"Hey, bolehkah aku mengenalmu?"

Aku tak bisa membayangkan jika setiap gadis yang kutemui dan ingin kukenal aku sampaikan pertanyaan demikian. Aku pikir tak seorang pun dari mereka akan mau berteman denganku, menjadi pacarku, apalagi istriku. 

Aku pernah trauma soal itu. Dulu, sewaktu SMA, aku ingin sekali memiliki teman seorang gadis. Tetapi begitu ucapan itu terlontar keluar dari mulutku, gadis itu justru ketakutan dan menjauh, kayak aku ini seorang penjahat atau sosok hantu yang menyeramkan. 

Setelah cukup dewasa dan aku tahu cara menangkap ikan, aku sadar kalau pertanyaan itu adalah kekeliruan besar untuk mulai berkenalan dengan seorang gadis. Mungkin saja aku masih keliru menangkap rahasia hati dan perasaan seorang gadis, tetapi setidaknya aku telah berhasil menguasai rahasia diriku sendiri, dan sejauh ini menurutku itulah hal paling penting di dunia ini.

"Yeah, aku menemukan idenya!" teriakku melonjak kegirangan bagaikan aku mendapatkan harta karunku sendiri yang selama bertahun-tahun tersembunyi, tetapi baru kali inilah aku terkejut melihat isinya hingga aku pun mendadak menjadi kaya.

Saking gembiranya, buru-buru aku menelepon temanku, secepatnya ingin segera memberitahukannya. Di seberang, aku tahu dia sedang bermalas-malasan, duduk di kursi kamarnya, asyik membaca buku ditemani secangkir kopi, dan terkadang matanya beralih menatap ke luar jendela kalau-kalau seorang gadis lewat di depan rumahnya. Sebab, baginya, itu adalah pemandangan indah kesukaannya.

"Hei," sapa temanku lewat telepon, "Ada kabar apa nih?"

"Kau sibuk?" tanyaku, tidak mau langsung ke inti persoalannya.

"Tidak. Ada apa? Jenuh juga hari ini, seharian belum keluar rumah."

"Ouw, dasar payah! Mau jadi apa kau kalau cuma baca buku terus?"

"Habis aku bingung mau apa. Ada prospek cewek?"

"Tentu saja. Oh, ayolah keluar. Aku tunggu di rumahku ya."

Temanku datang dan aku langsung mengajaknya pergi ke alun-alun kota. Ada sebuah pohon beringin besar yang tumbuh tepat di pusat alun-alun. Pohon beringin yang konon katanya tidak boleh ditebang siapa pun. Pohon tua dengan diameter batangnya yang ajaib, sebab tak pernah cukup dipeluk berapa pun jumlah lengan orang dewasa.

Aku tak pernah mencoba memeluknya. Tak pernah juga kuhitung dengan alat ukur panjang berapa meter persisnya. Tak seorang pun pernah mengukurnya, sebab begitu seseorang berniat menghitung panjang diameternya, alat ukur panjang yang digunakan tiba-tiba menghilang ataupun terpental jauh dari pohon itu. 

Pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri ketika ada tujuh orang bersiap-siap memeluk batangnya bersamaan, tubuh mereka terlontar dan jatuh sejauh kira-kira dua meter di atas rumput hijau alun-alun. Sontak mereka pun merasakan terjadinya keanehan, seakan-akan pohon itu dihuni makhluk halus yang tidak menghendaki pohon itu diukur.

Alhasil, pohon beringin di pusat alun-alun kotaku pun terkenal. Orang-orang percaya ada semacam kegaiban yang dipancarkan dari pohon itu. Sejak saat itu, tak seorang pun berani lagi mengusiknya.

Aku sendiri sering kali ketika sedang merasa jenuh dan butuh udara segar, aku datang ke alun-alun kota dan duduk di bawah pohon itu. Tak ada sedikit pun rasa takut dalam diriku. Selama aku hidup dan bernapas, aku merasa tidak takut apa pun, termasuk pohon itu. Aku memiliki iman kepada Tuhan dan aku sepenuhnya yakin bahwa aku pun baik-baik saja. Jadi, begitulah aku sering duduk di bawahnya.

Semilir angin terasa menyejukkan. Suara burung-burung yang suka bertengger di pohon itu menambah daya keindahan suasana. Serupa musik alam di tengah alun-alun kotaku yang semakin hari semakin ditumbuhi gedung-gedung tinggi hampir di sekujur area kota hingga hanya di beberapa area saja pemandangan eksotis senja masih dapat terlihat dengan jelas. Dan salah satu area itu adalah alun-alun kota.

Tiga hari yang lalu aku berkenalan dengan seorang gadis bernama Mahlefa di alun-alun kota. Setelah sekitar satu jam duduk di bawah pohon beringin itu, aku didatangi seorang kakek, entah siapa. Kami bercakap-cakap hingga senja menyelinap ke peraduannya. 

Kakek itu menceritakan sesuatu yang sangat menarik perhatianku. Ucapannya menyihirku untuk selalu menyimak sembari menatap raut wajahnya yang telah keriput dimakan usia. Bicaranya lancar dengan logat khas Jawa kental. Bahasa yang dia gunakan sangat mudah dipahami oleh orang seusiaku hingga aku pun mengerti semua yang dia katakan.

Mula-mula si kakek berbicara tentang kegemaran berutang.

"Aneh dan gila, Nak," katanya tersenyum, lalu dia menepuk bahuku, "kalau kita hidup, tapi gemar berhutang. Hutangnya banyak, ada yang kasih investasi kok bangga."

Dia tertawa terbahak-bahak.

"Ditambah ingin sekali, bahkan sampai meminta-minta agar orang asing berinvestasi. Apa tidak gila itu namanya? Apa tidak bodoh itu?"

Sekali lagi, kali ini dia menepuk-nepuk pahaku.

"Padahal kita sebenarnya kaya-raya lho. Bodoh dan gila kalau tahu kita kaya, tapi masih meminta orang menghutangi kita. Benar tidak, Nak?"

Aku mengangguk saja.

"Maksud Kakek apa? Siapa yang berutang?" tanyaku, sekadarnya.

"Kakek tidak mau menyebut siapa atau apa, Nak," katanya. "Tidak percaya kalau kita ini kaya-raya? Itu karena tidak bisa melihat, alias buta. Orang buta ya mau gimana lagi. Cuma, kenapa tidak tanya ke orang tua, para leluhur? Itulah yang jadi persoalannya, Nak."

"Jadi, maksud Kakek..."

Namun, kata-kataku selanjutnya batal terucap dari mulutku. Entah mengapa, aku tak bisa meneruskannya, seakan-akan kata-kata yang hendak kulontarkan tiba-tiba membeku di tenggorokanku. Kakek itu menatap dalam-dalam kedua mataku. Cahaya cerah dan senyuman memancar dari wajahnya.

Kali ini dengan lirih dan bangga, sembari kemudian tiba-tiba memelukku, dia berkata, "Kau masih muda, Nak. Belajarlah pada orang tua dan leluhur. Tuhan pun memberkatimu."

Setelah berpesan seperti itu, si kakek melepaskan pelukannya. Tanpa pamit, dia berjalan pergi meninggalkanku. Aku merenung sejenak. Senja pun telah lenyap digantikan gelapnya petang. Dihinggapi rasa lapar, aku melangkah menuju warung kaki lima tak jauh dariku. Aku memesan nasi goreng telur dadar. Minumannya berupa teh manis.

Seorang gadis berjalan mendekati mejaku. Dia sendirian saja.

"Boleh ya, aku duduk di sini," kata gadis itu. Aku mengangguk. Dia tersenyum. Manis sekali. "Aku sejak tadi memperhatikanmu lho."

"Benarkah?" tanyaku terkejut, tidak tahu kalau aku diperhatikan. "Di mana? Sejak kapan?"

Aku benar-benar tidak pernah mengira kalau ternyata ada sesuatu dalam diriku maupun tingkahku yang menjadi sorotan orang lain. Dalam hati, agak geli juga rasanya. Atau senang? Entahlah.

"Adakah sesuatu yang menarik dalam diriku?"

"Ah, kau ini, Mas," balasnya tersenyum. "Sekali ngomong, sekaligus banyak pertanyaan yang kau lontarkan. Eh, siapa namamu?"

Nah, kami pun saling bertukar nama dan nomor telepon. Kemudian ada banyak hal yang kami bicarakan selama lebih dari dua jam. Satu jam di warung itu sembari menikmati makan malam. Sisanya di tepi alun-alun menghadap ke arah barat pada bangunan masjid kauman.

Kini aku dan temanku tengah duduk di bawah pohon beringin itu. Aku pun mulai bercerita bagaimana tiga hari yang lalu aku bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis manis bernama Mahlefa. Aku tidak menceritakan pengalamanku bercakap-cakap dengan si kakek.

"Wah," ujar temanku menanggapi, "beruntung sekali kau, kawan." Aku tersenyum saja. "Senangnya ya. Kalian sudah berpacaran?"

Aku menggeleng. "Belum. Tapi, dia mengajakku ke rumahnya."

"Benarkah? Kapan itu? Aku boleh ikut ya."

"Hussh. Dia bilang aku harus datang sendirian."

"Oke, oke. Selamat ya. Jadi kapan kau akan ke rumahnya?"

"Besok sore."

"Ya, Tuhaaan... senangnya ya," ujarnya dengan gaya ucapan yang menurutku agak lebay. "Boleh dong aku dikasih tahu rahasianya."

"Rahasia apa?"

Temanku menjawab dengan cara menunjukkan mata genitnya. Ada beberapa gadis yang saat itu kebetulan lewat di depan kami. Tanpa ragu, temanku pun bersuit-suit, membuat gadis-gadis itu melangkah lebih cepat. Aku hanya bisa tersenyum, lantas kupandangi langit di atasku. Awan-awan terbias semburat senja keemasan yang indah.

Ketika hari esok tiba dan aku datang ke rumah Mahlefa, aku terkejut ketika begitu pintu rumahnya dibuka, di depanku si kakek berdiri. Dia tersenyum. Aku terpana. Dadaku bergetar. Dan angin membatu.

"Selamat datang, Nak," sapanya padaku. "Anggap saja kau pulang ke rumahmu sendiri. Nanti kakek tunjukkan harta karun yang selama bertahun-tahun ini terpendam dan masih disembunyikan."

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Beberapa meter di depanku tampak Mahlefa sedang berjalan menghampiri kami sembari matanya berbinar senang melihatku berkunjung ke rumahnya.