Beberapa bulan lagi,tepatnya pada April mendatang, seluruh siswa SMA Indonesia akan menghadapi UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer. Ujian tersebut adalah ujian terakhir yang akan dihadapi murid tersebut, dan sudah pasti membuat mereka takut. Tetapi sebelum diubahnya menjadi UNBK, ada yang namanya UN atau Ujian Nasional.

Apa sih sebenarnya tujuan dari diadakannya ujian tersebut? Menurut artikel yang saya baca dari beberapa artikel, ujian nasional adalah alat ukur standar mutu pendidikan di Indonesia. Tetapi hal itu menurut saya tidak benar karena ujung-ujungnya para peserta banyak yang menyontek sehingga mutu yang kelihatan baik tersebut sebenarnya salah.

Seiring perkembangan zaman, Ujian Nasional tersebut berubah dan berganti menjadi UNBK. Perubahan sistem ujian tersebut menjadi berbasis komputer yang kurang lebih terjadi sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu dikarenakan beberapa hal.

Dari Perubahan tersebut, ada hal positif dan juga negatif yang kita terima.

Yang pertama dari segi positif adalah agar lebih modern. Dalam hal ini maksudnya lebih modern adalah agar cara pemeriksaan hasil ujian tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan juga otomatis. Dibandingkan menggunakan kertas yang memiliki kemungkinan untuk robek ketika dibawa, menggunakan komputer lebih praktis dan juga efisien.

Kedua, berhubungan dengan yang pertama adalah kita dapat menghemat penggunaan kertas. Jika kita hitung, jumlah kertas yang digunakan untuk membuat kertas soal dan jawaban sangatlah banyak dan juga setelah dipakai akan menjadi sampah. Memang kertas tersebut dapat didaur ulang, tetapi hal tersebut memakan waktu dan biaya sehingga tidak efisien.

Yang ketiga adalah dapat mengurangi kecurangan. Mengapa demikian? Karena dengan menggunakan komputer, soal yang diterima setiap murid akan berbeda-beda (diacak) dan kemungkinan teracaknya sangat besar dibandingkan dengan menggunakan kertas yang hanya diacak empat atau lima paket soal saja yang membuat kemungkinan menyontek lebih besar.

Tetapi dari segala macam keuntungan yang didapat, ada juga hal negatif yang diterima dari perubahaan sistem tersebut menjadi berbasis komputer. Yang pertama adalah masalah koneksi internet.

Di beberapa sekolah yang sudah siap internet pasti tidak masalah. Tetapi bagi sekolah yang tidak memiliki internet, hal ini tentu menjadi masalah, terutama yang di daerah terpencil.

Karena sistem tersebut tersambung internet, jika suatu saat koneksi tersebut terganggu atau terputus, maka hilanglah data-data atau jawaban-jawaban yang sudah dijawab oleh peserta ujian tersebut dan juga mereka harus mengulang mengerjakan ujia yang ujung-ujungnya akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan kertas yang lebih mudah dan efisien.

Berkaitan dengan hal tersebut, masalah yang kedua adalah listrik. Seperti internet, jika sampai suatu saat tiba-tiba listrik terputus, apa yang harus dilakukan? 

Sekolah yang akan melaksanakan UNBK harus memiliki alternatif atau cadangan seperti genset atau UPS agar komputer tidak mati begitu saja sehingga data-data tersebut tidak terhapus.

Dibandingkan dengan membeli komputer, saya lebih memilih menggunakan laptop, terutama pada saat UNBK agar masalah listrik tersebut tidak terjadi. Dan juga masalah lain dari menggunakan komputer tersebut adalah gangguan atau bug pada program atau aplikasi ujian tersebut. Kesalahan ini tidak dapat dihindari dan memang bukan salah kita melainkan program.

Selain dari komputer, ada juga masalah dari kita sendiri. Dalam hal ini yang saya maksud adalah ketidakpahaman kita terhadap menggunakan komputer atau gaptek. 

Sebagian besar dari kita paham dan juga mengerti cara mengoprasikan komputer secara basic, tetapi tidak semua dari kita mengerti dan paham sehingga hal tersebut juga merupakan kendala dari menggunakan UNBK.

Ada juga masalah lokasi seperti yang saya katakan tadi. Jika suatu sekolah memiliki lokasi yang terpencil atau jauh dari peradaban modern, mereka pasti akan kesusahan untuk mengikuti perkembangan zaman tersebut sehingga mereka tidak dapat menggunakan sistem yang baru dan terpaksa menggunakan sistem yang lama, yaitu menggunakan kertas.

Lalu apa yang harus dilakukan bagi para peserta dan sekolah yang akan menghadapi UNBK tersebut? Berikut apa yang perlu dilakukan oleh para peserta sekolah.

Yang pertama adalah belajar. Sudah pasti kalau mau bisa menjawab soal tersebut, ya harus belajar. Tetapi belajarlah dengan cerdas, maksudnya juga memerhatikan kesehatan bukan hanya pelajaran.

Yang kedua adalah melakukan refreshing agar otak tidak stres. 

Refreshing dapat dilakukan sekali-sekali terutama jika sudah merasa tidak enak ketika belajar. Percuma kita belajar dengan keadaan yang stres dan tertekan karena dalam keadaan tersebut pasti hal kita pelajari atau baca ujung-ujungnya tidak akan diingat dan hanya menambah beban diri kita saja.

Yang ketiga bagi para sekolah adalah kurangi tugas-tugas terutama yang tidak penting. Mengapa? Karena jika diberikan tugas secara terus-menerus, kapan murid akan mendapat kesempatan belajar? 

Mungkin sekolah memiliki pemikiran tugas tersebut akan membantu kita dalam belajar tetapi sebenarnya tidak yang ujung-ujungnya membuat kita lebih malas belajar.

Dan yang terakhir adalah UNBK tersebut dibawa dengan santai saja. Ketika kita tegang dan takut dalam melaksanakan ujian, hal tersebut hanya akan menjadi beban pikiran yang membuat kita lebih sulit untuk mengingat apa yang telah dipelajari. Terutama Ujian tersebut bukanlah seratus persen hasil penentuan kelulusan kita semua.

Dengan begitu, bagi kita semua yang akan menghadapi ujian tersebut (termasuk saya) hadapi saja ujian tersebut dengan santai, tetapi bukan berarti tidak belajar sama sekali, melainkan nikmati pengalaman tersebut karena ujian tersebut adalah ujian terakhir kita semua di SMA dan juga ujian terakhir yang kita hadapi (mengenai pengetahuan yang tidak penting).