Guru adalah profesi yang mulia. Lewat gurulah Tuhan menyampaikan setitik ilmu-Nya kepada sekalian manusia, seperti halnya tugas para Nabi dan Aulia. Namun, dalam sistem dan kultur pendidikan kita, guru harus membayar mahal segala kemuliaannya.

Begitu banyak beban yang guru harus pikul demi menjalankan pendidikan. Pendidikan adalah komponen terpenting dalam pembangunan masyarakat. Semakin maju gerak suatu masyarakat, semakin butuh masyarakat itu akan Sumber Daya Manusia (SDM). Semakin membutuhkan SDM, semakin besar perhatian masyarakat dan negara akan pendidikan. Dan itu tugas para guru.

Pada tataran individu, perhatian yang besar terhadap pendidikan bukan cuma soal kebutuhan terhadap SDM. Ini menyangkut masa depan anak-cucu. Karena beban pendidikan ada di pundak guru, setidaknya demikian dalam pandangan masyarakat pada umumnya, lampu sorot tertuju pada guru dengan kapasitas dan perilakunya.

Pendidikan yang baik takkan tercipta tanpa guru yang berkualitas. Dengan tujuan meningkatkan dan memperhatikan kualitas guru, negara dan masyarakat (baca: swasta) merumuskan dan menetapkan nilai-nilai dan standar-standar yang mesti para guru penuhi.

Untuk itu guru mendapat beban tambahan selain mengajar. Apabila mengajar adalah tugas guru sebagai pengajar, pemenuhan standar adalah tugas guru sebagai pegawai negeri dan swasta.  Di negara yang demokratis, kualitas dan pemenuhan standar guru dibuktikan dengan sistem birokrasi.

Dalam kata lain, guru tak hanya membacakan buku kepada murid-muridnya, tapi juga berurusan dengan berkas-berkas. Guru yang mampu mencukupi dokumentasi sesuai sistem birokrasi mendapatkan penghargaan dalam bentuk berkas pula, atau yang kita kenal dengan sertifikat. Mungkin dari situlah muncul istilah “sertifikasi guru”.

Perihal sertifikasi ini, tidak sedikit guru maupun dosen – dalam lingkaran pergaulan saya – mengeluhkan betapa berat dan sulitnya memenuhi standar yang dipancang oleh pengelola pendidikan. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi lebih banyak waktu, tenaga dan pikiran habis untuk urusan administrasi.

Seorang dosen kenalan saya mengatakan bahwa sertifikasi dosen dan akreditasi perguruan tinggi mengurangi waktunya membaca buku. Karena mengejar standar-standar tersebut, para dosen akhirnya melakukan kegiatan-kegiatan akademik (mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat) tanpa kenikmatan menggeluti ilmu. Demikian pandangannya.

Guru-guru juga mengeluhkan hal serupa.  Tekanan standarisasi dan sertifikasi ditimpali lagi oleh tekanan sosial dan ekonomi – yang kadang mengakibatkan melahirkan tekanan psikologis. Tidak semua guru bekerja dalam satu profesi. Sebagian besar guru – khususnya guru honorer dan swasta – mengambil dua atau lebih pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Banyak guru di lingkungan kerja saya, ketika datang ke sekolah membawa wadah kue yang diikatkan di bagian belakang jok motor. Tampaknya mereka habis mengantar kue-kue jualan ke warung-warung pagi.

Mereka pastinya bangun lebih pagi untuk menanak nasi kuning atau memanggang roti dan menyiapkan adonannya sebelum tidur larut malam. Belum lagi membeli bahan-bahan makanan sore sebelumnya. Maka kapan lagi guru-guru punya waktu menyiapkan pelajaran?

Namun demikian, guru-guru mendapatkan keistimewaan tersendiri dibanding profesi-profesi lainnya, yakni sertifikasi tadi. Guru yang telah tersertifikasi mendapatkan tambahan pemasukan cukup besar selain gaji pokoknya.

Itulah yang membuat seorang rekan ASN saya menyatakan rasa irinya pada guru. Ia bilang guru cuma datang ke tempat kerja (sekolah) dari pagi sampai siang dan turut berlibur selama liburan sekolah, tapi mendapat honor yang sangat besar. Sementara dirinya baru mendapat tambahan pendapatan bila kebagian jatah proyek dan baru bisa liburan di tanggal-tanggal merah.

Mendengar keluhannya, dalam hati saya berujar: kawan saya itu tidak pernah merasakan betapa beratnya berada di depan kelas seharian. Betapa melelahkannya menggiring anak-anak didik agar memperhatikan pelajaran. Betapa rumitnya mengonstruksi proses pembelajaran agar ilmu masuk ke dalam jiwa para murid. Dan itu dilakukan selama lima sampai delapan jam pelajaran setiap hari.

Ya, itulah tuntutan terbesar seorang guru. Ilmu-ilmu pendidikan yang telah ia pelajari di bangku sekolah dan kuliah mengajarkannya agar menjadi guru yang ideal. Seorang guru haruslah mencintai ilmu pengetahuan, menguasai seluk-beluk kurikulum, memiliki keterampilan dalam mengaplikasikan metode pembelajaran yang benar, serta membina murid-muridnya dengan keteladanan dan penuh kasih sayang.

Teori pendidikan modern menuntut lebih banyak lagi. Pendidikan kiwari tak lagi terpusat pada guru, melainkan memandang murid sebagai makhluk yang kreatif dan bebas. Ilmu bukan lagi sesuatu yang ditransfer dari pikiran guru ke benak murid, tapi murid-murid menemukan sendiri kesimpulan-kesimpulan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan etis dan ilmiah. Tugas guru adalah memandu mereka  ke sana.

Untuk itu, seorang guru masa kini haruslah memiliki wawasan yang sangat luas, baik wawasan pelajaran yang ia ajarkan maupun gagasan-gagasan umum ilmu pengetahuan. Ia juga mesti menguasai teori-teori pendidikan baru yang senantiasa berkembang dengan sangat cepat. Seorang guru, karena itu, harus membuka diri untuk terus belajar dan tidak terjebak pada teori-teori dan tradisi pendidikan lama yang dianggap telah mapan.

Guru juga mesti mengikuti dan memahami perubahan dan perkembangan sosial yang mempengaruhi karakter dan mentalitas anak-anak muda. Ia harus menyelami pikiran dan batin murid-muridnya yang hidup dalam zaman mereka sendiri. Hal itu demi menumbuhkan minat, bakat, dan kreativitas murid-murid yang merupakan potensialitas yang akan membentuk diri mereka.

Di zaman di mana manusia menyadari kebebasan diri dan memiliki hak asasi ini, seorang guru tak boleh bertingkah laku layaknya raja yang punya abdi-abdi. Ia adalah sosok teladan sejati, pahlawan dan sahabat di mata murid-muridnya, yang mencintai ilmu pengetahuan, berpikir dan bertingkah laku berdasarkan kebijaksanaan.

Itulah harga yang harus dibayar seorang guru. Keseluruhan dirinya – ruhnya, pikirannya dan gerak-geriknya – menjadi kunci sukses pendidikan. Bayangkan, guru harus memenuhi segala kriteria ideal itu di tengah tuntutan dan tekanan birokrasi, ekonomi dan sosial yang tumpang-tindih dan begitu menumpuk.

Meski demikian, di balik segala frustrasi dan beban, tidak sedikit pula guru yang betul-betul mencintai profesinya. Bagi guru-guru ini, mengajar memberi mereka kenikmatan seperti yang dirasakan para pemancing ikan. Bukan soal berapa banyak ikan yang diperoleh, melainkan sensasi menggelitik ketika tali pancing bergerak.

Tiada yang lebih nikmat ketimbang bergelut dengan ilmu, merasakan pengalaman spiritual yang hebat ketika mengajar, dan mengetahui bahwa anak-anak didik telah meraih kesuksesan dalam hidup. Apalagi jika nanti tubuh telah berkalang tanah, doa-doa para murid menerangi kubur, sembari menanti hari pengadilan.[]