Yang menarik adalah ketika semua pemikir bersibuk diri dengan scientific dan technology, Hans-Georg Gadamer justru hadir sebagai penafsir dengan kesadaran paling manusiawi.

Geisteswissenschaften (ulûm insâniyyah) dalam perspektif Gadamer adalah sebentuk relasi penafsiran antara bahasa, dialektika, dan sejarah. Ini sebuah upaya pemahaman terhadap facticity berdasarkan fusion of horizons melalui the historicality of understanding dan dialectics process antara teks dan konteks sekaligus.

Fusion of Horizons (Iltihâm al-Âfâq)

Ke-ada-an bahasa meniscayakan ke-ada-an yang terbahasakan. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai tanda (sign), melainkan lebih sebagai ontologi keber-ada-an itu sendiri. Melalui bahasa, upaya manusia untuk memahami apa saja menjadi niscaya.

Pemahaman dalam diri manusia adalah pemahaman bahasa (fahm lughawiy). Karena sejatinya manusia itu hidup dalam cakrawala ke-bahasa-annya. Dengan demikian, untuk bisa saling memahami antar-peradaban manusia, upaya peleburan/penyatuan/perpaduan cakrawala bahasa yang digunakan harus dilakukan.

Jika apa yang tersuarakan (orality) telah terbahasakan ke dalam bentuk tulisan (literacy), maka fusion of horizons berfungsi untuk meleburkan cakrawala pembaca dengan cakrawala penulis melalui teks (written and readable) untuk menemukan esensi makna-makna dalam teks tersebut.

Setiap pembaca, berdasarkan pengalaman pra-ilmiah yang berbeda-beda, tentu akan memperoleh esensi yang berbeda-beda meskipun dari satu teks yang sama. Pada titik ini, ragam penafsiran merupakan keniscayaan.

Perbedaan diksi kata yang digunakan oleh pengarang dalam bahasa kesehariannya (ordinary language) merupakan salah satu fungsi kerja fusion of horizons. Ia memastikan bahwa pembaca memiliki kemampuan berbahasa (al-kafâ’ah al-lughawiyyah) yang sama dengan bahasa yang digunakan oleh pengarang.

Hal tersebut bukan karena agar si pembaca hanya dapat berkomunikasi dengan pengarang melalui diksi kata, melainkan juga agar si pembaca mampu memproduksi pemahaman (intâj al-fahm) berdasarkan susunan kata (sentences).

The Historicality of Understanding (Târîkhiyyah al-Fahm)

Karena pemahaman manusia tidak berangkat dari ruang kosong atau tanpa sejarah, maka historisitas pemahaman memantik manusia untuk memikirkan beberapa hal krusial:

Pertama, prejudices (al-tahayyuzât), yakni tentang prasangka-prasangka pemahaman tentang pemikiran masa lalu; mengapa harus ada model penafsiran seperti itu. Dari sini kita akan dapat menemukan benang merah implementasi dari apa yang terjadi di masa lampau ke apa yang terjadi hari ini (injâzât ‘ashr madhâ bi maqâyîs al-yaum). 

Dengan demikian, pemahaman historitas teks akan membuka kran kesadaran bahwa suatu perkara yang terjadi di suatu masa tidak bisa dipaksakan untuk tetap diterapkan secara sama pada suatu masa yang berbeda (lâ yahkum al-mar’u ‘alâ ‘ashr târîkh mu’ayyan bi ahkâm ‘ashr âkhar).

Kedua, temporal distance (al-masâfah al-zamâniyyah), yakni tentang tensi pemahaman antara saat ini dan masa lampau. Pada titik ini, ke-antara-an (al mâ baina) merupakan ruang krusial dari pola penalaran hermeneutik. Sebab zaman memainkan peran penting dalam mengungkap makna-makna untuk dapat dientitaskan ke dunia yang baru.

Kesadaran historicality ini muncul karena penafsiran merupakan produk atau hasil karya manusia, dan oleh sebab itu ia terbatas dan terkondisikan oleh peristiwa-peristiwa kesejarahan yang melingkupinya. Secara sederhana, penafsiran adalah seni merelasikan antara pengalaman historis, dialektika bahasa, dan realitas kontekstual.

Dialectics between Text and Context (Jadaliyyah al-Nash wa al-Wâqi’)

Dialektika teks dan konteks mengindahkan proses dialogis antara teks (text/al-nash) yang dipahami oleh pembaca (reader/al-qâri’) tentang apa yang dimaksud oleh pengarang (author/al-muallif).

Pemahaman teks (fahm al-nash) bukan merupakan sebentuk upaya mengetahui niat pengarang, melainkan sebentuk upaya penafsiran maksud-maksud teks yang dibahasakan oleh pengarang. Karena mengetahui niat pengarang (niyat al-muallif) dan memahami maksud-maksudnya (maqâshid al-muallif) tentu berbeda.

Selama ini, teks cenderung hanya dipahami sebagai sebuah entitas tunggal yang luput dari kedinamisan konteks yang tidak pernah mengenal kata final (al-la mutanahiy). Karena jika salah satu di antara keduanya gagal dipahami dengan baik, maka yang terjadi bukan relasi-relevansi, tetapi justru sebaliknya, yakni paradoks-kontradiksi.

Dengan demikian, dialektika teks dan konteks mencitakan proses pemikiran yang transformatif, progresif, dan komprehensif. Jika teks diposisikan sebagai sumber pengetahuan (the source of knowledge), maka seharusnya konteks diberi porsi yang seimbang, yakni sebagai area pemahaman (the field of understanding).

Proses dialektika teks dan konteks mengajarkan kita bahwa suatu teks dapat dipahami bukan karena berdasarkan pada relasi antara pengarang dan pembaca, melainkan karena ada keterlibatan peristiwa sebagai objek sasaran teks.

Pada titik ini, proses dialektik dapat diabstraksikan dengan gambar triadic-sirculer antara teks, historical context, dan realitas kontekstual.

Ta’shil Pancasila

Potongan surat Al-Maidah ayat 1 berbunyi: Wahai orang-orang beriman, penuhilah al-‘uqûd. Tentu menjadi hal yang mustahil mengetahui niat pengarang (Tuhan) tentang apa sebenarnya yang Ia kehendaki dengan kata al-‘uqûd tersebut. Itu sebabnya tidak ada kesaragaman penafsiran terhadap teks tersebut.

Satu penafsir dan penafsir yang lain mengajukan berbagai macam penafsiran yang berbeda. Ada yang menafsirkan dengan janji-janji (al-‘uhûd), ada yang menafsirkan dengan “keteguhan menerima apa yang dihalalkan dan apa yang diharamkan oleh Tuhan”, ada pula yang menafsirkan dengan “akad-akad muammalah”, dan lain sebagainya.

Teks di atas menjadi dapat dipahami ketika yang disasar adalah maksud pengarang, yakni memenuhi apa saja yang telah di-‘uqûd-kan. Universalitas teks menjadi dapat diurai secara parsial-partikular oleh pembaca berdasarkan realitas kontekstual yang mengitarinya.

Jika pembaca adalah seorang pebisnis, maka ayat ini dapat dipahami sebagai etika bisnis agar apa yang telah di-‘uqûd-kan harus dipenuhi. Jika pembaca adalah seorang mediator, maka ayat ini dapat dipahami sebagai komitmen mediasi agar ia benar-benar menunaikan tugasnya.

Dalam konteks keindonesiaan, dengan tiga konsep hermeneutik di atas, Pancasila sebagai kesapakatan dan komitmen dasar negara, berdasarkan ayat tersebut, juga harus diterima dan dikukuhkan keberadaannya.

Domestifikasi Pancasila ke dalam maksud kata al-‘uqûd, yang tidak akan pernah kita temukan dalam literatur penafsiran klasik, menjadi sah keberadaannya karena pebedaan historical context dan realitas kontekstual telah termediasi oleh al-mâ baina atau “ke-antara-an” dalam konsep temporal distance itu sendiri.

Pada titik ini, Pancasila sebagai ‘makna baru’ untuk kata al-‘uqûd dapat dihadirkan. Proses dialektika dalam triadic-sirculer ini mampu mengentitaskan laku tafsir lingustik-kontekstual bahwa bahasa senantiasa dapat berkembang maknanya seiring berubahnya pengalaman ruang dan waktu di mana bahasa tersebut dilokalkan.

Dengan demikian, fusion of horizons teks tersebut meniscayakan ragam penafsiran karena perbedaan pengalaman pra-ilmiah pembaca.

Historisitas pemahaman memungkinkan kita untuk, pertama, melacak hasil penafsiran para penafsir klasik, sekaligus, kedua, menyadari bahwa perbedaan penafsiran terjadi karena ada jarak zaman antara pembaca dan teks serta ruang praktikalnya.

Sedangkan dialektika teks dan konteks memungkinkan kita untuk membawa teks tersebut dari yang awalnya historical context madaniyyah menuju realitas kontekstual indûnîsiyyah.