Maraknya tindak kriminal terhadap guru oleh para siswanya akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Guru yang semestinya menjadi anutan bagi siswa, kini justru dilawan oleh siswanya sendiri. Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada guru yang meninggal karena dianiaya oleh siswanya. Slogan lama yang menyatakan bahwa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru kini sudah tidak ada artinya lagi.

Kita sudah sangat familiar dengan film kartun Tom and Jerry yang sangat kental dengan nuansa permusuhan. Apakah dunia pendidikan dewasa ini sudah seperti cerita dalam film kartun tersebut, di mana guru dan siswanya adalah dua insan dalam satu komunitas yang tidak akan bisa bersahabat? Pertanyaan tersebut terasa sangat menggelitik seiring dengan perkembangan dunia pendidikan kita akhir-akhir ini.

Mungkinkah gejala penganiyaan guru oleh siswa adalah akibat dari tekanan yang diterima siswa dalam kegiatan pembelajaran? Banyak pendapat yang mengiyakan pernyataan tersebut.

Lantas, apa bentuk tekanan yang diterima siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga membuat mereka sangat brutal seperti itu? Pertanyaan-pertanyan seperti itu harus bisa dituntaskan oleh para pengelola dunia pendidikan dewasa ini, agar semua bentuk kekerasan terhadap guru tidak akan terus berlanjut.

Seorang guru memang terkadang memberikan tekanan kepada siswanya selama proses pembelajaran dengan maksud agar siswanya bisa meresapi ilmu yang ingin ditularkannya. Hal itu masih terbilang sangat wajar, karena keinginan sang guru tersebut sangatlah mulia, yaitu agar siswanya menguasai suatu kompetensi yang diinginkan guru. Apakah wajar apabila tekanan ini harus dilawan oleh siswanya dengan tindak kekerasan terhadap guru?

Dalam dunia olahraga, tekanan-tekanan sangatlah lumrah bagi setiap pemain agar mereka menjadi pemain profesional. Hukuman dan sanksi adalah hal yang biasa dan bisa diterima oleh para pemain sebagai sebuah pembelajaran dalam proses menuju tingkat keprofesionalan yang menjanjikan. Namun, hal ini tentu tidak berlaku dalam dunia pendidikan, karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih mencari identitas.

Masalah tersebut juga sebenarnya sangatlah dipahami oleh para guru, sehingga para guru sudah tidak banyak yang menggunakan kekerasan dalam pembelajaran.

Namun demikian, para guru tetap menuntut siswanya untuk bisa menguasai suatu kompetensi sesuai yang dituntut oleh kurikulum yang menjadi dasar kegiatan pembelajaran yang dikelola oleh guru. Tuntutan-tuntutan tersebut tentu saja memiliki konsekuensi logis, seperti dalam pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa.

Para guru saat ini juga sudah diikat dengan peraturan pemerintah yang menuntut seorang guru untuk semakin profesional. Sebut saja, misalnya, peraturan pemerintah tentang standar nasional pendidikan yang menuntut guru untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Namun demikian, dalam pelaksanaan tugasnya, seorang guru juga terkadang memberi tekanan yang cukup membuat siswa merasa tertekan. Seorang guru seakan memaksa siswanya untuk bisa menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. Hal ini bisa dimaklumi karena kemampuan seorang guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran yang benar-benar menginspirasi siswanya untuk menguasai suatu kompetensi tertentu itu berbeda-beda.

Siswa harus bisa memahami semua itu. Sehingga setiap siswa tidak bisa menuntut untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sama dari setiap gurunya. Tetapi, yang harus tertanam pada diri setiap siswa bahwa semua guru memiliki keinginan yang sama, yaitu agar siswanya menjadi pintar.

Adapun perbedaan cara guru dalam mengelola proses pembelajaran tersebut adalah karena adanya perbedaan kemampuan guru. Sehingga tidaklah logis apabila seorang siswa harus melawan tekanan yang diterimanya dalam kegiatan pembelajaran, apalagi sampai bermusuhan dengan gurunya.

Hal yang terpenting dalam upaya menyadarkan siswa dalam memaknai proses pembelajaran yang dijalani siswa di sekolah adalah adanya upaya nyata dari pihak sekolah dan orangtua siswa. Kerja sama kedua pihak sangat penting dan harus segera untuk dimaksimalkan.

Kedua belah pihak sama-sama berperan penting dalam proses pendewasaan siswa. Sehingga jika kerja sama keduanya sangat padu, maka peristiwa-peristiwa seperti yang marak terjadi sekarang tidak akan terulang lagi.

Saat ini juga tidak jarang terjadi adanya orangtua yang menganiayaya guru karena adanya laporan perlakuan kasar yang diterima anaknya di sekolah. Hal ini terjadi karena orangtua belum mampu memahami akan adanya perbedaan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

Para orang tua juga belum memahami sepenuhnya keinginan sang guru yang ada di sekolah. Semua itu terjadi karena belum kompaknya kerja sama antara sekolah dengan orangtua siswa.

Salah satu kebijakan yang harus segera diambil sekolah dalam memaksimalkan kerja sama antara pihak sekolah dengan orangtua siswa adalah dengan mewajibkan seorang guru untuk mengenal lebih orangtua dari semua siswa. Kepala sekolah harus memberikan penilaian khusus kepada semua gurunya terkait dengan hal tersebut. Sehingga kewajiban tersebut mengikat semua guru, karena terkait dengan penilaian kinerja guru oleh kepala sekolah.

Masalah ini belum banyak dilakukan oleh pihak sekolah. Sehingga di banyak sekolah, antara guru dengan orangtua siswa tidak saling mengenal. Orangtua dan guru harus meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang perkembangan siswa.

Dari diskusi-diskusi tersebut, tentu akan muncul saling kesepahaman antara orangtua dan guru. Siswa pun akan bisa mengambil pelajaran dari kedekatan hubungan antara orangtua dengan gurunya, sehingga dia akan semakin bersemangat untuk belajar.

Pemerintah juga harus memikirkan untuk mengeluarkan peraturan yang mewajibkan seorang guru untuk mengenal orangtua dari semua siswa yang diajarnya. Pengalaman menunjukkan bahwa sejumlah pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah dalam upaya meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang menginspirasi siswa belum mampu membuat siswa merasa bahagia dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Harapan adanya generasi emas di tahun 2045 seperti yang saat ini menjadi trade mark kementerian pendidikan dan kebudayaan harus bisa terwujud. Kekerasan-kekerasan dalam dunia pendidikan saat ini jangan sampai membuat harapan tersebut tinggal harapan. Adalah kewajiban kita semua untuk mengawalnya sehingga harapan tersebut kelak akan menjadi kenyataan.