Seketika itu, saat saya membuka aplikasi whatsapp di gawai pribadi saya, dengan sekejap dipenuhi oleh foto ibu-ibu yang muncul di hampir seluruh status whatsapp teman-teman saya.  Saya kira, mereka itu partisan pendukung Capres dan Cawapres nomor urut dua, Prabowo-Sandi, yang peduli nasib para ibu atas keluhan mereka mengenai tempe setipis ATM. 

Namun setelah melihat beberapa status whatsapp lainya, munculah gambar pamflet di salah satu unggahan status whatsapp tersebut bertuliskan “ Selamat Hari Ibu “ dengan latar belakang gambar seorang ibu entah siapa. Tidak hanya di status whatsappdi status instagram juga saya dapati hal serupa. Begitu juga di beberapa lini massa akun Instagram dan facebook yang tak mau kalah berlomba-lomba mengunggah pamflet-pamflet tentang Hari Ibu. 

Saya baru teringat bahwa hari itu bertepatan tanggal 22 Desember 2018 yang ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Pemerintah pada era kepemimpinan Presiden Soekarno 65 tahun silam. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu merujuk pada penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dihelat di Yogyakarta tanggal 22 Desember 1928. (Tirto.id, 22/12/2018)

Kembali ke topik pembahasan tentang unggah-mengunggah foto. Tentunya perilaku semacam ini secara eksplisit tidak dilarang oleh agama manapun dan tidak pula dilarang oleh Konstitusi Indonesia. Bahkan hal semacam ini, secara tidak langsung, dapat bermanfaat bagi yang lain. Yaitu untuk mengingatkan kepada khalayak, termasuk saya, yang mungkin lupa bahwasanya hari itu ialah Hari Ibu yang wajib diperingati. 

Tradisi unggah-mengunggah foto di media sosial sudah menjadi tradisi yang lumrah dilakukan di zaman millenial. Tak hanya soal memperingati hari-hari penting seperti Hari Ibu ini, namun juga sebagai ajang aktualisasi diri kaum millenial yang menitik beratkan pada sisi eksistensi. Apa yang mereka unggah pada lini massa berbagai akun media sosial akan menggambarkan karakteristik, kepribadian, bahkan suasana jiwa dan hati mereka. Namun, sekali lagi, hal tersebut hanyalah bersifat eksistensi belaka. (Agnes Winesteti: 2018)

Jika kita sudah cukup puas dengan usaha-usaha yang bersifat eksistensial maka yang esensial akan terlupakan. Termasuk dalam memperingati hari ibu dengan mengunggah fotonya di status ataupun lini massa akun media sosial. Secara eksistensial dapat, namun secara esensial, nol besar. Lantas bagaimana cara memperingati hari ibu secara essensial?

Dahulu kala, pada tahun 1963, Presiden Soekarno pernah memberikan pidato dalam rangka  memperingati salah satu Hari besar selain Hari Ibu, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW. Dengan menggebu-gebu dan berapi-api saat berpidato, Presiden Soekarno mengingatkan bagaimana hakikat merayakan maulid Nabi. Menurut Presiden Soekarno, hakikat merayakan Maulid Nabi tidak hanya sekadar memperingati kelahiran Nabi Muhammad saja. Tetapi diperingati dengan cara meneladani ajaran, konsepsi, dan agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. (Tribunjogja.com)

Poin penting yang dapat dikutip dari ungkapan Presiden Soekarno ialah bagaimana kita bisa meneladani hal-hal positif dari sesuatu yang kita peringati, dalam kasus ini ialah Hari Ibu itu sendiri. Karena dalam meneladani, kita diharuskan untuk meniru dan mencontoh perbuatan, kelakuan, sifat positif dan lain sebagainya. Akan timbul suatu gerakan reaksioner positif dari diri kita, jika kita mampu meneladani dan tidak hanya berhenti pada titik memperingati. Inilah esensi dari peringatan Hari Ibu, yakni menguatnya kembali etos diri  untuk bergerak lebih maju dengan semangat berlandaskan spirit keteladanan.

Siapakah Sosok yang dapat kita teladani di Hari Ibu? tentu banyak sekali figur-figur ibu yang dapat kita teladani kontribusi-kontribusi nyatanya dalam kehidupan. Kita bisa menilik kembali gagasan-gagasan yang dibawa saat Kongres Perempuan Indonesia Pertama berlangsung sehingga, pada tanggal itu, ditetapkan sebagai Hari Ibu. Yaitu Raden Ajeng (R.A) Soekanto sebagai  Pimpinan Panitia Kongres Perempuan Indonesia pertama yang didampingi oleh dua wakil, yaitu Nyi Hadjar Dewantara dan Soejatin dalam sambutannya (dinukil dari buku karya Balcburn) mengatakan :

“ Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum” 

“Artinya.” Lanjut R.A Soekantono, “Perempuan tidak (lantas) menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki, jangan sampai direndahkan seperti zaman dahulu “. 

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai macam organisasi perempuan, antara lain; Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa, dan juga sayap perempuan dari berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain. (Blackburn: 2007)

Dari sana kita melihat, bagaimana para wanita dengan jiwa dan raga penuh kesadaran, bersatu dan berserikat untuk menuntaskan problematika komunal yang selama menjadi keresahan yang menghantui mereka. Yaitu problem emansipasi. Dengan keberanian paripurna, mereka secara lantang berorasi menuntut kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai keberanian, keteguhan, rasa tanggung jawab atas problematika bersama, dan semangat untuk memecahkan masalah hidup secara kolektif inilah yang harus diteladani bersama sebagai wujud memperingati sekaligus meneladani Hari Ibu.

Seiring dengan berkembang pesatnya kemajuan teknologi, meniscayakan kita untuk bergumul dan berinteraksi dengannya. Maka kita harus mampu memanfaatkan kemajuan tekhnologi tersebut dengan bijak. JIka kita terlelap dan terperosok dalam arus penggunaan teknologi kontra produktif yang melenakan,  akan menjadikan diri kita sebagai pribadi apatis yang kurang responsif. Sah saja untuk mengunggah foto Ibu di status dan lini massa media sosial kita, namun bersamaan dengan itu, harus ada langka-langkah dan etos baru yang lebih tinggi dalam menyongsong hidup kedepan dengan dasar keteladanan yang kita peroleh dari sosok ibu kita dan ibu-ibu inspiratif yang lainnya.