RUBELLA atau campak Jerman merupakan penyakit menular atau infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah berbentuk bintik-bintik pada kulit. Umumnya rubella ini sering terjadi pada anak dan remaja yang belum mendapat vaksin campak, gondok, dan lain-lain. Meski demikian, belum banyak masyarakat mengenal apa itu rubella.

Indonesia merupakan satu dari 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia pada 2015 menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kementrian kesehatan  mencatat jumlah kasus campak dan rubela dalam 2014 sampai dengan Juli 2018 mencapai 57.056 kasus (8.964 positif campak dan 5.737 positif rubela). 

Pada 2014, terdapat 12.943 kasus suspek campak rubela (2.241 positif campak dan 906 positif rubela. Pada tahun berikutnya, tercatat 13.890 kasus suspek campak rubella dengan 1.194 jiwa positif campak dan 1.474 positif rubella.

Pada 2016, angkanya sedikit menurun dengan hanya tercatat 12.730 kasus suspek campak rubela yang tercatat dengan 2.949 positif campak dan 1341 positif rubella. Di tahun 2017 , kasus ini tercatat kembali naik menjadi 15.104 kasus. 383 kasus positif campak dan 732 positif rubela.

Vaksin MR yang merupakan merupakan kombinasi vaksin campak atau Measles (M) dan Rubella (R). Vaksin MR (vaksin campak dan rubella) diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit yang disebabkan oleh virus campak dan rubella (campak jerman).

Program vaksin MR menjadi prioritas Pemerintah Indonesia sebagai wujud upaya pengendalian campak dan rubella, lantaran bahaya komplikasinya yang berat dan mematikan. Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM), Majelis Ulama Indonesia (MUI),bahan haram penyusun vaksin Measles Rubella (MR), produk Serum Institute of India (SII). 

Berdasarkan kajian yang dilakukan terhadap Vaksin MR, kami menemukan gelatin yang berasal dari kulit babi, kemudian enzim tripsin dari pankreas babi, kemudian lactalbumin hydrolysate yang dalam prosesnya ada kemungkinan besar bersinggungan dengan bahan dari babi, dan human diploid cell dari sel tubuh manusia.

 Proses pemeriksaan vaksin MR ini baru tahap kajian awal dan belum masuk pada proses sertifikasi halal. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am Soleh mengatakan, vaksin non halal sebenarnya pernah digunakan dan diperbolehkan untuk imunisasi di Indonesia 16 tahun silam. Fatwa tersebut muncul dikarenakan adanya kedaruratan pada masa itu. 

Sebenarnya hal seperti ini bukan hal baru. Fatwa dibolehkannya penggunaan imunisasi polio (nonhalal) itu pernah dua kali, tahun 2002 dan tahun 2005. Pada 2002,  telah dilakukan pemeriksaan pada vaksin polio dan terkonfirmasi ada unsur nonhalal dalam vaksin tersebut. Namun, vaksin itu tetap digunakan untuk imunisasi karena adanya suatu kedaruratan. 

Akan tetapi karena ada kebutuhan mendesak, maka pada saat itu vaksin untuk kepentingan imunisasi polio dengan komposisi yang ada unsur haram dan najis itu dibolehkan untuk digunakan, karena ada kebutuhan yang bersifat syar'i. Dia menuturkan, MUI akan menerbitkan fatwa kehalalan vaksin MR setelah LPPOM MUI mendapatkan dokumen terkait dengan komponen vaksin dan menguji kandungannya.

Jika kemudian dalam vaksin MR memang benar terdapat unsur nonhalal, vaksin tersebut tetap bisa digunakan dengan catatan tidak ada alternatif lain tidak ada vaksin sejenis yang halal atau suci; bahaya yang ditimbulkan jika tidak divaksinasi sudah sangat mendesak, dan; ada penjelasan dari pihak yang memiliki kompetensi terkait dengan bahaya itu. 

Ni’am menerangkan, hukum imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit yang sebelumnya ditetapkan boleh dalam Fatwa MUI Nomor 4 Tahun 2016, bisa berubah menjadi wajib dalam kondisi tertentu. Kalau imunisasi sebagai salah satu mekanisme untuk pencegahan penyakit yang jika tidak dilakukan imunisasi akan menyebabkan bahaya secara kolektif, maka imunisasi yang asal hukumnya boleh, bisa bergerak menjadi wajib.

MUI kemudian menimbang apakah vaksin yang haram itu bisa digunakan, dengan melihat kondisi yang ada. Kemudian, Komisi Fatwa mengumpulkan informasi, meminta keterangan kepada pihak terkait, misalnya, apakah tidak ada alternatf lain selain menggunakan vaksin yang haram ini.

Ternyata, hanya ada tiga negara yang memproduksi vaksin MR di dunia, yakni Jepang, Cina dan India. Produksi Jepang yang hanya untuk memenuhi kebutuhan produksi domestik. Sementara, produksi vaksin dari Cina belum lolos uji keamanan, sehingga tidak direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). 

Adapun produksi vaksin MR dari India sudah digunakan oleh 150 negara di dunia, Indonesia salah satunya. dampak dari penyakit rubella harus diwaspadai. Selama lima tahun terakhir, terhitung ada sekitar 55.000 kasus MR. Vaksin MR yang digunakan di Indonesia merupakan produksi India dan diimpor oleh perusahaan kesehatan Biofarma

Baca Juga: Kutu dan Vaksin

Namun, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter Aman Bhakti Pulungan menganggap fatwa ini kontroduktif dengan upaya Kementerian Kesehatan yang sedang melaksanakan program imunisasi masal terhadap anak-anak di luar Jawa.Penyakit campak sempat mewabah di Papua tahun lalu, menyebabkan ratusan orang meninggal Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk kedua penyakit ini. 

Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus. Tahun ini, rencananya sejumlah 35 juta anak akan diberi imunisasi MR Betapapun, Kementerian Kesehatan bersikukuh tetap melaksanakan program nasional imunisasi untuk mengendalikan penyakit rubella serta kecacatan bawaan akibat rubella ditengah polemik vaksin MR yang terus berlanjut.

Kementrian kesehatan sebagai pelaksana tetap melaksanakan program nasional imunisasi untuk anak-anak Indonesia di masa yang akan datang, mengacu pada sudah mendapat izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Tahun ini, rencananya sejumlah 35.000 anak akan diberi imunisasi MR. Pemberian imunisasi MR ditargetkan mencapai cakupan minimal 95%.Target itu dimaksudkan agar eliminasi campak dan pengendalian rubella dapat terwujud pada 2020.