Ada alasan kenapa kemudian saya mengangkat hal ini dalam tulisan saya kali ini. Beredar luas di youtube video dua stand-up comedian yang cukup ternama di Indonesia, dua orang public figure, yaitu Ge Pamungkas dan Joshua Suherman.

Yang satu (Ge Pamungkas) adalah seorang muslim, sedangkan satunya (Joshua Suherman) adalah seorang non-muslim. Belakangan jagat dunia maya (nasional) dan entertainment dihebohkan oleh mereka berdua yang 'diduga' telah melecehkan islam dalam membawakan jokes atau candaan (lelucon) ketika perform-nya.

Di Indonesia sendiri memang belakangan, dalam beberapa tahun terakhir tengah sensitif terhadap isu-isu etnis, kesukuan, apalagi yang menginggung agama. Entah apakah penyebabnya dikarenakan umat (islam) memang sudah muak, ataukah memang ada faktor lain yang sengaja dimobilisasi.

Tentunya saya tidak ingin membahas hal tersebut terlalu jauh, pada intinya adalah isu-isu keagamaan belakangan menjadi sangat hangat bahkan cenderung panas dan sensitif bila didengung-dengungkan.

Saya akan membicarakan isu ‘pelecehan agama’ terakhir yang terdeteksi dan viral, yang ‘diduga’ dilakukan oleh dua orang public figure (Ge Pamungkas dan Joshua Suherman) di atas dalam kacamata atau perspektif saya sebagai seorang muslim, dan yang perlu saya tekankan adalah bahwa ini merupakan pandangan personal saya terhadap problematika tersebut.

Pertama, saya akan mencoba mengutip jokes dari Ge Pamungkas sebagai berikut:

"Dulu nih, Jakarta banjir. Apa coba itu, weh, netizen itu, ini gara-gara (Ahok). Giliran banjir yang terjadi saat ini, ini adalah cobaan dari Allah SWT. Sesungguhnya Allah memberikan cobaan terhadap hamba yang dicintai-Nya. Cintai apaan?" ujar Ge Pamungkas.

Ketika coba menganalisa, dalam pandangan saya di satu sisi mungkin jokes Ge – sapaan Ge Pamungkas – bisa jadi merupakan sisi ekspresifnya yang mungkin merasa gelisah terhadap kondisi dan carut-marut kondisi Indonesia, terutama DKI Jakarta (khususnya masalah perpolitikan).

Dalam perspektif saya, wajar bila kemudian seseorang sebagai warga negara merasa resah akan kondisi negerinya yang tidak stabil dan carut-marut politik, ketimpangan sosial, dan berbagai problema lainnya.

Namun, di sisi lain jokes semacam itu pula harus dihindari. Selain karena kondisi masyarakat yang sensitif dan jokes semacam itu dapat semakin memperburuk situasi karena semakin memecah belah masyarakat.

Sebagai seorang public figure, apalagi seorang muslim yang berakal sehat, harusnya Ge mampu memilah dan memilih materi-materi jokes-nya sehingga tidak semakin memanaskan dan merunyamkan masalah.

Tentu pula sebagai public figure yang tengah naik daun belakangan, Ge harusnya mampu menjadi teladan bagi masyarakat secara umum, akan tidak membuat hal-hal yang merupakan keyakinan (agama) seseorang, apapun itu sebagai bentuk legitimasi atas lelucon-leluconnya. Ia harusnya bisa berpikir lebih jauh, termasuk harus mempertanggungjawabkan segala hal yang keluar dari mulutnya ataupun segala hal yang tercermin dalam sikapnya.

Pada substansinya, saya memandang, Ge sebagai individu berhak untuk menentukan sikapnya akan kegelisahannya terhadap carut-marutnya kondisi bangsa dan negara, tetapi ia tetap harus memperhatikan batasan-batasannya, koridor-koridor yang harus ia masuki dan yang pantang untuk dimasukinya. Apalagi sebagai seorang public figure tentu ia akan selalu disorot oleh media, semoga menjadi pembelajaran bagimu Ge Pamungkas.

Nah, selanjutnya terkait jokes dari Joshua Suherman yang ‘diduga’ melecehkan islam saya kutip sebagai berikut:

"Semuanya Anisa, Anisa, Anisa ya kan? Padahal skill-nya tipis-tipis, nyanyi tipis, nge-dance tipis, cantik relatif, ya kan? Gue mikir kenapa Anisa selalu unggul dari pada Cherly, ah sekarang gue ketemu jawabannya. Makanya Che, Islam. Karena di Indonesia ini ada satu hal yang dengan hal sebesar apapun, mayoritas," tutur Joshua Suherman.

Terkait masalah Joshua, saya menilai bahwa Joshua juga mengalami kegelisahan yang sama dengan Ge tentang polemik di Indonesia. Apalagi Joshua sebagai seorang non-muslim (yang – maaf – merupakan minoritas).

Hal itu terlihat dari jokes-nya yang mengkomparasikan antara Cherly (leader girlband cherrybelle, non-muslim) dengan Anisa (member girlband cherrybelle, muslim). Kata-kata Joshua seolah menyiratkan bahwa muslim yang mayoritas di Indonesia (menurut data mencapai sekitar 85%, bahkan jumlah muslim terbesar di dunia ada di Indonesia) selalu harus lebih diunggulkan daripada mereka yang minoritas.

Padahal, menurut saya, hal tersebut tidaklah benar. Nilai-nilai toleransi di Indonesia sudah sangat luhur dan bagus.

Sejak masa pra-kemerdekaan, hingga pasca-kemerdekaan, hingga era-reformasi ini, nilai toleransi, nilai kebhinekaan di Indonesia masih sangat tinggi. Sehingga statement Joshua (yang sebagai non-muslim) mungkin hanya sebatas karena merasa inferior, ditambah lagi akan berbagai polemik yang tengah melanda. Maka, ia melontarkan bentuk kegelisahannya dalam jokes yang ‘diduga’ melecehkan islam tersebut.

Namun, tetap saja hal tersebut tidak dapat dibenarkan karena Joshua mungkin kurang melakukan pengkajian dan analisis terhadap data-data dan sumber-sumber informasi yang ia jadikan materi (bahan) jokes sehingga apa yang menjadi kegelisahannya justru dianggap melecehkan.

Di sisi lain tentu saya juga berpendapat layaknya sebelumnya. Bahwa sebagai public figure, apalagi dari kalangan yang berseberangan, harusnya Joshua lebih berhati-hati dan memahami ‘bilik-bilik’ yang bisa ia eksplorasi maupun ‘bilik-bilik’ yang tidak bisa ia jelajahi.

Jadi, pada intinya menurut pendapat saya adalah bahwa di satu sisi jika kita melihat kegelisahan mereka dan coba merangkulnya, berdiskusi dengan mereka, maka statement itu bukanlah sebuah pelecehan, tetapi ekspresi kegelisahan, kekecewaan terhadap polemik yang terjadi.

Namun, tetap saja di sisi lain, hal-hal seperti itu kurang dapat dibenarkan karena mereka membuka ruang untuk 'merendahkan' agama dan keyakinan yang dianut seseorang, apapun agamanya.