Mimbar ceramah saat ini tak lagi melulu diisi pengajian yang membahas ikhwal ilmu agama. Belakangan, panggung tausyiah justru dianggap sebagai set yang paling tepat untuk menyampaikan pesan politik yang kadang melenceng ke ujaran kebencian.

Beberapa hari lalu, muncul video ceramah Habib Bahar bin Smith. Saya tak tahu di mana dan kapan video ceramah itu diambil. Saya sedikit banyak tahu gaya ceramah Habib Bahar. Penuh semangat, berapi-api, dan jujur saya salut, kekuatan vokalnya.

Saya juga tahu afiliasi Habib Bahar soal politik. Ia merupakan salah satu ulama (saya memang tetap menganggap beliau ulama) yang berada pada barisan yang menginginkan Presiden Joko Widodo diganti. Sehingga bagi saya, tak terlalu mengherankan bila isi ceramah Habib Bahar beberapa kali bertemakan ganti presiden.

Setidaknya ada dua video ceramah Habib Bahar yang agak melekat di benak saya. Dua video itu pada pokoknya sama, ganti presiden. Video pertama, Habib Bahar menghujat Presiden Jokowi yang disebutnya anti-Islam. Ia pun menyatakan, meski saat ini cawapres Jokowi adalah kiai, namun baginya "haram" memilih Jokowi. Bahkan dia menambahkan, sekali pun cawapres Jokowi malaikat, tetap anti untuk dipilih.

Di video itu, meski agak terasa menyakitkan bagi saya, karena saya amat menghormati KH. Ma'ruf Amin. Namun, saya belum terlalu tergerak untuk menulis tanggapan. Bagi saya, ucapan-ucapan Habib Bahar kepada Yai Ma'ruf cenderung tidak sopan. Akan tetapi, ya sudahlah, memang gaya ceramahnya demikian.

Setelahnya, saya dapat video Habib Bahar yang cukup viral karena dibagikan oleh beberapa akun dan fanpage. Isinya hampir sama, tapi yang ini lebih kasar dan mengarah pada upaya merendahkan harkat dan martabat manusia. Saya jadi merasa, bagaimana bisa seorang Habib memiliki kebencian yang begitu dalam?

Dalam video itu, Habib Bahar berkata: Kalau kalian ketemu Jokowi, coba buka celananya, jangan-jangan sedang haid dia. Presiden Jokowi tak selalu benar tapi juga tak selalu salah. Serusak-rusaknya kinerja Pak Jokowi, ia sudah merelakan waktunya untuk kemaslahatan orang banyak. Dan menurut saya, itu pahala yang besar bagi Pak Jokowi.

Lalu, apa pantas mimbar ceramah dijadikan media untuk menghujat, menjelek-jelekkan orang? Bila apa yang dituduhkan tidak benar, misal tuduhan anti-Islam, maka itu fitnah. Bila tuduhan benar, misal pembohong janji kampanye, bukankah itu ghibah?

Atau, apakah pantas seorang Habib membuka aib seseorang kepada umum? Pantaskah seorang berilmu, pemuka agama, merendahkan kehormatan seseorang yang notabene seorang pemimpin yang sah dan beragama Islam pula? Apa metode dakwah sudah bertransformasi menjadi ghibah?

Entah kebetulan atau tidak, tak berselang lama usai menonton video Habib Bahar, saya mendapati video ceramah Ustad Adi Hidayat. Saya tak tahu kapan dan di mana Ustaz Adi ceramah. Namun, tampak Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berada di samping Ustaz Adi. 

Saya juga tak bisa memastikan apakah ceramah Ustaz Adi ada hubungannya atau tidak dengan ceramah Habib Bahar. Namun, esensi yang disampaikan Ustaz Adi, menurut saya, relevan.

Ustaz Adi mengatakan, Firaun yang seorang manusia paling zalim di muka bumi, bahkan mengaku sebagai tuhan, namun oleh Allah tetap diberi jalan untuk mendapat hidayah. Hari ini, kata Ustaz Adi, paling bantar orang mengaku nabi. Tapi Firaun mengaku tuhan. Ana rabbukumul a'la, kata Firaun.

Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun. Allah memerintahkan Musa dan Harun bersikap lemah-lembut kepada Firaun. Padahal Firaun, hobinya saja membunuh. Bayi yang baru lahir, dibunuh Firaun di hadapan ibunya. Namun Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun bertutur lembut dan mengutamakan kasih.

Tausyiah Ustaz Adi kemudian mengingatkan saya dengan cermah KH. Afif Afifi, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Hikmah, Sukadiri, Tangerang. Beliau mengatakan, Nabi Musa sempat ragu dengan perintah Allah untuk bersikap lemah lembut. Nabi Musa waswas karena akan menghadapi orang yang memiliki kuasa dan mengaku tuhan, disuruh lemah-lembut pula. Kemudian Allah memberi Nabi Musa wiridan atau doa, yaitu:

Rabbish rahli sadri. Wayassirli amri. Wahlul uqdatam millisani. Yafqahu qauli (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku) QS. Thaahaa 25-28. Itu doa Nabi Musa atau wiridan Nabi Musa ketika akan menghadapi seorang pemimpin zalim yang mengaku Tuhan.

Perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, baik yang disampaikan oleh Ustaz Adi maupun KH. Afif, memiliki dimensi konsep dakwah dengan kearifan. Konsep dakwah itu ud’u ilaa sabiili rabbika bialhikmah (ajakan dengan penuh kearifan).

Lengkapnya, waalmaw’izhati alhasanati wajaadilhum biallatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wahuwa a’lamu bialmuhtadiina (Serulah {manusia} kepada jalan Tuhanmu dengan Al-Hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) QS. An-Nahl 125.

Let's say Pak Jokowi zalim. Apa parameternya? Apakah Pak Jokowi memerintahkan jajarannya, alat negara, untuk melarang umat Islam beribadah? Apakah Pak Jokowi memerintahkan agar bayi-bayi dibunuh? Apakah Pak Jokowi mengaku nabi, mengaku sebagai tuhan? Tidak!

Pak Jokowi pernah berbuat salah, iya karena dia manusia. Pak Jokowi dianggap pembohong, mungkin iya (karena bagi saya tidak). Tapi apa harus sesadis itu bahasa untuk mengingatkan seorang pemimpin? Musykil bahkan menurut saya mustahil Pak Jokowi tak memiliki jasa pada masyarakat. Penetapan Hari Santri Nasional, Kartu Indonesia Pintar/Sehat, Program Keluarga Harapan, Dana Desa, pembangunan infrastruktur, dan lainnya.

Belum memuaskan, iya bisa jadi. Belum membuat rakyat makmur dan sejahtera, oke mungkin saja. Tapi apakah harus sebenci dan sekasar itu bahasanya? Sampai, kalau pun Pak Jokowi memilih malaikat sebagai cawapres, tetap "haram" untuk dipilih? Itu dakwah ceramah apa kampanye? Bahkan kampanye saja tak boleh seperti itu, Bib.

Kembali ke ceramah Ustaz Adi. Usai menceritakan Nabi Musa, Nabi Harun, dan Firaun. Ustaz Adi berkata: Anda itu nabi bukan, rasul juga bukan. Anda tak sesoleh Musa, tidak sebaik Harun. Anda berdakwah kepada orang yang bukan Firaun. Kenapa anda mesti berkata kasar?