Jika politik Indonesia 5 tahun ini hanya tentang pro-Jokowi vs anti-Jokowi serta pro-Ahok vs anti-Ahok, maka pro-Jokowi dan pro-Ahok beberapa bulan ini mungkin sedang ketawa-ketiwi melihat perilaku kubu lawan yang selama ini melawan mereka.

Ada sebuah kalimat viral dalam surat Ahok dari Mako Brimob yang sering diingatkan kembali oleh para pendukung Ahok akhir-akhir ini, yakni Gusti ora sare.

Gusti ora sare dapat diartikan bahwa Allah tidak tidur bagi mereka umat-Nya, bagi mereka yang meminta, bagi mereka yang mencari keadilan. Atau juga bisa dimaknai Allah tidak akan tidur untuk membalas mereka yang telah menzalami orang lain. Pendapat terakhir muncul akibat kegaduhan politik sejak Pilkada DKI kemarin yang membuat masyarakat terbelah, sehingga apa yang terjadi pada kubu anti-Ahok dan juga anti-Jokowi diartikan sebagai "karma" bagi mereka.

Ingat saat para anti-Ahok meyakini bahwa potongan video yang di-upload Buni Yani di media sosial sudah membuktikan Ahok sebagai penista agama tanpa harus menonton video pidato Ahok secara utuh? Kemudian saat ini, siklus itu berubah. Saat Prabowo dianggap menghina "wajah Boyolali", maka admin twitter Gerindra meminta warganet untuk menonton video pidato Prabowo secara utuh, bukan potongannya saja.

Ingat saat Fadli Zon berlogika jika Ahok meminta maaf berarti Ahok mengakui kesalahannya sehingga proses hukum harus tetap berjalan? Lalu siklus berbalik saat Prabowo meminta maaf untuk kasus hoaks Ratna Sarumpaet dan "wajah Boyolali", tapi mereka marah ketika proses hukum dilanjutkan.

Ingat saat mereka marah karena Banser dituduh membakar bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid, dan mereka menyangkal kalau itu bendera HTI? Namun saat ini mereka seolah menyangkal Rizieq Shihab telah menempel bendera bertuliskan kalimat Tauhid di dinding rumah RS di Arab Saudi yang berbuntut pada proses hukum yang harus dihadapi RS karena diduga bendera tersebut adalah bendera organisasi terorisme ataupun organisasi terlarang di Arab Saudi.

Banyak kelompok pro-Ahok berpendapat, inilah pembalasan bagi mereka yang telah "bersekongkol" memenjarakan Ahok. Mulut mereka yang mengeluarkan suara lantang, mendadak mingkem ketika siklus itu berbalik pada mereka.

Kubu pro-Ahok percaya, semua akan indah pada waktunya. Definisi indah mungkin saat melihat para lawan menjadi ompong dan kehilangan taringnya. Kemudian para anti-Ahok tersebut seolah menjilat ludah mereka sendiri.

Apakah itu makna semua akan indah pada waktunya? Apakah itu makna yang diharapkan Ahok dari kalimat Gusti ora sare?

Saya yakin bukan itu makna yang diharapkan oleh seorang Ahok. Sebagai seorang Kristen taat, saya yakin Ahok akan selalu mengingat perintah Yesus untuk membalas kejahatan dengan kebaikan serta mendoakan musuh-musuhnya.

Dulu pun saya pernah berpikir dan berpendapat demikian. Namun Gusti ora sare bukan berarti Allah akan melawan musuh kita. Jangan kita memaksa Allah menjadi seperti yang kita inginkan.

Allah tidak tidur merupakan wujud kepasrahan Ahok pada Allah Yang Maha Esa yang ia yakini akan selalu menyertainya, seperti kalimat selanjutnya dalam kutipan surat tersebut: Put your hope in the Lord now and always.