Tantangan pekerja kemanusiaan bukan soal memberikan pelayanan, karena tantangan tersebut sering kali timbul dari hati seorang relawan sendiri. Tidak ada paksaan dari pihak manapun. Hatinya tergerak karena besarnya simpati dan tersentuh karena mempunyai naluri yang begitu sensitif terhadap keadaan sekitar. 

Tidak banyak orang yang mampu mengorbankan dirinya dalam lembah yang berbahaya. Namun seorang relawan sejati tidak akan peduli dengan itu. Ia bertekad untuk berjuang di medan perang demi melihat senyuman para korban perang. Ada banyak tokoh yang kita temui sebagai relawan namun hanya sedikit yang benar-benar relawan sejati tanpa berharap pujian, popularitas atau penghargaan bergengsi. 

Berikut tokoh relawan yang sangat menginspirasi karena jasanya melawan para Zionis. 

Mungkin kita masih ingat sosok Rachel Corrie yang mengabdikan dirinya untuk menjadi relawan di jalur Gaza, Palestina. Lalu bagaimana kisah lengkapnya mari kita simak bersama-sama. 

Rachel Corrie merupakan gadis yang lahir di Olympia, Washington 10 April 1979. Sejak masih duduk di kelas 5 SD Rachel sudah meneliti berbagai kesenjangan sosial seperti kemiskinan. Pada umur 15 tahun ia tidak lagi tertarik dengan kehidupannya di Amerika Serikat. Ia tidak seperti gadis lain yang sangat memperhatikan penampilannya demi terlihat cantik atau populer di kampusnya. 

Rachel punya jiwa sosial yang tinggi. Saat melihat penderitaan di jalur Gaza, Palestina, hatinya tergerak untuk membantu. Pada tahun 2003 ia bergabung dengan tim relawan yang dikirim ke jalur Gaza, Palestina. Ia sangat terenyuh melihat warga Palestina yang setiap harinya banyak pertumpahan darah. 

Ia berusaha melindunginya agar tidak diserang oleh Zionis. Namun nasibnya begitu malang, saat buldozzer menyerang, Ia memasang badan berupaya menghentikan penyerangan. Namun tanpa ampun tentara Israel dengan sadisnya melindas Rachel hingga badannya remuk. Ia sempat ditolong sama relawan lain dan dilarikan ke posko medis namun nyawanya tidak tertolong. Ia meregang nyawa pada 16 Maret 2003. Rachel Corrie tercatat sebagai Relawan Internasional.

baru-baru ini kita juga mengenal sosok Razan Annajar, seorang relawan medis berusia 21 tahun yang mengabdi dan membantu para warga palestina untuk menyembuhkan luka para korban kebengisan zionis. Ia dengan tangguh dan Ikhlas menolong korban, namun pengorbanannya harus dibayar mahal. Ia ditembak dengan sniper timah panas saat mengobati luka para korban. Tentara Israel menembak dengan mata terbuka. Razan harus menyaksikan sendiri nyawanya terenggut oleh kebengisan zionis Israel. Ia tewas pada tanggal 01 Juni 2018. Semua media membicarakan beliau karena kegigihannya melindungi para korban. 

Hati seorang relawan begitu mulia karena panggilannya langsung dari Tuhan mereka. Ia tidak lagi peduli dengan apa pun yang mereka punya termasuk nyawa mereka tersendiri rela dipertaruhkan demi membela kebenaran. Jika ada yang menyebut relawan bodoh dan konyol. 

Coba pikir apakah ada yang berani memasang badan melindungi para korban jika dalam jiwanya tidak ada rasa iba. Bukan lagi soal tentang kebijakan, tetapi sebagai panggilan jiwa sosial yang mengundang simpati hingga berani maju di titik terdepan meskipun penuh dengan ancaman. Begitulah seharusnya hati kita jika melihat para korban. Seenggaknya hatinya terketuk dan mau meringankan penderitaan korban.