Budayawan Emha Ainun Najib pernah menuliskan tentang Gus Dur di bukunya Kagum pada Orang Indonesia.

“Dipimpin oleh orang seperti Gus Dur saja, Indonesia bisa maju, memang ia tak bisa melihat dengan mata, tetapi mata batinnya tak pernah tidur.”

Penilaian Emha tentang Gus Dur tak jauh berbeda dengan penilaian banyak orang. Meski kita tahu, di masa awal-awal kepemimpinan Gus Dur, banyak orang merasa tak percaya dan heran dipimpin oleh seorang yang tak sempurna secara penglihatan.

Selama kepemimpinan Gus Dur, banyak yang merasakan dampak kepemimpinannya sampai saat ini. Meski hanya dipimpin kurang dari dua tahun, patut diakui kepemimpinan Gus Dur memberi banyak manfaat bagi bangsa ini.

Bisa jadi jauh lebih besar dibandingkan dengan presiden lain yang dianugerahi fisik lebih sempurna, meski pada akhirnya di tengah jalan ia dipaksa meninggalkan kursi kepresidenan dengan alasan politis yang  dicari-cari. Demikian tulis salah seorang staf kepresidenan Priyo Sambadha dalam bukunya Presiden Gus Dur, The Untold Stories, Kiai di Istana Rakyat (2014).

Semasa kepemimpinannya, banyak catatan sejarah yang ia torehkan. Ia adalah presiden pertama yang mempelopori wacana rekonsiliasi yang di masa itu dianggap sebagai langkah yang berani. Hal ini yang membuat orang-orang korban tragedi 65 kemudian menjadi merasa aman di bawah kepemimpinannya.

Gus Dur juga memberi hawa teduh dan sejuk dalam kehidupan beragama di negeri ini. Di masa kepemimpinannya, Gus Dur diakui semakin mempererat hubungan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Hingga kini, ia diakui membawa angin segar bagi kaum Tionghoa yang selama 32 tahun lebih merasakan diskriminasi dan perlakuan tak adil dari negara.

Lan Fang, sebagai sastrawan keturunan Tionghoa dan tentu saja kaum Tionghoa di Indonesia merasakan perubahan yang signifikan dalam kehidupan beragama di Indonesia. Bila sebelumnya Imlek cenderung dirayakan di rumah masing-masing, tetapi, setelah masa kepemimpinan Gus Dur, Imlek menjadi begitu meriah, semeriah Idul Fitri.

Kini, kita tahu, Imlek justru berpadu dengan kultur daerah masing-masing, bahkan menjadi daya tarik yang memikat banyak wisatawan seperti di Solo, Semarang, Jakarta, dan kota besar lainnya. Penuturan Lan Fang ini ada di bukunya Imlek tanpa Gus Dur. Di buku itu, kita merasakan ada kerinduan sosok bapak seperti Gus Dur yang mengayomi dan memberikan keteduhan bagi semua.

Di masa heboh-hebohnya panggung dangdut Indonesia, Gus Dur pun menjadi sandaran bagi Inul Daratista yang di waktu itu heboh dengan goyang inulnya. Singkatnya, Gus Dur seperti bapak, kiai, panutan, dan guru bangsa yang dirindukan banyak orang setelah ia tiada. Bahkan, Gus Dur sendiri pun sampai mengatakan:

“Dalam tujuan, saya sama dengan gereja, yaitu melayani kemanusiaan, meskipun berbeda keyakinan.”

Ada kisah menarik yang dituturkan oleh Priyo Sambadha semasa ia menemani Gus Dur di masa kepemimpinannya. Priyo sendiri merasa heran, sebab selama ia menjadi staf kepresidenan di istana selama 14 tahun, ia merasakan ada perbedaan yang begitu drastis tatkala ia menemani Gus Dur.

Pernah ketika Gus Dur hendak menjalani sesi pemotretan di istana, ia harus menunggu jasnya disetrika. Anehnya, Gus Dur sendiri justru santai dan tak marah. Priyo menuturkan pengalamannya:

“Saya tak habis pikir bagaimana bisa Presiden tidak mau menggunakan hak prerogatif yang melekat pada dirinya: marah. Saya tidak yakin berapa lama Presiden harus menunggu saat itu. Tapi yang saya ingat, rasanya lama sekali seperti bertahun-tahun. Saya sangat khawatir kejadian ini akan merusak suasana batin Presiden yang pasti akan mempengaruhi hasil foto. Karena saat itu betul-betul sedang memerlukan wajah Presiden yang fresh, tidak cemberut.

Beberapa kali saya melirik Presiden yang duduk ditemani putri Presiden dan Sekretaris Presiden. Saya lega ketika melihat mereka asyik mengobrol ringan, malah sesekali diiringi tawa kecil. Alhamdulillah...”

Kesan yang mendalam yang dirasakan oleh kalangan Istana juga membekas tatkala semua aturan protokoler kepresidenan banyak yang dihapus oleh Gus Dur. Aturan yang ribet dan ruwet yang berkaitan dengan tata cara kepresidenan dirombak oleh Gus Dur. Sehingga semasa kepemimpinannya, ia membutikan benar bahwa istana memang untuk rakyat.

Pernah di waktu Open House, biasanya di masa Presiden sebelumnya, orang-orang yang akan bertemu Presiden diharuskan berpakaian rapi, bersepatu. Hal ini bukan hanya menunjukkan rasa hormat kepada Presiden, tetapi juga karena karpet di Istana selalu dijaga kebersihannya. Di masa Gus Dur, orang bersandal jepit, sampai para tukang becak di dekat Istana pun boleh masuk dengan pakaian seadanya.

Waktu itu, petugas protokol menjelaskan bahwa jika masyarakat yang jumlahnya ribuan itu diizinkan masuk  ke dalam Istana, kemungkinan besar akan merusak karpet Istana. Mendengar alasan itu, Presiden Gus Dur bereaksi keras. Ia meminta agar lokasi jabat tangan berada di dalam Istana Merdeka. Bukan di teras Istana. “Lha, karpet itu kan rakyat yang beli,” tegas Presiden.

Gus Dur sendiri sekeluarga tak pernah berubah dalam sikap hidupnya. Ia tak bersahaja dan sederhana. Selain tak begitu memperhatikan dalam urusan penampilan, Gus Dur sering berdialog dengan rakyat di setiap jumatnya. Gus Dur sendiri juga membuka istana selama hampir seharian penuh. Sehingga sering kali waktu tidurnya begitu sedikit.

Selama di Istana, keluarga Gus Dur juga selalu menampilkan kesederhanaan dan kesahajaannya. Ia dan keluarga tak pernah meminta fasilitas dari negara yang bukan haknya.

Tentu saja hal ini berbeda dengan kondisi pemimpin negara saat ini. Kita tahu, beberapa waktu lalu Fadli Zon, sebagai ketua DPR, meminta kedutaan besar Indonesia di Amerika untuk menjemput anaknya di Amerika dalam acara pribadinya. Setelah menuai protes dari publik, barulah Fadli Zon meminta maaf kepada rakyat dan mengembalikan uang yang digunakan untuk keperluan anaknya.

Selain hadir sebagai sosok pemimpin yang cerdas, Gus Dur juga cenderung menganggap persoalan negara sebagai persoalan yang mesti diselesaikan dengan santai. Hingga orang-orang sering mengenal kalimat populernya, “Gitu aja kok repot”.

Presiden ini memang tak hanya sering melontarkan joke kepada publik. Bahkan, ada kisah, Raja Saudi Arabia yang cenderung jarang tertawa, sampai tersenyum hingga terlihat gigi putihnya. Konon, hal ini membuat media di Saudi heboh membincangkan ini. Gus Dur juga dikenal menguasai bahasa inggris, Arab dengan cukup baik.

Sebagai sosok Kiai yang begitu dihormati di kalangan NU dan juga umat lainnya, Gus Dur memang banyak dibincangkan sebagai wali Allah. Banyak cerita di masyarakat mengenai garis keturunannya yang merujuk kepada keturunan ulama besar dunia seperti Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Pernah mas Priyo Sambadhadengan bahasa kromo inggil (bahasa jawa halus) menanyakan hal ini kepada Gus Dur secara langsung.

"Gus, kathah tiyang ingkang pitados menawi panjenengan meniko Waliallah. Nuwun sewu, menopo leres meniko Gus.... (Gus, banyak orang percaya bahwa Anda itu seorang Wali Allah. Mohon maaf, benarkah itu?”)."

Mendengar pertanyaan saya yang ‘sensitif’ itu, Gus Dur mendadak diam sejenak. Waduh, jangan-jangan telah berani lancang aku ini!

“Sampeyan bener mau tahu, Mas?”, jawab Gus Dur serius.

“Nyuwun duko, inggih Gus....”(maaf, iya Gus.....), jawab saya lirih dan ragu.

Sesaat kemudian, keluar jawaban Gus Dur yang langsung dan to the point. ”Iya, mas, itu bener,” tegas Gus Dur dengan pelan namun mantap. Wajahnya tetap menghadap langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna pucat. Mungkin sepucat wajah saya saat itu. Hening.......

Ya Allah, merinding seluruh badan saya. Dada saya sesaat terasa sesak. Lidah saya kelu. Tiba-tiba Gus Dur menyambung lagi, “Saya memang wali. Wali murid.......!Hehehehe...”

Begitulah Gus Dur, selain suka bercanda, ia juga seorang yang pemikir, kiai, dan guru bangsa yang memiliki sifat-sifat yang bisa dijadikan teladan kita semua. Gus Dur memang telah tiada. Dari kisah yang dituturkan oleh Priyo Sambadha di bukunya Presiden Gus Dur The Untold Stories, kita bisa melihat sosok Gus Dur secara lebih dekat.

Di balik pribadinya sebagai kepala negara, ia menunjukkan sebagai seorang kepala negara yang sederhana, santun dan merasa biasa saja. Ia bukanlah sosok pemimpin negara yang memiliki sifat Aji Mumpung,dan sombong. Tetapi dengan menjadi Presiden, ia justru semakin menunjukkan kepada kita bahwa Presiden itu manusia biasa, yang tak jauh beda dengan kita semua.

Meski kurang dari dua tahun, Gus Dur telah banyak memberi pelajaran kepada kita. Tak hanya pelajaran tentang kepemimpinan, tetapi juga keteladanan dalam hidup.