Siang itu mentari di kota rantau tidak seperti biasanya (teriknya panas suam-suam kuku). Kaki mengayun dengan setumpuk berkas-berkas penting tergenggam lengan kanan tepat sejajar pinggang. Mencoba menghela napas sejenak “terpikir keluarga jauh di sana” sembari melanjutkan langkah dengan perlahan.

Saya lahir dan dibesarkan di Pulau yang disuguhkan dengan keindahan panorama lautnya (Sulawesi). Selepas kepergian 4 tahun yang lalu dari salah satu kota tempat saya dilahirkan, hingga saat ini belum pernah mengunjungi lagi keluarga besar disana.

Sudah sekian waktu siang yang terlewati di kota rantau ini. Tepat sehari setelah kejadian bencana gempa dan tsunami di Donggala (Sabtu 29/9/2018). Kesibukan yang menyita waktu tak lagi membaca berita terkini. 

Sabtu siang itu berjumpa salah satu dosen di kampus berdiskusi masalah hasil riset. Beliau memulai dengan pertanyaan, “Bagaimana keluargamu di Sulawesi?” Baik-baik semua, jawab saya. “Tidak kena gempa atau tsunami?” Perasaan kaget dan bingung. "Saya belum mendengar informasi itu, Pak," jawab saya terbata-bata.

Selepas pertemuan itu, saya bergegas menghubungi keluarga di Sulawesi. Alhasil keluarga di sana aman-aman saja, karena memang masih jauh dari kejadian. 

Rasa untuk berkunjung melihat kondisi secara langsung mulai menggerogoti pikiran. Bagaimana tidak, 4 tahun berlalu tidak berjumpa, kini bencana alam telah menggulung dan menenggelamkan banyak korban.

Seminggu setelah kejadian, seorang kakak yang telah lama saya kenal menghubungi dan memberitahukan bahwa jasad saudaranya tidak ditemukan lagi selepas kejadian tsunami. Beliau bercerita betapa terpukulnya keluarga yang ditinggalkan. 

Lama tidak berjumpa, setelah mendengar kabar dia telah tiada entah dibawa ke mana oleh bencana. Bencana ini menumbuhkan kembali rasa rindu kepada keluarga, tentunya bukan hanya tertuju diri sendiri, mungkin saja para pembaca. Kerinduan mulai terusik kembali yang lama tertidur.

Keesokan harinya setelah perjumpaan dengan Bapak dosen (Minggu 30/9/2018), tiba-tiba saja handphone berdering dan bergetar mengagetkan, “ding ding ding tring tring tring.” Ternyata adik laki-laki menelepon untuk mengabarkan keluarga di Sulawesi. Beberapa jawabannya sedikit melegakan perasaan dan tak sedikit juga rasa dukacita melanda. “Tapi, kak, ada keluarga yang bekerja di sana belum bisa dihubungi.” itulah jawab yang membuat dukacita.

Perasaan dukacita memang anugerah terbesar Tuhan berikan kepada kita untuk selalu memberi diri mengucap syukur atas apa yang masih bisa kita rasakan. Benarlah bencana akan menarik ulur perasaan kita. Kesibukan dan keseriusan membutakan melihat waktu, keluarga yang ditinggalkan jauh di sana sangat jarang bahkan tidak lagi dihubungi.

Di sisi lainnya, bencana membuat kotak renungan dalam pikiran ‘bagaimana cara kita menolong mereka’ sadar atau tidak, kita masih tetap saja kompromi akan hal tolong-menolong.

Penentang vs Pengingat Kerja Kemanusiaan

Siapa yang dapat memprediksi waktu tepat kedatangan gempa? Perkiraan sudah pasti ada, tapi ketepatannya tidaklah terprediksi. Apakah gempa datang dengan perkenalan terlebih dahulu, atau mengucap salam sebelum meretakkan dan menenggelamkan tanah, rumah, sepeda motor, mobil, bahkan manusia yang masih berlarian. Langkah kaki berpacu tidaklah cukup untuk lari dari getaran. Teriakan hanyalah bisikan bagi gemuruh yang dikeluarkan ‘gempa’.

Gerilya rasa dukacita melayang-layang di atas penderitaan manusia penyambut bencana. Sebagai pengundang kerja-kerja kemanusiaan. “Mari salurkan bantuan Anda untuk menolong saudara-saudara kita yang terkena bencana.” Ajakan dan imbauan bertebaran di dahan-dahan pohon rindang kota dan juga dinding-dinding bisu pinggiran toko, rumah sakit, dan kantor-kantor.

Antusias para penggiat kerja kemanusiaan mulai bermunculan di antara mondar-mondir manusia yang masih saja mencari sanak saudara. Ada sekelompok sukarelawan berjalan sambil menggenggam kantung berisi makanan dan obat-obatan dengan goal dapat memberikan bantuan langsung pada orang-orang yang tertidur dengan rasa sedih di bawah tenda-tenda pengungsi.

Kala itu miliaran hati belas kasihan tergerak tanpa terhitung lagi. Visualisasi jumlah digit angka rupiah dalam kalkulator tidak lagi cukup. Apa pun profesinya, semua yang memiliki hati belas kasihan dengan langkah ringan memberi bantuan. Jika ini ada korelasinya dengan rambu-rambu kultur, rasanya tidak. Setiap jiwa telah memantaskan diri ikut serta dalam hal kerja kemanusiaan.

Kontradiktifnya dengan tanpa adanya bencana, hambar adanya jiwa yang memantaskan diri dalam kerja kemanusiaan. Sang penentang kerja kemanusiaan pun telah terhitung di tengah-tengah populasi.

Kejadian ini terlihat di beberapa sudut-sudut negeri tanpa berselimut malu. Hanya berpakaian kepentingan pribadi saja. Penikmat pemikir primitif bermuara pada urusan-urusan yang hanya mendongkrak prestise diri sendiri. Hingga mengarah perbandingan prinsip dan nilai-nilai komunitas. Di mana nalar sebenarnya? Apakah Tuhan menciptakan manusia dengan sebuah prinsip-prinsip tertentu dan pada akhirnya hanya mereka yang tercipta?

Penulis berani berpendapat penyebab utamanya ada tiga faktor: pertama, psikologi individu dalam kelompok; kedua, dismilaritas argumentasi yang berujung komparasi; dan ketiga, vakumnya korespondensi antara kelompok.

Pertama, individu dalam sebuah kelompok heterogen dan tak pernah berlaku homogen. Kecenderungan individu selalu menyodorkan emosional dari dalam diri. Tanpa memandang siapa lawan bicara. Tatap wajah menggerogoti nasihat-nasihat sejawatnya. Lisannya membendung jeritan-jeritan kata yang masih tersimpan rapi dalam nalar.

Kedua, individu tertentu sensitif terhadap kehadiran kelompok lain dan dianggap sebagai parasit. Kesempatan berkembang dirasakan terganggu, maka individu ini mengambil alih suasana dalam rapat. Karena aroma-aroma persaingan dari kelompok lain mulai terendus. 

Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah sikap apatis individu yang sebelumnya kurang berinteraksi dengan banyak karakter orang. Secara instan rekrutmen anggota dilakukan tanpa diskusi awal yang mendalam sebelum bergabung dalam kegerakan kelompok.

Individu ini perlu dilatih terlebih dahulu untuk memenuhi visi dan target kelompok tanpa menyudutkan kelompok lain. Jensen-Campbell et al (2007) berpendapat bahwa pengaruh kepribadian pada fungsi sosial harus dipahami dalam konteks yang lebih luas timbal balik interaksi antara kepribadian dan hubungan sosialnya. Rekam jejak interaksi individu perlu di telusuri terlebih dahulu fingerprint (ciri khas) adalah bukti konkret selama ia melakukan kerja.

Ketigakomunikasi yang tertidur diantara kelompok kerja kemanusiaan akan menampilkan aksi yang tidak saling menyokong. Style interaktif tidak berwarna hanya membentuk sikap penantian, saling menunggu siapa yang memulai. 

Gempa: analogi simetrisme bagi penentang tolak kerja kemanusiaan

Menolak diri untuk tidak bergabung dalam kerja kemanusiaan dapat terjadi dalam internal organisasi/kelompok kerja kemanusiaan. Organisasi kemanusiaan pada dasarnya adalah beton pelapis pemerintah untuk membantu para korban. Bukan menciptakan bentrok saling mempertahankan pandangan. Menabung sifat ketidakikhlasan dan tidak terbuka antara anggota kelompok satu dari sekian banyak bentuk tolak kerja kemanusiaan.

Individu berpikir menopoli dan mengikat erat pendapatnya. Dalam kondisi normal, gelombang pemikiran ini akan tetap larut. Ketika kondisi divergen ‘bencana alam’, mulailah tergerak hatinya untuk membuka segel pikiran itu.

Di kehidupan nyata ini terjadi, suatu hari perjalanan saya bertujuan ke tempat pariwisata tempat domisili saat ini ‘Sumatera Utara’. Hari itu berkesempatan berkunjung di salah satu tempat masyarakat lokal yang masih berikat pinggang budaya leluhur. Kota ini memang terkenal dengan organisasi sosial yang beraneka namanya.

Tiba waktu itu berbincang dengan salah seorang Ibu berpakaian adat, kain motif batik menggulung kepala. Kebetulan beliau menjaga dan membersihkan juga tempat pariwisata. Berpikir bahwa hiruk pikuk aktivitas organisasi sosial tidak sampai di masyarakat lokal. Pembicaraan ringan kami ditengahi diperantarai kalimat “di sana masih sering bentrok ya nak ku!” ucap Ibu. “Saya tidak begitu tahu Inang (Inang panggilan Ibu tradisi Batak)," sanggahku dengan terheran-heran setelah meneguk air mineral kemasan.

Kesehariannya hanya di lokasi pariwisata bisa mendapatkan informasi tentang adanya bentrokan di kota. Sungguh cepatnya aliran informasi destruktif, hingga menghampiri masyarakat lokal yang jauh dari keberadaan mereka. Bukan hanya jauh dari kelompok kerja kemanusiaan, tapi tidak pernah tersentuh oleh kegerakan mereka. Haruskah gempa berjamaah? Mereka berlarian menjenguk situasi golongan masyarakat ini.

Tentunya gempa hanyalah bencana yang bisa saja lampu merah bagi pekerja kemanusiaan. Eksistensi ‘gempa’ tidaklah 24 jam. Energi bumi ini datang tiba-tiba tanpa ada undangan. Haruskah pekerja kemanusiaan perlu mendapat undangan? Tentu hal ini perlu disikapi lebih serius.

Memangkas kesalahpahaman individu dalam kelompok kemanusiaan hanya karena perbedaan pendapat berujung pengkotakan prinsip tidaklah kilat secepat pengiriman kilat. Antisipasi dalam sebuah aksi membangun organisasi perlu disediakan ‘Jamu’.

J: Jelajah rekam jejak individu

A: Ajari sebelum berdiri mandiri

M: Memberi bimbingan psikologi

U: Utamakan komunikasi dan evaluasi

Jelajah profil diri anggota organisasi urgensi adanya. Kehidupan dia sebelum ingin bergabung, bersama keluarga, lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja. Rambu-rambu ini menjadi standar penting bagi keberlangsungan organisasi mendatang. Pemupukan kemandirian adalah tahap pasca praktek di lapangan. Bagaimana ia meramu solusi dan memecahkan dengan serempak melalui refleksi bersama.

Bimbingan psikologi individu sangat dibutuhkan. Kokohnya organisasi tanpa sentimental nantinya yang mengarah perpecahan kelompok. Seorang leader adalah dia yang bukan saja motor pergerakan organisasi, tapi juga mampu bereinkarnasi sebagai rem. Mengontrol anggotanya memanfaatkan komunikasi dari hasil evaluasinya. Kadangkala anggota juga berkeinginan untuk dilepas saja tanpa ada kontrol.

Setiap keadaan dan rencana di zaman ini dapat direvolusi, mengapa organisasi kerja kemanusiaan tidak terevolusi. Kehidupan dalam organisasi ibarat rumah tangga, leader sebagai kepala rumah tangga patutnya memberikan ‘Jamu’ sebelum mereka berkembang.

Haruskah menunggu datangnya gempa?

Referensi

Jensen-Campbell, L.A., Knack, J. M. and Rex-Lear, M. 2009. Personality and social relations. The Cambridge handbook of personality, Publisher: Cambridge University Press, pp.506-523