Secara etimologis, kata “hermeneutic” berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. Dari kata hermeneuin ini dapat ditarik kata benda hermeneia yang berarti “penafsiran” atau “interpretasi” dan kata hermeneutes yang berarti  interpreter (penafsir).

Dari asal kata itu berarti ada dua perbuatan: menafsirkan dan hasilnya, penafsiran (interpretasi), seperti halnya kata kerja “memukul” dan menghasilkan “pukulan”. Kata tersebut layaknya kata-kata kerja dan kata bendanya dalam semua bahasa. 

Kata Yunani hermeios mengacu pada seorang pendeta bijak, Delphic. Kata hermeios dan kata kerja yang lebih umum hermeneuein dan kata benda hermeneia diasosiasikan pada Dewa Hermes, dari sanalah kata itu berasal.

Pada mitologi Yunani kuno, kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata Hermes, yaitu seorang dewa yang bertugas menyampaikan dan menjelaskan pesan (message) dari Sang Dewa kepada manusia. Menurut versi mitos lain, Hermes adalah seorang utusan yang memiliki tugas menafsirkan kehendak dewata dengan bantuan kata-kata manusia.

Pengertian dari mitologi ini kerapkali dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci, yaitu menafsirkan kehendak tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab suci.

Dengan demikian, hermeneutik pada dasarnya adalah suatu metode atau cara untuk menafsirkan simbol yang berupa teks atau sesuatu yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari arti dan maknanya, di mana metode hermeneutik ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang.

Problem yang dihadapi adalah jika Hermes menyapaikan pesan Tuhan mengggunakan bahasa Tuhan, manusia tidak paham, jika menggunakan bahasa manusia besar kemungkinan terjadi distorsi. Maka Hermes menyampaikan dengan bahasa manusia dengan hati-hati tanpa mengalami pergheseran makna dan arti.

Metode hermeneutika menekankan kesadaran pada teks (text), konteks (context), dan kontekstualisasi. Maka semua itu juga telah menjadi  bagian dari kesadaran para mufassir klasik. Kajian terhadap teks (text) misalnya, telah menjadi instrumen dasar para mufassir dan usuli (ahli usul fikih). Aspek kontekstualisasi juga tidak lepas dari perhatiaan beberapa pengkaji al Quran periode klasik.

Kajian terhadap konsep maslahah atau maqasid al-syari’ah bisa dimasukkan dalam ranah ini. Maqasid al-syari’ah dimaksudkan sebagai hasil penafsiran atau produk ijtihad benar-benar  mampu membawa kebaikan bagi umat. Kitab-kitab ushul fikih karya Sarjana Muslim klasik telah memberikan porsi yang cukup signifikan mengenai hal tersebut.

Martin Heidegger (1889-1976) menempatkan hermeneutika dalam kerangka ontology. Menurut Heidegger, hakikat eksistensi manusia adalah memahami, yang membedakannya dengan yang lain. 

Perkembangan hermeneutika ini sejak Schleiermacher sampai Paul Ricoeur, dapat dikatakan sebagai perkembangan hermeneutika modern, yang selanjutnya menjadi tradisi hermeneutika Barat.

Paul Ricoeur mengembangkan hermeneutika sebagai metodologi untuk meneliti peristiwa manusia atau tindakan manusia. Dalam esai Ricoeur, ia menjelaskan asumsi metodologinya bahwa tindakan yang bermakna dari perilaku manusia dianggap sebagai teks yang setara dengan teks-teks tertulis.

Dalam perkembangannya, hermeneutika bukan bertujuan untuk merekonstruksi pikiran kreatif penulis teks, tapi sebaliknya mengembangkan konstruksi atau produksi pemahaman makna dari teks sesuai dengan konteks pembacanya. Di antara tokoh filsafat Barat yang mengembangkan hermeneutika konstruktif adalah H.G. Gadamer dan Paul Ricoeur. 

Proses pemahaman terhadap teks berdasarkan konteks pembacanya, sehingga menjadi hermeneutika yang bersifat memproduksi atau mengkonstruksi pemahaman baru sesuai dengan situasi pembaca teks saat itu baik secara tempat maupun waktu.

Alquran yang bersifat historis menyebabkan munculnya gagasan dan teori hermeneutika (metode penafsiran). Teori ini menjadi kerja-usaha yang sangat mendesak untuk dikembangkan dalam memahami makna al Quran secara utuh. Harapannya, bagian-bagian teologis dan etika legalnya dapat ditempatkan dalam keseluruhan (totalitas) yang padu. 

Melalui metode ini, sebuah weltanschauung (pandangan dunia) Alquran dapat dirumuskan dan dipahami. Bila manusia mau berpikir secara optimal dan mau memanfaatkan akalrasionalnya, ia akan menyadari bahwa sesungguhnya berkah Alquran yang teramat besar adalah pemikiran dan pemahaman maksud-maksud serta makna yang terkandung di dalamnya untuk kemudian mewujudkan gagasannya dalam perbuatan yang bersifat keagamaan dan keduaniaan.

Sahiron Syamsuddin, memetakan aliran hermeneutika al Quran menjadi tiga kelompok: Pertama, pandangan quasi-obyektivis tradisionalis, yakni suatu pandangan bahwa al Quran harus dipahami, ditafsirkan serta diaplikasikan pada masa kini, sebagaimana ia juga telah dipahami, ditafsirkan dan diaplikasikan pada situasi di mana al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan disampaikan kepada para sahabatnya.

Seluruh yang tertera secara literal dalam Alquran, menurut aliran ini, harus diaplikasikan juga di masa kini dan bahkan di masa yang akan datang. Kedua, quasi-obeyektivis modernis, aliran ini juga memandang penting terhadap original meaning (makna asal), namun bagi kelompok ini, makna asal tersebut hanya sebagai pijakan awal untuk melakukan pembacaan terhadap Alquran di masa kini. Makna asal literal tidak lagi dipandang sebagai pesan utama Alquran. 

Karena itu, perangkat-perangkat metodis lain, seperti informasi tentang konteks sejarah makro dunia Arab saat penurunan wahyu, teori-teori ilmu bahasa dan sastra modern dan hermeneutika dibutuhkan dalam penafsiran ayat-ayat al Quran, sehingga makna di balik pesan tekstual, menurut kelompok ini, harus berusaha di ungkap. 

Ketiga, aliran subyektivis, yaitu aliran yang meyakini langkah penafsiran sepenuhnya merupakan subyektivitas penafsir. Karena itu, setiap generasi berhak menafsirkan Alquran sesuai dengan perkembangan dan pengetahuan. 

Salah satu tokoh yang akan penulis soroti adalah pemikiran Fazlur Rahman. Beliau adalah seorang pemikir dan tokoh intelektual Islam kontemporer terkemuka. Kepiawaiannya tercermin dalam gagasan –gagasan yang diapresiasikan dalam sejumlah buku dan artikel, mulai dari persoalan filsafat, teologi, mistik, hukum sampai persoalan perkembangan kontemporer, yang tidak syak lagi, membutuhkan penafsiran baru terhadap kandungan Alquran.

Tantangan kehidupan modern dan kontemporer mengharuskan Fazlur Rahman untuk berpikir keras dalam menemukan preskripsi demi mengatasi masalahmasalah kehidupan yang muncul, menyadarkannya untuk mengkaji ulang beberapa pandangan yang baku di kalangan umat Islam, tetapi tidak akomodatif bahkan “sulit” diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.

Fazlur Rahman memandang perlu diupayakan reinterpretasi Alquran. Dalam hal ini, beliau menawarkan metode tafsir kontemporer yang berbeda dengan metode-metode tafsir era sebelumnya. Metode tafsir yang memiliki nuansa “unik” dan menarik untuk dikaji secara intensif, yaitu metode yang popular dengan nama “Double Movement” atau gerakan ganda.