Disclaimer: tulisan ini dibuat dalam rangka Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada hari ini, Senin, 3 Desember 2018. Apakah tanggal ini telah familliar bagimu?

Mengusung tema “Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas”,  Hari Disabilitas Internasional di Indonesia tahun ini agaknya belum benar-benar diiringi dengan keberhasilan negeri dalam menciptakan lingkungan yang inklusif. Di satu sisi, wacana disabilitas memang belum menjadi perhatian utama pemerintah di negeri dengan segudang problematika ini. Di sisi yang lain, masyarakat di Indonesia pun masih belum banyak yang memberikan perhatian terhadap wacana disabilitas selain hanya sebatas jatuh dalam rasa iba yang berulang-ulang –padahal perhatian yang dibutuhkan teman-teman disabilitas bukanlah sekedar perasaan kasihan.

Lantas siapa yang patut dipersalahkan atas “keterbelakangan” wacana ini? Jawabannya cukup sederhana, tulisan ini tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Daripada mencari siapa yang lebih salah dari yang lainnya, lebih baik kita sama-sama mau berupaya untuk menjadi lebih terbuka dengan wacana disabilitas dan tergerak untuk turut menggerus stigmanya. 

Tentunya semua itu diawali dengan mengenal wacana disabilitas secara lebih mendalam. Maka dalam tulisan kali ini, penulis akan memaparkan beberapa hal penting berkaitan dengan disabilitas yang perlu diketahui pembaca untuk setapak demi setapak menjadi pribadi yang inklusif dan kelak berandil dalam mewujudkan Indonesia yang inklusi dan ramah disabilitas.

1. Penyebutan yang sesuai

Beberapa diantara kita masih terbelenggu dengan kata “cacat” untuk mendefinisikan saudara/i kita yang memiliki perbedaan fisik, sensorik, mental, atau intelektual. Padahal, kata cacat cukup mengandung makna yang negatif karena secara harfiah merupakan istilah untuk menyebut “sesuatu yang tidak sempurna/rusak”. Padahal, orang yang dilahirkan dengan kondisi berbeda baik secara fisik/sensorik/mental/intelektual dengan kita tidak mesti “buruk” atau “tidak sempurna”. Mereka diciptakan dengan kondisi tersebut karena memang mereka ditakdirkan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan dari kita.

Atas pemahaman ini, kata cacat mulai dihilangkan sejak pemerintah mengeluarkan peraturan baru menyangkut wacana disabilitas melalui UU No. 8 Tahun 2016. Dalam UU ini, istilah “penyandang disabilitas” mulai digunakan dengan mengacu terhadap Convention on the Rights of Persons with Disabilities PBB yang menggunakan penyebutan “persons with disabilities”.

Disabilitas sendiri, meski secara terjemahan dapat diartikan sebagai dis-ability atau ketidakmampuan, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa “ketidakmampuan” yang dimaksud tidak menyorot subjeknya, melainkan lebih kepada lingkungan sekitarnya yang dipersepsikan belum mampu dalam mengakomodir kebutuhan subjek tersebut. 

Contohnya: Ani adalah seorang pengguna kursi roda yang harus menuju lantai dua suatu gedung untuk bekerja. Akan tetapi, untuk menuju lantai dua hanya terdapat tangga dan belum terdapat fasilitas lift. Atas peristiwa ini, alih-alih mempersepsikan Ani sebagai subjek yang “tidak mampu” menjangkau lantai dua, definisi disabilitas muncul akibat ketiadaan lift yang berarti “ketidakmampuan” gedung untuk memfasilitasi mobilitas Ani.

Selain penyebutan “penyandang disabilitas”, pastinya pembaca juga telah awal dengan istilah “seseorang dengan kebutuhan khusus” dan “difabel (singkatan dari different ability atau kemampuan yang berbeda)”. Sejauh ini, tiga penyebutan ini cukup sesuai dan etis dalam merepresentasikan penyandang disabilitas. Yang perlu dihindari adalah penyebutan yang negatif, antara lain cacat, tidak normal (memang normal itu seperti apa sih?), tidak sempurna (apa kita telah sempurna?), handicap, dan kata-kata buruk lainnya.

2. Mengenal ragam disabilitas

Jika telah mengetahui penyebutan yang baik, pembaca harus mulai mengenal berbagai ragam disabilitas untuk menyadari bahwa jenis kebutuhan dan kemampuan masing-masing penyandang disabilitas berbeda-beda. Seringkali di kehidupan sehari-hari, ada orang yang menyamaratakan bahwa seluruh “penyandang disabilitas” itu sama dan parahnya, menganggap bahwa mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Pemikiran ini jelas sangat keliru mengingat seperti yang penulis paparkan sebelumnya, mereka diciptakan dengan kondisi tersebut karena memang ditakdirkan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan dari kita. Berdasarkan UU No. 8 Tahun 2016, ragam disabilitas dikategorikan dalam lima poin berikut ini:

  • Disabilitas fisik: terganggunya fungsi gerak, misalnya lumpuh dan amputasi
  • Disabilitas sensorik: terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, misalnya disabilitas netra, rungu atau wicara
  • Disabilitas mental: terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku, misalnya gangguan kepribadian, autis, dan hiperaktif
  • Disabilitas intelektual: terganggunya fungsi intelektual dan keterbelakangan secara mental, contohnya lamban belajar dan gangguan otak
  • Disabilitas ganda: mempuanya dua atau lebih ragam disabilitas, misalnya disabilitas rungu-wicara, mental-intelektual, dan sebagainya

Dengan memahami ragam disabilitas ini, seseorang akan lebih terbantu untuk mengerti masing-masing cara berekspresi disabilitas dan lebih mampu menyesuaikan diri untuk berinteraksi.

3. Pelibatan sebagai subjek

Kondisi berbeda pada penyandang disabilitas tidak sama sekali mengurangi martabat mereka sebagai manusia jika dibandingkan dengan para non-disabilitas. Mereka berhak dihargai dan diberikan kesempatan yang setara dalam segala aspek. Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial sehari-hari, baik dalam pergaulan, musyawarah, pengambilan keputusan, dan lain sebagainya, penyandang disabilitas juga harus dilibatkan dengan tidak sama sekali mengecualikannya atas berbagai alasan terkait kondisinya. Pendapat mereka juga harus diakomodir layaknya pendapat tiap orang yang lain, terlebih jika berkaitan dengan sesuatu yang berkaitan dengan wacana disabilitas.

4. Etika berinteraksi

Secara khusus, cara berinteraksi dengan penyandang disabilitas sangat beragam karena disesuaikan dengan ragam disabilitas tertentu. Misalnya, cara berinteraksi dengan penyandang netra yang peka terhadap suara tentu akan berbeda dengan cara berinteraksi dengan penyandang Tuli yang peka secara visual.

Akan tetapi secara umum, etika berinteraksi dengan berbagai ragam disabilitas sejatinya sama, yakni dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini:

  • Akui bahwa mereka adalah penyandang disabilitas, namun jangan memandang rendah dengan memberikan tatapan yang mengobservasi maupun dengan menunjukkan perasaan iba karena mereka sama sekali tidak ingin dikasihani.
  • Jangan berasumsi berlebihan, baik dengan merasa lebih mengetahui kebutuhan mereka dan merasa harus selalu membantunya, ataupun dengan memuji mereka dengan itikad membesarkan hati seperti “wah kamu menginspirasi”, “aku jadi lebih bersyukur”, dll. Kalimat-kalimat seperti itu meski terdengar baik, namun menyimpan makna yang “membedakan mereka dengan kita”. Padahal kebanyakan disabilitas ingin dianggap setara dengan dipandang biasa saja.
  • Bertanyalah terlebih dahulu jika ingin membantu. Jangan langsung membantu seakan-akan mereka tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Bersikaplah sama seperti ketika bersama dengan teman non-disabilitas. Bantulah jika ia meminta atau tawarkan bantuan dengan pernyataan semacam ini, “kalau butuh bantuan, sampaikan padaku ya”.

Semoga dari tulisan ini, kita dapat lebih memahami wacana disabilitas, utamanya yang menyangkut penyandang disabilitas itu sendiri. Penulis yakin, inklusivitas tidak akan terwujud begitu saja meski telah ada aturan dari pemerintah. Inklusivitas membutuhkan dukungan dari setiap pribadi yang telah inklusif sejak dalam pikiran. Selamat Hari Disabilitas Internasional!