Setelah merampungkan uraian mengenai ta’rif beserta kaidah, syarat, dan contoh-contohnya, biasanya beberapa buku mantik populer menyertakan satu pembahasan khusus mengenai apa yang mereka sebut sebagai allâmu’arrafât, yakni beberapa hal yang tidak bisa didefinisikan.

Mereka mengakui bahwa kendati definisi itu berperan penting dalam menyingkap esensi sesuatu—yang dengan penyingkapan esensi tersebut kita bisa membedakan sesuatu itu dengan sesuatu yang lain—tapi kita juga tak bisa menolak adanya beberapa hal yang tak bisa didefinisikan, atau tak perlu didefiniskan, melalui rumusan-rumusan yang telah mereka bakukan itu.

‘Ali Sami al-Nassyar, dalam buku tebalnya yang ia beri judul al-Manthiq al-Shûri; mundzu Aristhu ila ‘ushûrina al-Hâdhirah menyebut tiga poin utama terkait hal-hal yang tidak bisa didefinisikan itu. Tiga poin yang dimaksud ialah sebagai berikut:

Pertama, hal-hal yang berkaitan secara langsung dengan pancaindera, baik itu berupa sensasi (ihsâs), maupun berupa emosi (‘âthifah). Contoh sederhana: Ada orang misalnya menyuguhkan segelas air minum kepada Anda di saat Anda berada dalam puncak kehausan.

Setelah meminum air itu Anda merasakan kenikmatan tiada tara. Lalu Anda diminta untuk mendefinisikan sensasi nikmat tersebut. Pertanyaannya: Bisakah rasa nikmat itu didefinisikan dengan rumusan-rumusan ilmu logika? Tentu saja sulit—kalau enggan berkata tidak bisa.

Bahkan, kalaupun bisa, sejauh menyangkut rasa, orang pasti akan mengekspresikannya dengan ungkapan yang berbeda-berbeda. Rasa haus, mules, kenyang, lapar, pusing, senang, galau, dan yang sejenisnya itu tidak akan bisa didefinisikan. Karena di sana tidak ada standar objektif yang bisa kita jadikan sebagai acuan.

Begitu juga halnya dengan rasa cinta. Itu sebabnya kita sering mendengar ungkapan bahwa cinta itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kalau dilukiskan saja sulit, apalagi didefinisikan dengan standar ilmu logika.

Karena cinta berkaitan dengan rasa. Sejauh menyangkut rasa, orang pasti akan memiliki tafsiran yang beragam dan berbeda-beda. Karena itu tidak relevan bagi kita untuk mendefinisikan hal-hal semacam itu dengan kaidah standar yang dibakukan dalam ilmu logika.

Meskipun nanti ada sebagian logikawan yang mencoba untuk mendefinisikan hal-hal semacam itu dengan ta’rif birrasm (descriptive definition/definisi deskriptif), yakni definisi yang menyertakan jins (genus) dan khasshah (proper accident).

Tetapi pada akhirnya tetap saja. Sejauh menyangkut emosi dan sensasi, kita akan sulit—kalau enggan berkata tak mampu—untuk menangkap esensinya secara utuh.

Sedangkan penangkapan esensi utuh sesuatu itu, seperti yang kita tahu, hanya bisa ditempuh dengan ta’rif bilhadd (analytic definition/definisi analitik), bukan ta’rif birrasm.

Kedua, apa yang disebut sebagai maqulat (categories). Terkait jumlah kategori ini para logikawan sendiri berbeda pendapat. Namun, kategori yang sering dijadikan acuan oleh para logikawan Muslim pada umumnya ialah maqulat yang dikonsepsikan oleh Aristoteles, yang jumlahnya ada sepuluh. Dari sini muncullah kemudian apa yang dikenal dengan istilah maqulat ‘asyrah (sepuluh kategori) yang terdiri dari satu subtansi dan sembilan aksiden.

Sembilan aksiden yang dimaksud ialah: [1] Quantity (al-Kamm). [2] Quality (al-Kaif). [3] Relation (al-Idhafah). [4] Place (al-Ain). [5] Time (al-Mata). [6] Position (al-Wadh’). [7] Property (al-Milk). [8] Activity (al-Fi’il). [9] Passivity (al-Infi’al). Dan satu lagi adalah subtansi (substance), atau yang dalam bahasa Arab sering disebut sebagai jauhar. Uraian mengenai kategori-kategori ini tentu membutuhkan tulisan secara terpisah.

Kategori-kategori itu, singkatnya, ialah gambaran atau deksripsi-deskripsi umum tentang wujud. Bahwa wujud yang ada di sekeliling itu, kalau mau dianalisis dan diperinci hanya akan terbelah kedalam dua kategori saja: kategori pertama disebut sebagai jauhar (substance), dan kategori kedua disebut sebagai ‘aradh (accident).

Substansi itu yang berdiri sendiri (qâma binafsihi/tahayyaza binafsihi), sementara aksiden ialah sesuatu yang menyertai subtansi itu sehingga ia tidak berdiri sendiri (lâ yaqûmu binafsihi/tahayyaza bitahayuzi ghairihi). Dan keduanya saling terkait satu sama lain (mutalâzimân).

Contoh sederhana: Nissa Sabyan itu jauhar. Tapi suara, warna kulit, berat badan, tinggi badan, gerak tubuhnya, karakternya, hubungannya dengan manusia yang lain, waktu yang menyertainya, tempat dia berada, dan hal-hal lain yang menyertainya itu disebut sebagai ‘aradh (aksiden).

Dalam bangunan pohon phorpyrius, jauhar atau substansi itu sering juga disebut sebagai jinsul ajnâs (summa genus). Karena di atasnya tidak ada genus lagi. Tapi dia menaungi beberapa genus, seperti yang pernah kita pelajari sebelumnya.  

Nah, sekarang misalnya bisa tidak kita mendefiniskan jauhar—sebagai jins tertinggi itu—dengan definisi yang mengacu pada rumusan ilmu logika? Tentu saja sulit. Karena ketika kita ingin mendefinisikan sesuatu maka kita harus menentukan terlebih dahulu jins dari sesuatu itu. Sementara jauhar tidak memiliki jins. Karena itu tidak mungkin ia didefinisikan dengan kaidah-kaidah yang dibakukan dalam ilmu logika itu.

Harus diingat bahwa yang disebut sebagai maqûlât ‘asyrah ini hanya salah satu saja dari sekian banyak konsepsi yang diperkenalkan oleh para filsuf. Artinya di sana ada kategori-kategori lain selain yang diperkenalkan oleh Aristoteles. Yang penting untuk kita jadikan catatan sekarang ialah: genus-genus tertinggi (al-Ajnâs al-‘Ulyâ) itu tidak bisa didefinisikan dengan rumusan ilmu logika.

Mengapa? Karena, sekali lagi, kalau kita ingin mendefinisikannya maka dia membutuhkan genus lagi, sementara kita tahu bahwa kategori-kategori itu tidak memiliki genus. Tapi yang ada justru merekalah yang menaungi genus-genus lain yang berada dalam cakupannya itu.

Ketiga, individu-individu. Aristoteles—sebagaimana dikutip Nassyar—berpandangan bahwa individu-individu—atau yang diistilahkan dengan juziyyât haqîqiyyah—itu tak memiliki perbedaan yang esensial sehingga ia juga tidak perlu didefinisikan dengan rumusan-rumusan yang dibakukan dalam ilmu logika.

Yang membedakan antara satu individu dengan individu yang lain hanyalah identitas (huwiyyah/identity). Sementara esensinya (mahiyyah/essence) tetap sama, yaitu sebagai manusia.

Karena itu, untuk mengenali suatu individu tertentu kita tidak butuh dengan rumusan ta’rif seperti yang dibakukan dalam ilmu logika itu. Cukup dengan mengenali identitasnya suatu individu sudah bisa dibedakan dengan individu-individu yang lainnya.

Misalnya kita ingin mengenal Nissa Sabyan. Untuk mengenal Nissa Sabyan kita tidak perlu mengajukan pertanyaan “apa itu definisi Nissa Sabyan?”, karena baik Sabyan, saya, maupun Anda, kita semua direkatkan oleh satu esensi yang sama, yakni sebagai manusia.

Yang membedakan kita hanyalah identitasnya, bukan hakikatnya. Karena itu, individu bisa dikenal melalui identitas, bukan melalui definisi yang mengharuskan ada jins, fashl, khasshah, dan unsur-unsur lainnya.

Itulah tiga hal yang tidak bisa didefiniskan dengan kaidah-kaidah standar yang sudah kita pelajari sebelumnya. Adanya hal-hal yang tidak bisa didefinisikan itu tentu tidak mengurangi pentingnya sebuah definisi.

Definisi itu tetap penting. Hanya saja kita perlu tahu bahwa di luar sana ada juga hal-hal yang tidak bisa, atau bahkan tidak perlu untuk didefinisikan.