Kiranya hanya orang yang malas mencari informasi saja yang menganggap seorang Gusdur biasa-biasa saja. Bagi kebanyakan orang, terlebih yang pernah mengenalnya secara dekat, Gusdur adalah manusia multi-dimensi nan istimewa.

Gusdur sanggup menjabat dan menjalankan berbagai profesi dalam satu waktu, bahkan hingga akhir hayatnya. Beliau terakui sebagai alim ulama, intelektual, budayawan, negarawan, suami, ayah, kerabat, sahabat, serta guru dengan napak tilas yang mengesankan.

Dalam salah satu episode Kick Andy tahun 2008 yang mengundang Gusdur sebagai satu-satunya bintang tamu, dr. Handoyo yang pernah berperan sebagai “Guspur” (tokoh “kembaran” Gusdur) berkesempatan menyatakan pendapatnya mengenai sosok Gusdur yang menurutnya mampu bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

Berbekal kekagumannya pada Gusdur dan pembacaannya terhadap karya biografi tentang Gusdur, dr. Handoyo “memberanikan diri” menyimpulkan garis besar pemikiran Gusdur yang selalu mencakup tiga aspek secara bersamaan, yaitu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.

Meski tiga prinsip tersebut terlihat sederhana, kebijakan-kebijakan Gusdur yang berlandaskan komitmennya terhadap prinsip tersebut justru beberapa di antaranya dianggap kontroversial. Mengapa? Karena belum banyak massa di zamannya yang sanggup memahami pemikiran revolusioner beliau.

Atau kalau meminjam pernyataan Yenni Wahid, “Gusdur itu ibarat lokomotif kereta Jepang yang sangat super sonic, sementara gerbongnya (masyarakat) itu adalah gerbong kereta kita (Indonesia) saat ini semacam Gayabaru Malam atau Ekspress. Jadi (masyarakat) terseok-seok, tidak bisa mengikuti.”

Dan dari sekian banyak gagasan Gusdur yang teranggap kontroversial namun sejatinya mencerminkan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan sekaligus, secara pribadi saya terkagum-kagum pada niatan beliau untuk mengadakan rekonsiliasi bagi para penyintas tragedi 1965 dengan upaya menghapus TAP MPR/Tahun 1966.

Di masa pasca reformasi yang masih bergejolak waktu itu, seorang Gusdur telah memiliki pemikiran jauh ke depan akan kemajuan sebuah bangsa yang dimulai dengan “mengobati luka”, di saat lebih banyak orang terlena dengan kuasa maupun mitos Orba. Hemat saya, elaborasi singkat dari tiga nilai yang termaktup dalam gagasan rekonsiliasi beliau adalah sebagai berikut:

Beliau mengamalkan benar keislamannya dengan menaati firman Allah dalam Al-Qur’an sekaligus meneladani sifat Nabi Muhammad saw., yang mengedepankan kebesaran hati untuk meminta maaf serta memaafkan.

Beliau menjiwai keindonesiaannya dengan berupaya meluruskan sejarah kelam negerinya agar para pelakunya mendapatkan ganjaran sosial, masyarakat penyintas dapat dipulihkan hak dan nama baiknya, serta masyarakat Indonesia yang lainnya dapat mengambil pelajaran dari sejarah yang sebenar-benarnya untuk menggiring Indonesia ke masa depan yang lebih baik.

Serta beliau menjunjung tinggi peri-kemanusiaan dengan bersikap adil dalam memandang peristiwa ’65, tidak melulu menyalahkan satu pihak.

Meski beliau adalah seorang Kiai NU, Gusdur mampu berempati terhadap korban-korban ’65 yang “tertuduh” PKI karena Gusdur tahu bahwa penghukuman terhadap mereka tidak selayaknya menodai esensi kemanusiaan seperti yang memang terjadi. Sejarah pun mencatat bahwa Gusdur jugalah yang merupakan tokoh pertama dalam pemunculan ide rekonsiliasi tragedi ’65, bahkan saat beliau menjadi orang nomor satu di Republik ini.

Meski ia dikelilingi tokoh-tokoh “warisan” Orba maupun menjadi orang penting dalam kelembagaan NU--yang diriwayatkan pernah bersiteru dengan PKI, Gusdur mampu mengutamakan suara nuraninya untuk menegakkan keadilan bagi setiap golongan dengan melunturkan batas-batas perbedaan dan kepentingan.

Beliau berani karena benar dan tidak haus kekuasaan. Tidak banyak orang yang berjiwa seperti ini dan Indonesia patut bangga pernah memilikinya.

Lalu, beranikah kita untuk juga dibanggakan Indonesia?