Setelah belajar malam maka memutuskan untuk rehat sejenak dengan menonton televisi. Dengan cepat langsung tersambung dengan program acara TV yang menampilkan konten hal yang berbau mistis, takhayul, setan-setan-an, dll. 

Antara lain ditampilkannya misteri bangunan tua, misteri pembangunan infrastruktur yang terbengkalai puluhan tahun, misteri tentang adat Jawa, hingga misteri tetek bengek sekalipun.

Jika ditilik kembali sampai pada awal tahun 2000-an sampai tahun 2019, bahwa program acara TV yang berbau mistis kerap digemari bahkan menuai rating yang tinggi, alih-alih program yang mendidik dan edukatif. 

Mengapa konten takhayul-takhayulan sangat digemari bahkan sebagai tontonan 'wajib' bagi masyarakat Indonesia? Hingga KPI saja mengakui hal tersebut?


Mochtar Lubis, dalam pidato terkenalnya di Taman Ismail Marzuki, menyebutkan bahwa salah satu karakter manusia Indonesia adalah bersifat takhayul. 

Contohlah zaman feodal dalam suatu manusia Jawa, menyimpan harta begitu banyaknya dari bertani namun suatu saat hilang! Kerjaan tuyul ini, pikir orang itu. 

Tuyul dikaitkan sebagai alasan yang pasti bahwa dia-lah yang mencuri. Tetapi menurut sejarawan Ong Hok Ham, bahwa mistisisme tuyul dalam budaya Jawa berkaitan erat pada ekonomi yakni tentang kecemburuan terhadap kaum pedagang yang tiba-tiba kaya. 


Lain hal semisal dalam seorang anak perempuan tiba-tiba mengeluarkan paku dari dalam tubuhnya. Dalam peristiwa itu, dikaitkanlah bahwa yang melakukan adalah orang yang tidak suka padanya dan melakukan perdukunan. 

Padahal, menurut Dr. Ryu Hasan, neuroscientist, bahwa hal-hal yang berbau santet adalah fiksi saja, dalam laporan dan jurnal kedokteran tak pernah ada kasus tersebut, kalaupun ada, kata beliau, bisa disebut gangguan pica yakni ketidaksadaran memakan benda-benda yang ada didepannya.


Berlari jauh ke Eropa pada abad 13 silam ketika peradaban Eropa dilandasi sistem berpikir yang menganut takhayul, rakyat hanya 'manut-manut' saja terhadap otoritas Gereja.

Masyarakat Eropa hanya menerima mentah-mentah seruan Gereja bahwa kucing harus dan wajib dibasmi karena kucing sebagai simbol penyihir, kejahatan, dan roh-roh setan yang bersemayam ditubuh kucing. 

Tidak ada satupun seorang yang menanyakan 'Mana bukti konkret bahwa kucing adalah simbol kejahatan?' Kalaupun ada yang berani menentang, pasti ia dibunuh otoritas karena berani untuk berpikir diluar takhayul.


Contoh persoalan diatas hanya menjadi satu dot kecil dari berbagai ribuan bahkan jutaan dot dalam masyarakat Indonesia bahkan dunia yang sering menyerahkan masalah hidup mereka pada sandaran yang gaib daripada mencari tahu apa dan mengapa bisa demikian. 

Dari uraian diatas juga menunjukkan hal yang tak mengherankan jika masyarakat Indonesia menggemari ke-mistisis-an ini—terbawa sifat.


Hama Takhayulisme

Saya mulai bertanya sejenak dengan program TV—yang sudah berlangsung lama—seperti ini, apa manfaat yang kita peroleh dari program TV takhayul-an ini? Sebuah ilmu? Ah, terlalu jauh jika disebut sebagai ilmu. 

Bagaimana jika dikatakan mendapat sebuah pengetahuan? Tetapi, bukankah Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan adalah sesuatu hal yang benar dan benar adanya dalam dunia yang nyata ini? Yang didapat dari metode observasi yang nyata? 

Jika dicocokkan dengan takhayulisme maka sangat bertentangan sekali. Karena ia bersandarkan pada ke-gaiban, metafisika yang tak dapat dibuktikan dengan cara observasi.

Immanuel Kant, seorang filsuf besar dalam karya fenomenalnya yakni "What Is Enlightenment?", menuturkan bahwa takhayul bertindak sebagai penjaga dan manusia sebagai hewan ternak. 

Para penjaga memastikan para hewan ternaknya untuk tetap bodoh dan dengan hati-hati mencegah hewan tersebut mengambil satu langkah pun tanpa tali pengikat yang telah penjaga ikat. 

Kemudian para penjaga menunjukkan kepada mereka bahaya yang akan mengancam mereka jika mereka mencoba berjalan sendiri—yakni berpikir secara rasional. 

Sejalan dengan Immanuel Kant, filsuf rasionalis yakni René Descartes, dalam berbagai tulisannya mengatakan jika dogmatis takhayul yang menguasai manusia akan menyebabkan kerusakan eksistensi manusia itu sendiri. 

Itu sebabnya, mengapa manusia perlu untuk berpikir sendiri berdasarkan materi yang nyata tanpa memasukkan faktor takhayul yang tak dapat dipanca inderakan itu. 

Sama halnya yang diutarakan Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka, dalam karya raksasanya Madilog, bahwa menurut beliau pikiran yang sehat dan rasional harus menghindari awan gelap takhayulisme. 

Lebih jelas lagi, jika Indonesia ingin 'merdeka' sepenuhnya dalam soal kemasyarakatan, maka wajib mengkhotbahkan cara berpikir yang benar dan wajib memusnahkan cara berpikir berdasar 'logika mistika' (istilah Tan Malaka). 

Inilah, mengapa suatu konten mistisisme haruslah diberangus walaupun dalam kemasan budaya masyarakat. Disinilah pula letak pro dan kontra karena bukankah, sebagai manusia, harus melestarikan adat leluhur kita? 

Bahwa harus menghormati? Memang, harus menghormati bentuk budaya apapun walau dalam bentuk mistis karena sebagai identitas diri seorang anak bangsa.


Tetapi, dalam menghormati suatu budaya yang berkemas takhayulisme harus mengikuti perkataan terkenal Heraclitus, "Panta Rhei" yakni keadaan selalu berubah. 

Apa yang selalu berubah? Bahwa zaman lampau dan zaman sekarang tiada sama, tidak bisa memaksa memakai pikiran zaman lampau takhayulisme Jawa, Sumatra atau daerah manapun dalam kondisi Revolusi Industri 4.0 ini. 

Dengan demikian, pikiran dalam zaman sekarang haruslah membuang segala bentuk kekolotan dan takhayul dalam bentuk apapun dan mempromosikan bentuk baru yakni berpikir rasional. "Zaman baru, alat baru" kalau kata Bung Karno.


Pembuat kebijakan dalam menelurkan program-program TV yang masih saja terus-menerus menayangkan konten takhayulisme setidaknya sadar bahwa konten tersebut sangat bisa memengaruhi manusia modern yang akal pikiran merdeka dari belenggu mistis tersebut. 

KPI harus tegas melarang program-program TV yang berbau mistisisme sepenuhnya tanpa setengah-setengah. 

Apakah KPI menyadari jika tindakan mereka untuk mengizinkan tontonan tersebut sangat 'membodohkan kehidupan bangsa' alih-alih 'mencerdaskan kehidupan bangsa'?