Surat ini, Anakku, akan aku buka dengan sebuah cerita pembunuhan. Jadi, jika kau mendapati surat ini di saat dirimu merasa belum cukup dewasa atau belum siap secara mental, tutuplah ia kembali. Lalu belajarlah, bermain, atau lakukan apa pun yang sesuai dengan umurmu.

Sebab cerita pembunuhan ini terlalu keji. Satu orang dihabisi 60 orang. Si korban adalah seorang mantan Jenderal, seorang Konsul Republik Roma. Ia bernama Gaius Julius Caesar.

Saat itu tepat pertengahan Maret, hari Idus Martii, hari raya umat penyembah Jupiter, tahun 44 Sebelum Masehi, di sebuah gedung megah bernama Theatrum Pompeii yang berada tepat di jantung Kota Roma.

Para pengeroyok bersenjatakan belati dan pentungan. Sejumlah 23 tikaman mengenai tubuh korban, namun hanya satu di antaranya yang benar-benar menghunjam dada. Barry Strauss, sejarawan yang cukup mendalami kisah ini memperkirakan, tikaman mematikan itu terjadi pada serangan kedua. Namun, sang Konsul tidak langsung mati saat itu juga.

Lelaki 55 tahun yang juga pandai menulis prosa dan puisi itu, masih sempat merasakan nyeri bertubi-tubi: 21 tikaman dan entah berapa kali gebukan pentungan, sebelum ia benar-benar tak merasakan apa-apa lagi.

Para pembunuh itu, Nak, jangan kau bayangkan mereka sebagai manusia-manusia brutal macam berandal di pasar, atau preman-preman berjubah yang kerap menggerebek warung makan di bulan puasa, atau sekumpulan tentara yang gemar menyiksa orang-orang Papua. Sama sekali bukan. Para pelaku bukanlah ahli kekerasan. Tampak dari betapa amatir dan tidak efisiennya asasinasi itu.

Para pembantai—sejarah menjuluki mereka para konspirator atau para liberatore—merupakan para Senator Republik Roma. Kaum politisi di bawah pimpinan Gaius Cassius Longinus. Seorang di antara mereka adalah Marcus Junius Brutus yang tak lain merupakan kemenakan Julius Caesar sendiri.

Senator di Roma, antara 318-27 SM adalah para penanggungjawab pemilihan umum, legislasi, dan pengadilan. Juga otoritas yang mengatur mata uang, kebijakan administratif, serta urusan luar negeri.

Sementara politisi adalah sebuah profesi turun temurun. Seseorang yang hendak diorbitkan menjadi politisi mesti dididik sedari kecil. Diberi bekal bertumpuk-tumpuk ilmu mengelola pemerintahan dan kuasa, juga ilmu retorika, filsafat, hukum, seni dan susastra. Pendeknya para pengeroyok Julius Caesar adalah kaum terdidik Kota Roma.

Ini adalah satu pelajaran yang ingin aku sampaikan kepadamu melalui surat ini, bahwa ketinggian ilmu tidak akan serta merta mengurung kebuasan dalam diri manusia. Cukuplah sebuah kabar burung, angin panas desas desus, maka kebiadaban yang tertidur bakal bangkit dari jiwa-jiwa paling terpelajar sekalipun.

Namun demikian, Anakku, politik adalah kelindan intrik. Julius Caesar adalah seorang politisi, dan dia pun tidak sepenuhnya mulia. Beberapa hari sebelum dibunuh ia melakukan provokasi dengan menasbihkan diri menjadi Diktator seumur hidup Roma.

Terang saja para senator itu berang. Julius Caesar sedang menghela Roma dari rumah peradaban bernama sistem pemerintahan republik kembali ke rimba kepatuhan yang disebut sistem pemerintahan monarki. Ini berarti, para politisi Roma akan kehilangan kuasanya yang besar. Pengaruh mereka akan makin susut. Dan pada akhirnya kedudukan politisi tak akan lebih tinggi dari para badut.

Maka, pada akhirnya terjadilah pembunuhan itu. Sebuah tiranisida, kata para pelakunya. Sebuah upaya membasmi tirani yang terencana, tapi tidak rapi. Peristiwa itu tergerak di gedung ramai tepat di tengah hari raya, sehingga ada terlalu banyak mata yang jadi saksi.

Para liberatore itu akhirnya tercerai berai. Mereka melarikan diri meninggalkan Roma. Sementara pendukung almarhum Julius Caesar di bawah pimpinan Markus Antonius kemudian mengorganisasikan diri, menyulut perang saudara, meruntuhkan republik, dan akhirnya mendirikan monarki.

Jadilah, sebuah tragedi bersimbah darah tak mampu mencegah jalan sejarah. Bagi para liberatore, pembunuhan Julius Caesar tak membuat keadaan bertambah baik, malah sebaliknya.

Bahkan, nama Brutus sang kemenakan kemudian menjadi kata yang bersinonim dengan pengkhianat pengecut. Musuh dalam selimut.

***

Pesan moral terbaik yang bisa ditarik dari tragedi di atas, Anakku, barangkali adalah tentang semangat total melawan tirani. Inilah yang kemudian diabadikan William Shakespeare dalam drama berjudul The Tragedy of Julius Caesar.

Semboyan "Sic semper tyrannis!" atau “matilah tirani!” adalah pekik paling menggetarkan di sepanjang drama ini. Drama yang naskahnya ditulis di era pemerintahan Ratu Elizabeth, atau di kala monarki Inggris tengah menapaki masa jayanya.

Ironisnya, semangat yang digalang Shakespeare itu justru dibaca secara berbeda oleh orang lain, dan malah menciptakan sebuah tragedi baru.

New York, 1864. Sejumlah seniman menggelar pertunjukan The Tragedy of Julius Caesar untuk mengumpulkan dana bagi monumen William Shakespeare yang rencananya akan dibangun di tengah Central Park.

Meski pertunjukan itu sukses, dan monumen tersebut masih dapat disaksikan orang sampai sekarang, salah seorang aktor masih tak bisa menghapus rasa kesalnya, sebab ia memainkan peran yang bukan peran idamannya. Ia menginginkan peran Brutus, namun yang didapatnya adalah peran Markus Antonius.

Sang aktor yang ingin bersua dewa kemasyhuran itu akhirnya mengatur plotnya sendiri. Sebuah plot di luar gedung teater. Ia lantas bergabung dengan suatu perkumpulan politik rahasia, merencanakan pembunuhan kepala negara dan akhirnya menemukan kesempatannya justru kembali di gedung teater.

Lewat 13 menit dari pukul sepuluh malam, pada 14 April 1865, dari balik tirai salah satu balkon Ford's Theatre, John Wilkes Booth, sang aktor, membidik bagian belakang kepala Presiden Abraham Lincoln, lalu melepaskan tembakan sambil berseru “Sic semper tyrannis!”

Nyawa sang Presiden yang baru saja menghapus perbudakan itu tak tertolong. Ini adalah asasinasi terhadap kepala negara yang senantiasa dikenang dengan kernyit ngeri, sama seperti yang 19 abad sebelumnya menimpa kepala negara Republik Roma, Julius Caesar.

Nama Booth pun terkenal. Ia terekam dalam benak orang Amerika sebagai Brutus nomor satu sepanjang sejarah negeri itu.

***

Swiss tahun 1582, Jacob Nufer hanyalah seorang tukang jagal babi. Namun ketika istrinya yang sedang hamil tua tiba-tiba mengalami pendarahan, ia sadar ia tak boleh menjadi sekadar penjagal babi.

Ketika itu tenaga dan fasilitas medis rumah bersalin belumlah selengkap dan sebanyak sekarang. Nufer tahu, penanganan yang terlambat akan berakibat fatal. Apa lagi beberapa hari sebelumnya seorang bidan berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala, betapa mustahil untuk dapat melahirkan normal karena celah panggul si ibu terlalu kecil.

Maka, dengan mengandalkan sebilah gunting baja serta pengalamannya membedah babi, lelaki itu akhirnya membedah istrinya sendiri. Perbuatan yang nekat, namun anehnya berhasil. Nufer bahkan mengulangi aksi ini hingga lima kali—konon, satu di antaranya kembar—semuanya berakhir dengan selamat, baik bayi maupun ibunya.

Tak sedikit yang meragukan kisah Nufer di atas, karena kurangnya bukti tertulis atau saksi yang bisa dipercaya. Meskipun begitu, Jacques Guillimeau, seorang ahli bedah dan obstetrik Perancis pada 1609 mempublikasikan penelitiannya dalam buku berjudul De l'heureux accouchement des femmes (Persalinan yang Bahagia).

Dalam buku itu Guillimeau memakai kata “section” untuk mengganti kata “operation” sehingga lahirlah istilah yang lebih dikenal sampai kini: “caesarian section” atau “bedah caesar”. Metode ini dipraktikkan setahun kemudian oleh dokter Trautman dari Wittenberg. Sang bayi selamat, namun sayangnya sang ibu meninggal empat minggu kemudian.

Cesarian section baru benar-benar berhasil dilakukan sekitar dua abad kemudian. Mungkin akan lebih lama jika Margaret Ann Bukley mengubur cita-citanya sejak kecil sebagai dokter bedah. Sebagai perempuan, ia memang sulit menggapai cita-cita semacam itu. Britania Raya di awal abad ke 19, masih menganggap perempuan sebagai warga negara kelas dua yang tak bebas memilih profesi, apa lagi profesi dokter.

Untungnya sejumlah kawan yang berpandangan liberal mendorong dan membantu Margaret mengganti identitasnya menjadi seorang lelaki bernama James Stuart Barry. Nama itu dipinjam Margaret tanpa izin dari pamannya sendiri, seorang seniman Irlandia yang cukup disegani sekaligus pengajar seni lukis di London's Royal Academy.

Dengan identitas baru tersebut, Margaret alias James menimba ilmu di Sekolah Medis Universitas Edinburgh, Skotlandia pada 1809. Ia lulus tiga tahun kemudian dan meneruskan pelajaran di Royal College of Surgeons of England. Pada 1813 ia resmi menamatkan pendidikan di sekolah tinggi khusus ahli bedah kerajaan tersebut, dan meraih posisi sebagai Asisten Dokter Resimen.

Pada 1815, tak sampai sebulan tatkala ia ditugaskan sebagai inspektur kesehatan di Cape Town, Afrika Selatan, sejarah itu pun tercatat. dr. Barry menjadi dokter pertama yang melakukan bedah caesar secara medis, di mana baik ibu maupun bayi selamat.

Sang ibu yang gembira dan haru lantas membaptis bayinya menggunakan nama James Barry Munik untuk menghormati sang dokter. Baru setelah James Barry meninggal akibat disentri pada 25 Juli 1865, orang-orang akhirnya sadar bahwa James Barry bukanlah nama yang sebenarnya.

***

Hantu Julius Caesar, Anakku, adalah yang barangkali membayangi Brutus, John Wilkes Booth, juga aku. Masing-masing dengan cara dan alasan berbeda. Jika Brutus dan Booth dibayangi sang patron lewat perebutan kekuasaan, popularitas dan heroisme kesiangan, aku dihantui oleh ketakutan kalau-kalau kelahiranmu dihimpit kesulitan.

Beberapa hari sebelum surat ini dibuat, atau sepuluh hari sebelum ulangtahun pembunuhan Julius Caesar, suasana begitu tegang. Bobot tubuhmu yang terus merangkak naik dan makin sulit dikendalikan itu agaknya membuat cemas Mamamu. Dan kecemasan itu menular juga kepadaku.

Aku lalu mempertimbangkan bedah caesar jika persalinan normal tidak memungkinkan. Maka aku kemudian berusaha mencari segala informasi lewat mesin pencari di internet, hingga bertemulah aku dengan kisah-kisah di atas—termasuk peristiwa Ides of March yang kujadikan pembuka surat ini.

Nama “Julius Caesar” dan “bedah caesar” kerap dihubungkan oleh sejumlah klaim, dugaan dan mitos. Beberapa pihak meyakini sang pemimpin Roma dilahirkan dengan cara bedah caesar, dan dari peristiwa itulah namanya berasal. Keyakinan ini didasari oleh secuplik kabar dari Kitab Suda, sebuah kamus ensiklopedik kuno yang ditulis di zaman Byzantium atau sekitar abad 10 M, dalam bahasa Yunani Zaman Pertengahan.

Sebutan Kaisar yang didapatkan para pemimpin Romawi berasal dari Julius Caesar, yang tidak dilahirkan. Tatkala ibunya meninggal pada umur kandungan sembilan bulan, mereka membelahnya, mengeluarkan bayi itu, dan demikianlah ia diberi nama; dalam lidah orang Roma pembedahan disebuat 'Caesar'.

Namun pendapat ini terbantahkan dengan fakta bahwa Aurelia Cotta, ibu Julius Caesar masih hidup sampai setahun sebelum sang diktator Roma tersebut dibunuh Longinus dan kawan-kawan.

Klaim lainnya adalah bahwa Undang-Undang lex caesarea, yang mewajibkan ibu yang meninggal kala hamil atau melahirkan harus dibedah perutnya untuk mengeluarkan bayi, merupakan hukum yang diterbitkan oleh Julius Caesar sendiri.

Padahal, menurut sejumlah catatan, aturan ini sudah berlaku sejak 715 SM, jauh sebelum Roma menjadi republik, dan sebelum Julius Caesar hidup. Aturan ini diprakarsai oleh Numa Pompilius, Raja kedua Roma, dengan alasan yang sifatnya lebih relijius, yakni agar sang bayi dapat dikuburkan di luar tubuh ibunya. Konon, jika tidak begitu, arwah sang ibu akan menjadi penasaran dan mengganggu orang-orang. Ini agak mirip ya dengan mitos sundel bolong di negeri kita ya?

Barangkali ada tak banyak bayi yang bisa lahir selamat dengan cara itu, namun sejumlah pakar enggan menutup kemungkinan. Konon, lex cesaerea berlaku juga untuk ibu yang masih hidup namun dengan risiko melahirkan yang tinggi. Seorang ibu mesti dibedah hidup-hidup dan dibiarkan mati untuk menyelamatkan bayi dalam kandungannya.

Kau bayangkanlah, Anakku, di masa ketika teknologi kedokteran masih sangat sederhana, para pemimpin Roma telah berpikir bagaimana cara menyelamatkan seorang anak, meskipun itu dengan cara yang mengerikan. Betapa sebuah peradaban amat menghargai kelangsungan generasi.

Aku lantas teringat pada suatu fakta bahwa di negara kita, Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan masih cukup tinggi. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) mencatat rentang AKI tahun 2007 yaitu 228 kematian per 100 ribu kelahiran hidup. Pada 2012, AKI meningkat yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Minimnya fasilitas kesehatan, terutama di pelosok-pelosok negeri, masih dipercaya sebagai perkara utama yang memberi andil atas tingginya AKI tersebut. Persoalan kesejahteraan dan kesehatan di negeri ini betul-betul menjadi nomor sekian. Ini terjadi di zaman ketika teknologi kedokteran telah sangat maju. Dua ribu lima ratus tahun setelah Julius Caesar. Empat ratus tiga puluh tahun setelah Jacob Nufer.

Anggaran kesehatan tidak memenuhi amanat Undang-Undang Kesehatan yang menetapkan bahwa anggaran kesehatan di Indonesia minimal 5 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan minimal 10 persen di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Sejumlah pihak menyebut anggaran kesehatan di Indonesia baru 2,3-3 persen dari APBN. Padahal aspek kesehatan secara keseluruhan itu masih dibagi-bagi. Yaitu kesehatan ibu dan anak, tetapi jumlah minimal anggaran kesehatan secara keseluruhan belum dipenuhi.

Terasa benar olehku dan Mamamu, beberapa hari menjelang kau lahir, kami kebingungan mencari tempat bersalin di Kota Luwuk yang memang agak terpencil ini. RSUD Luwuk sedang dalam tahap renovasi. Ada begitu banyak pasien, namun sedikit kamar yang tersedia.

Satu orang pasien harus masuk daftar tunggu sampai berhari-hari sebelum bisa menikmati fasilitas kesehatan di Rumah Sakit tersebut. Kami berupaya menghindari bersalin di Rumah Sakit swasta sebab biayanya yang begitu mahal.

Akhirnya, kau pun lahir di sebuah puskesmas pembantu. Sebuah bangunan baru yang cukup bersih dan nyaman. Namun dengan perlengkapan yang masih terbatas, sehingga tak bisa menangani persalinan abnormal.

Kau cukup beruntung, Anakku. Kau bisa lahir normal. Dan aku cuma bisa berdoa, semoga bayi-bayi lain yang bisa seberuntung kamu, di tengah kurangnya fasilitas dan mahalnya biaya persalinan.

Dalam kantuk, aku bersyukur melihatmu tidur bersisian dengan Mamamu. Ia tampak lelah sekaligus amat cantik ketika itu. Kau pun tampan tentu saja.

Perlahan, hantu Julius Caesar dapat enyah dari kepalaku sementara waktu. Dan pelan-pelan, aku mulai menyusun surat ini untuk kaubaca kapan pun kau siap—itu jika kau benar-benar mematuhiku.