Pada saat seorang pria melakukan pendekatan terhadap seorang wanita, walaupun tanpa kata-kata mengatakan: “Saya mau melakukan pendekatan dengan kamu”

Sebenarnya sudah dapat dirasakan oleh si wanita (pada umumnya ya, kecuali yang memang sangat tidak peka). Begitu pula sebaliknya saat seorang wanita melakukan pendekatan terhadap seorang pria, si pria juga dapat merasakan hal itu (walaupun katanya pria makhluk yang tidak peka). Permasalahannya sekarang terletak pada respon si wanita atau si pria yang didekati.

Dalam masa-masa pendekatan, entah pria menyukai wanita atau wanita menyukai pria, sering kita dengar istilah memberi harapan. Sebenarnya apakah itu memberi harapan?

Memberi harapan merupakan suatu bentuk tindakan atau perkataan yang sifatnya disengaja atau tidak disengaja yang dapat mengarahkan seseorang menjadi salah mengerti (misleading) akan maksud dan tujuan kita.

Tentu saja memberi harapan bukan hanya terjadi dalam permasalahan cinta dan perasaan, tetapi juga dalam bisnis dan dalam hidup sehari-hari. Tetapi yang saya akan bahas di sini adalah dalam konteks cinta dan perasaan terhadap lawan jenis.

Dalam pendekatan (karena perasaan suka yang bukan sebagai teman) sering kali dapat dijumpai kata-kata maupun tindakan-tindakan yang misleading dari seorang pria.

Contoh: selalu bersedia mengantar si wanita kemana pun si wanita akan pergi, padahal dengan yang lain tidak demikian atau berkata-kata dengan manis yang mengindikasikan perasaan suka, namun tidak dikatakan dengan jelas bahwa si pria memang menyukai si wanita dengan kapasitas hubungan antara lawan jenis, dan bukan dalam kapasitas hubungan persahabatan.

Hal-hal seperti ini sering kali menimbulkan suatu harapan dalam diri si wanita. Pihak wanita akan berpikir: “Kok dia begitu ya? Apa dia suka dengan saya?”

Ingat menebak-nebak dan menduga-duga merupakan bentuk membangun harapan.

Begitu pula dengan wanita. Pada saat seorang pria mendekati dirinya, walaupun si wanita tidak menaruh perasaan istimewa pada si pria, sering yang terjadi adalah si wanita tetap bersikap manis terhadap si pria yang menyebabkan harapan si pria melambung tinggi. Padahal kita semua tahu bahwa harapan yang melambung tinggi adalah sumber dari kekecewaan besar saat tidak terpenuhi.

Saya tidak mengatakan bahwa pria maupun wanita pada saat awal pendekatan menjadi kejam atau menjadi bermusuhan terhadap wanita atau pria yang mendekati Anda. Tidak, sama sekali tidak demikian.

Saya juga tidak menyarankan suatu pendekatan yang terburu-buru, juga tidak demikian. Saya mengerti bahwa untuk seseorang bisa mengenal orang lain dengan baik dibutuhkan waktu yang cukup walaupun kadarnya adalah relatif, yang ditentukan oleh intensitas dan kualitas komunikasi. Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah ketegasan dan pembatasan.

Ketegasan dalam arti jika memang dari awal Anda memang tidak menyukai pria/wanita tersebut, maka bersikap dan berkata-katalah secara tegas. Mungkin akan ada sebagian Anda yang berkata: “Siapa tahu seiring dengan waktu berjalan, saya jadi menyukainya.”

Ini memang tidak menutup kemungkinan, tetapi sebelum hal itu terjadi adalah baik jika Anda tidak memberi harapan palsu, sebaliknya tetap berteman sebagai biasa.

Untuk menunjukkan ketegasan dan tidak dianggap aneh, Anda bisa menempuh berkata-kata secara implisit (tidak blak-blakan). Jika berkata-kata secara implisit tidak mempan, ada baiknya Anda berkata secara ekspliisit (blak-blakan).

(Matius 5:37): Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Jika seorang pria/wanita tidak memiliki perasaan khusus tetapi mengatakan/mengindikasikan hal yang sebaliknya, berarti ia menipu diri sendiri dan orang lain.

(Amsal 26:28): Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran.

Jika mengatakan secara langsung bukan pilihan Anda, Anda dapat menempuh jalur tindakan. Setidaknya dari tindakan Anda, akan dapat dilihat Anda menyukai dirinya atau tidak. Mungkin Anda akan mengatakan:

“Saya tidak mau dianggap GR (gede rasa), orang belum berkata menyukai saya masa sih saya mendahului bertindak atau berkata-kata yang sifatnya mengisyaratkan menolak?”

Ya ini dapat dimengerti, tetapi saya telah mengalami dua kondisi tersebut, baik saat saya menyukai seorang wanita maupun saat seorang wanita menyukai saya. Saya berpikir perkataan yang mengisyaratkan menolak lebih cepat dimengerti daripada tindakan yang mengisyaratkan menolak.

(Amsal 27:5): Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

Maksudnya lebih baik kita menegur dengan kasih atau mengatakan kebenaran, daripada kita bersikap pura-pura baik, pura-pura mengasihi, padahal tidak demikian. Kepura-puraan merupakan hal yang menipu.

Pada konteks lain adalah pada saat seorang pria menyatakan perasaannya dan Anda tidak menyukainya (bagi wanita). Tegaslah kepada si pria bahwa Anda tidak menaruh perasaan khusus kepadanya dan jangan memberi harapan dengan embel-embel yang bersifat rohani seperti misalnya:

“Jika Tuhan menghendaki, ya siapa tau juga kita ternyata berjodoh di masa yang akan datang.”

Betul bahwa masalah jodoh itu adalah suatu misteri Ilahi yang kita tidak dapat mengerti, tetapi kalau kita berbicara seperti tadi, itu adalah suatu bentuk pemberian harapan yang dibungkus dalam konteks rohani.

Katakan penolakan Anda dengan tegas namun tidak kasar dan konsistenlah dengan itu. Pada umumnya sang pria akan mengerti dan menghormati keputusan Anda.

Namun bila Anda sudah melakukannya dan sang pria tetap ngotot mengejar Anda, apa yang harus Anda lakukan? Tetap tegas dan konsisten, biarkan si pria akhirnya menyadari bahwa Anda memang bersungguh-sungguh dengan perkataan Anda.

Bagaimana jika si pria menyatakan perasaan dan Anda belum yakin dengan perasaan Anda? Ya katakan hal itu dengan tegas bahwa Anda memang belum yakin dengan perasaan Anda dan meminta menjalani persahabatan seperti biasa sampai Anda menjadi yakin.

Jangan menerima dulu tetapi kemudian di tengah jalan tiba-tiba Anda menyadari bahwa Anda tidak menyukai dia. Ini merupakan bentuk pemberian harapan lainnya. Juga jangan cepat menolak dulu, karena bisa jadi Anda malah jadi menyesal kemudian jika ternyata Anda sebenarnya menyukai si pria juga namun belum cukup yakin dengan perasaan Anda.

Hal kedua yang mau saya sampaikan adalah masalah pembatasan. Saya yakin tanpa perlu saya katakan bahwa setiap kita akan mengerti mengenai batasan perkataan dan tindakan kita jika memang kita menganggap lawan jenis kita itu sebagai teman dan bukan sebagai orang yang kepadanya kita menaruh perasaan khusus.

Terdapat suatu perbedaan yang jelas antara keduanya dan sebagai anak-anak Kristus hendaknya kita semua bisa bertindak dan berkata-kata secara bijaksana dan berhikmat.

Banyak pria atau wanita berkata demikian: “Saya ingin tetap baik kepada orang yang menyukai saya.”

Hal ini tidaklah salah, sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap kita kepada semua orang.

(Galatia 6:10): Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Hal yang perlu diingat adalah berbuat baik merupakan sesuatu yang perlu kita lakukan, namun memberi harapan adalah hal yang lain lagi. Hendaklah kita bijaksana dan berhikmat dalam bertutur kata dan bertindak.

Apakah kita baik terhadap semua orang, atau hanya pada satu pria atau wanita tertentu saja? Renungkan baik-baik motivasi Anda. Sungguhkah Anda memang baik kepadanya karena tulus?

Di atas semuanya itu, mari kita menempatkan diri kita dalam posisi orang lain. Bagaimana perasaan kita jika kita yang berada pada posisi orang lain tersebut?

(Matius 7:12): Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Bila Anda tidak ingin mengalami kekecewaan mendalam, janganlah membuat orang lain mengalami kekecewaan mendalam karena memberi harapan. Namun bila Anda tidak memberi harapan malah diberi harapan, apa yang harus Anda lakukan? Jangan kecewa dan tetaplah melakukan yang benar. Jangan lupa untuk terus menjaga hati dan pikiran.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang bijaksana dan berhikmat sehingga setiap perkataan dan tindakan kita menjadi jelas dan tidak membuat orang lain misleading. Saat kita berkata-kata dan bertindak benar, saat itulah Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.