaca perlu mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan penulis seperti dari segi kepribadian dan historitasnya. Bagaimana konteks teks yang dimaksud pada masa teks itu dibuat sehingga dapat dipahami pada konteks terkini.

Menurut Schleiermacher hermeneutika gramatika dan hermeneutika psikologis sangat diperlukan. Keduanya ditujukan agar seorang pembaca dapat menangkap apa yang hendak disampaikan. Baik dari segi konteks kebahasaan beserta kemungkinan penafsirannya maupun memahami dari segi substansi makna yang ada di pikiran penulis.

Hermeneutika Scheiermacher sekilas tampak seperti memperumit manusia dalam prosesnya memahami sebuah teks. Namun nyatanya melihat pada sisi positifnya, hermeneutika yang ia gadang-gadang menjadi solve untuk memberi kepuasan terhadap adanya kesalahpahaman dalam memaknai teks.

Berbagai pemahaman hermeneutika Schleiermacher menggambarkan betapa hermeneutika memiliki peran yang sangat penting untuk menjadi perantara dan jalan dalam memahami suatu pesan diantara pihak pemberi pesan, pihak yang menyampaikan pesan dan pihak penerima pesan.